Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Sosialisasi Lembaga Sensor Film (LSF) di daerah berlanjut di Kota Kendari, Sulawesi Selatan. Minimal setahun ada 12 daerah yang akan menjadi ajang diskusi LSF dengan masyarakat.

“Semua daerah di Indonesia seharusnya kami sambangi dalam upaya membangun kesamaan persepsi fungsi film dan tugas LSF. Tetapi, ini semua tergantung kesiapan anggaran yang ada,”  kata Ketua LSF, Ahmad Yani Basuki kepada tabloidkabarfilm.com di Kendari, Sulawesi Selatan, Selasa (24/5/2016).

Menurut Ahmad Yani, LSF merupakan produk Undang-Undang untuk melindungi masyarakat dari pemahaman yang salah dan membahayakan dari film dan produk turunananya.

“LSF tetap berada di tengah antara dua kepentingan masyarakat, baik yang pro maupun kontra terhadap sensor,” katanya.

Sikap pro dan kontra terhadap LSF bukan hal baru, namun harus tetap diupayakan agar tidak terjadi kegaduhan. 

“Penonton dan pembuat film harus bisa sama-sama memahami tentang peran film dan tugas LSF, agar tidak muncul kegaduhan akibat dari sebuah film. Dalam hal ini, LSF berkepentingan menjaga konteks dan konten film,” jelas Ahmad Yani.

 

Film festival tak perlu sensor

Terkait kemenangan sejumlah film Indonesia yang tidak melalui proses sensor di LSF dan menang di festival luar negeri, menurut Ahmad Yani hal itu merupakan sistem yang diberlakukan di luar negeri.

“Tetapi, ketika film pemenang festival itu mau diputar di tempat umum di Indonesia, tetap harus disensor LSF. Karena Undang-Undang mengatur seperti itu. Sebagai warga negara, menaati Undang-Undang kan juga sebuah kebanggaan,” katanya.

Dia mencontohkan film Siti, yang menang di festival luar negeri. “Film Siti ketika disertakan ke festival di luar negeri memang tidak disensor. Tetapi, ketika mau diputar di bioskop Indonesia ya harus lewat LSF,” ujarnya.

LSF sedang mempersiapkan kegiatan diskusi sebagai bagian sosialisasi di kota Kendari, Sulawesi Selatan pada Rabu (25/5/2016) pagi. Acara dijadwalkan di Hotel Grand Clarion dihadiri sejumlah komunitas dengan narasumber anggota LSF, antaranya Mukhlis PaEni, Syamsul Lussa, dan Ahmad Yani Basuki.

Sementara itu usai kemenangan film Prenjak karya mahasiwa Institut Kesenian Jakarta Wregas Bhanuteja di Festival Film Cannes, akan digelar pemutaran dan diskusi film Prenjak, Lemantun, Lembusura, Senyawa, dan Floating Chopin di FFTV IKJ, pada Sabtu, 28 Mei 2016. Gratis. (imam)

 

Read 3479 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru