Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Media Center milik panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2015 di Lantai 16 Gedung C Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta tidak fungsional.

“Baru ada orang datang hari ini, sendirian,” kata karyawan Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud Herry Koswara saat dijumpai tabloidkabarfilm.com, Senin (2/11/2015) siang.

Kehadiran Media Center dalam penyelenggaraan FFI 2015 ini seharusnya dapat memberi akses kemudahan informasi, sekaligus tempat para  wartawan peliput FFI bekerja menyebarkan kabar terbaru seputar FFI. 

Namun, fungsi Media Centre tersebut tidak berjalan. Jangankan wartawan datang ke sana, bahkan untuk mendapatkan akses pemberitaan terbaru mengenai FFI pun tidak mudah, jika tidak ingin dikatakan ‘gelap’.

Media Center FFI diresmikan tanggal 27 Oktober 2015 oleh Sekjen Kemendikbud Didi Suhardi, dihadiri oleh Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Kemala Atmojo, Ketua Panpel FFI 2015 Olga Lydia dan jajarannya, dan sejumlah wartawan.

Kehadiran media center bagi event nasional sebesar FFI merupakan hal yang wajar. Namun, menjadikannya sebagai tempat kongkow wartawan di saat event ini menyisakan waktu sebulan, sama sekali tidak strategis dan efektif. 

“Media center seharusnya bisa memangkas waktu mengirimkan hasil tulisan ke redaksi. Tapi, suasana seperti ini apa yang bisa diharapkan?” kata Herman Wijaya, wartawan dan kritikus film saat menyambangi media center FFI.

Menurut dia, fasilitas media center FFI seperti internet, kursi, meja, dan 3 komputer portable cukup ideal. Namun, akses menuju media center di lantai 16 ini dirasakan tidak home bagi awak media. 

“Wartawan membutuhkan informasi terkini terkait FFI. Kapan dan dimana penjurian pun kita tidak tahu. Bahkan, entah dimana kantor sekretariat FFI. Tidak ada satupun yang bisa dikonfirmasi untuk mempertanggungjawabkan berita yang akan ditulis di sini,” katanya.   

Media Center FFI terletak di Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud dengan luas sekitar 6 X 9 meter. Untuk mencapai pintu media center, wartawan harus melewati meja karyawan Pusbang yang bekerja.

Hari itu, di dalam ruangan ada seorang wakil dari BPI bernama Sandy. Menurut Sandy yang juga wartawan media online itu, selain untuk wartawan, ruangan itu sebenarnya disediakan untuk pihak EO, tetapi karyawan dari perusahaan pemenang tender pelaksanaan FFI itu tidak mau berkantor di situ. 

“Sayang tempat ini kalau tidak dimanfaatkan. Makanya saya datang untuk ngecek,” kata Sandy yang mengaku bukan bagian dari panitia FFI 2015.

Alih-alih menghadirkan media center agar wartawan meliput FFI 2015, namun apa daya acara resmi FFI saja membatasi wartawan untuk meliput. “Ketua dan anggota Panpelnya saja sulit dihubungi, kegiatannya sangat tertutup; apa yang bisa ditulis oleh wartawan tentang FFI 2015,” kata Herman Wijaya. 

Bagi wartawan, tidak perlu media center. Kalau memang mau mempublikasikan FFI, cukup Ketua dan anggota Panpel membuka diri kepada wartawan; mudah dihubungi bila ada yang ingin ditanyakan. "Ini media center cuma untuk genit-genitan orang film," kata Herman Wijaya. (imam)

Read 2856 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru