Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Sikap sineas terpecah dalam menyikapi kegiatan Apresiasi Film Indonesia (AFI) dan Festival Film Indonesia (FFI) yang sama-sama dibiayai oleh pemerintah.

Polemik tentang perlu tidaknya kedua event perfilman nasional tersebut diselenggarakan mulai mengemuka, sejak sebagian insan film melakukan aksi ‘menolak’ pelaksanaan Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2015.

AFI ke-4 berlangsung di Yogyakarta pada 24 Oktober 2015 berjalan mulus dan disiarkan secara tapping di INews TV. Ajang apresiasi film dengan penghargaan tertinggi berupa Piala Dewantara ini dihadiri sejumlah sineas senior dan junior.

Sebagai event berkala yang dibiayai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, AFI sempat dilaksanakan oleh Badan Perfilman Indonesia (BPI) pada tahun 2014 di Istana Maemun, Medan. 

AFI tahun 2014 didukung sepenuhnya oleh seluruh stakeholder di BPI. Puluhan artis ikut hadir menyemarakkan ajang tersebut. Di tahun yang sama, FFI yang tahun itu masih dibiayai Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga dilaksanakan oleh BPI di Palembang.

Sempat muncul wacana diungkapkan oleh aktris senior Christine Hakim, bahwa dua event tersebut merupakan pemborosan. 

“Sebaiknya kita hanya punya satu event nasional yaitu FFI,” kata Christine Hakim, saat peluncuran FFI di JS Luwansa setahun lalu. Sikap Christine tersebut tidak mendapat sambutan, dan cenderung didiamkan oleh kalangan perfilman saat itu.

 

Jadi polemik

Memasuki tahun 2015 saat terjadi proses pergantian nomenklatur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi Kementerian Pariwisata, urusan perfilman pindah ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Secara otomatis, penyelenggaraaan FFI berpindah ke Kemdikbud yang sebelumnya sudah punya ‘jagoan’ yaitu AFI.

Sampai tahap AFI 2015 akan dilaksanakan, belum ada tanda-tanda penolakan dari sejumlah sineas termasuk dari BPI. Namun, masalah anggaran pelaksanaan AFI yang tidak mencukupi, dianggap oleh BPI sebagai alasan untuk tidak berpartisipasi dan bertanggungjawab terhadap AFI.

Alhasil, BPI yang gagah perkasa muncul di AFI 2014 sama sekali tidak terlihat batang hidungnya di AFI 2015 lalu. Meskipun tidak ‘direstui’ BPI, kegiatan AFI 2015 berlangsung mulus.

Sejumlah sineas dan artis menghadiri malam puncak AFI 2015 antaranya Garin Nugroho, Roy Marten, Ray Sahetapy, Tika Bravani, Gatot Brajamusti, Indra Bekti, Reza Arthamevia, Paramitha Rusady, dan lain-lain.

Tidak hadirnya BPI dan sejumlah sineas di ajang AFI 2015 dapat menjadi indikasi sebagai bentuk protes sejumlah sineas atas AFI. Atau bisa juga karena ketidakmampuan BPI menjalankan bagian tugasnya.

Tentang kesan pemborosan dari pelaksanaan dua event perfilman tersebut, Christine Hakim tetap konsisten dengan sikapnya setahun lalu. 

“Saya konsisten dengan sikap saya, kita harusnya hanya punya satu event saja, yaitu FFI,” katanya saat ditemui di sela ajang Eagle Award ke-11 di Studio Metro TV, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (9/11/2015) malam.

Di tengah polemik tersebut, muncul wacana penempatan kedua event tersebut sesuai dengan karakternya. Menurut sumber di Kemdikbud, AFI dan FFI akan tetap diselenggarakan oleh pihak kementerian. 

Namun kegiatan FFI akan disentralisasikan khusus untuk wilayah ibukota Negara Indonesia, dan dilaksanakan hanya di Jakarta. Sedangkan AFI dilaksanakan sesuai dengan cakupannya yang lebih luas ke seluruh daerah Indonesia. (imam)

 

Read 2572 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru