Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Penganugerahan Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2015 berlangsung di Tangerang, Banten, Senin (23/11/2015) malam. Selain tercecernya pembacaan pemenang di sejumlah katagori, ada beberapa catatan dari ajang penghargaan yang dibiayai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta dilaksanakan Badan Perfilman Indonesia (BPI) tersebut.

Berikut ini beberapa catatan tentang Malam Puncak FFI 2015: 

1. Tribute to Teguh Karya yang dijadikan tema pada ajang FFI kali ini, tidak terasa kehadirannya di panggung. Dalam hal ini, panitia terlihat tidak memahami karya dan kebesaran Teguh Karya.

2. Peraih Lifetime Achievement, George Kamarullah dihadirkan tanpa penjelasan mengapa sosok berprestasi tersebut dianugerahi penghargaan. Penonton tidak paham, karena tidak ada tampilan karya George Kamarullah, serta tidak ada testament dari beberapa periode yang mengukuhkan. Seharusnya ada pernyataan dan alasan dari Dewan Kurator agar dapat menjadi pembelajaran bagi generai selanjutnya.

3. Pembawa acara, Sarah Sechan terlihat tidak fresh dengan 'baju dinas' yang terlalu banyak motif dan tidak cukup universil jika tidak disebut mengganggu blocking. Tampil di acara resmi ini, Sarah Sechan terlalu banyak bicara tentang diri sendiri yang menunjukkan lemahnya script. Make up presenter cantik ini menjadi terlalu ngejreng karena kualitas HD dimana semua tampak lebih fokus dan kuat.

4. Penampilan Chico Jericho sebagai pembawa acara seharusnya lebih dipersiapkan agar tidak terkesan pose, yang membuatnya tidak natural. Membawakan acara FFI, Chico masih terasa sedang menghapal script. 

5. Pembawa piala terlihat berat dengan kostum yang tidak appealing. Demikian pula riasan wajah dan potongan rambutnya. 

6. Pada bagian musik pengiring, tidak terasa keberadannya. Di setiap sesi tidak mendapatkan iringan yang berarti. Harmoninasi Musik dari awal sampai akhir tidak terasa permainannya, tidak klimaks. Dari sini tampaknya musik tanpa konsep, misalnya setiap hadir para presenter tidak diiringi musik sesuai katagori.

7. Yang juga ditampilkan ala kadarnya tanpa script adalah multimedia. Sama sekali tidak menjadi penanda dari setiap Katagori. Hanya menampilkan Film terkait Nominasi, sehingga tidak ada bridging pictures. Seperti, multimedia saat Tribute To Teguh Karya yang tidak berfungsi sama sekali, dan saat George Kamarullah tampil tidak didukung multimedia untuk karya-karyanya.

8. Desain panggung FFI relative datar, tidak memberikan kesan ploting yang fungsional. Bahkan, koreografi panggung tidak mendapatkan sentuhan.

9. Tata cahaya panggung mengabaikan konsep, terutama untuk menyorot presenter. Berpindahnya posisi berdiri presenter tidak didukung latar yang menarik dan lighting khusus untuk mempercantik tampilan presenter.

10. Acara hiburan musik dan penyanyi dihadirkan telalu sederhana, tidak didukung multimedia. Dalam komposisi panggung ini para penampil menjadi tampak biasa saja. Lagi-lagi peran multimedia tidak ada di sini. Saat Andien akan tampil, dari barisan penonton terlihat menunggu. Situasi ini terlihat sangat amatir dan tidak mengalir.

11. Pilihan aktor atau aktris yang membacakan Nominasi kurang terasa bobotnya

12. Kamera tidak terarah dan terjaga untuk menghasilkan setiap adegan menjadi smooth. Penonton di sekitar panggung, yang notabene para orang film dan para pekerja maupun para bintang, tidak cukup mendapatkan liputan selayaknya. Padahal jika kameraman mau lebih bekerja, hal ini akan membantu “Ambiance”  acara FFI dan kredibilitas acara ini. Tentu juga menunjukkan dukungan langsung pada para tamu.

13. Suasana auditorium terasa kosong lantaran banyak kursi yang tidak terisi undangan. Hal ini tidak segera ditangani, dengan kesadaran bahwa”image” kosong, memberikan kesan tidak ada peminat atau acara tersebut tidak cukup mendapatkan apresiasi.

14. Pemotongan durasi ketika masuknya iklan, tidak berkoordinasi dengan acara pembacaan nominasi sehingga pembacaan nominasi atau acara terpotong secara mendadak. 

15. Secara keseluruhan penampilan panggung malam puncak FFI 2015 tidak didukung konsep yang jelas, dalam mengusung Tema “Tribute To Teguh Karya”. Situasi ini menjelaskan minimnya wawasan tim penyelenggara. Tidak adanya ‘art director’ tidak memberi bungkusan yang baik dimana Banten sebagai tempat diselenggarakannya acara, sama sekali tidak dimanfaatkan sebagai sebuah komoditas yang dapat membedakan dengan penyelenggaraan di daerah lainnya. Ini memberi kesan tidak ada koordinasi antara panitia acara, panitia FFI, pihak Pemda Banten, dan pihak televisi.

16. Dress code undangan dianjurkan berkostum Tuxedo atau Black Tie dan Evening Gown sama sekali tidak menyesuaikan dengan kesadaran bahwa pada saat ini Indonesia sedang euphoria pada kemampuan produk dalam negeri. Seluruh atribut itu tidak sesuai dengan kesadaran kekayaan nusantara yang sangat tidak terbatas, juga pengakuan dunia akan hal ini, terutama slogan”Bangga produk Indonesia” dan “Bangga Film Indonesia.” Dalam hal ini, kekayaan Indonesia, belum sanggup menimbulkan rasa bangga dari masyarakatnya Film Indonesia.

Pada saat dibutuhkannya identitas di  era  globalisasi ternyata masyarakat film Indonesia tidak menggunakan beribu Identitas Nusantara tersebut, namun berlindung dibalik identitas bangsa lain yang tidak cukup dipahami apalagi dijiwai, sehingga  terlihat banyak insan film yang canggung, kedodoran dan tidak menjiwai apa yangmereka kenakan. (imam)

Last modified on Wednesday, 25 November 2015
Read 3171 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru