Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Profesor Tanete Pong Masak (63) mendapat predikat sebagai sejarahwan baru perfilman Indonesia saat bukunya, Sinema pada Masa Soekarno diluncurkan di kampus FFTV-IKJ, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (25/6/2016).

Buku setebal 468 halaman dengan sampul depan bergambar Presiden Soekarno dan Marilyn Monre ini cukup menarik perhatian. Tanete Pong menjelaskan cerita sampul tersebut di bagian awal buku.

Sempat kuliah dan mengajar di Paris selama 13 tahun buku Sinema pada Masa Soerkarno ini merupakan hasil disertasi Tanete Pong Masak, yang dibukukan oleh penerbit FFTV-IKJ Press. Setelah empat tahun masa persiapan, buku ke-39 FFTV-IKJ Press ini pun diluncurkan.

Proses pengerjaan buku dilakukan oleh tim terdiri dari Jimmy Ph Paat (penerjemah), Ninus Andarnuswari, JB Kristanto dan Seno Gumira Ajidarma (editing). 

Di dalam buku ini sarat foto-foto adegan film dan peristiwa dunia film pada masa-masa lalu, yang seperti dikatakan Tanete, dirinya dibantu banyak orang dan berbagai buku sebegai referensi. Dia menyebut nama Misbach Yusa Biran dan SM Ardan, dua serangkai Kepala dan Wakil Sinematek Indonesia.

Kehadiran buku ini berkaitan dengan HUT Institut Kesenian Jakarta ke-46 pada 26 Juni 2016, kelahiran FFTV-IKJ Press ke-10, dan pemecahan rekor jumlah halaman paling banyak yang pernah diterbitkan. 

 

Soekarno dan Marilyn Monroe

Foto sampul buku bergambar Presiden Soekarno dan Marilyn Monroe pada tahun 1956, dijelaskan oleh Tanete Pong Mesak sebagai berikut:

Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901. Dia adalah pencinta film Amerika sejak dini. Dalam autobiografi Soekarno yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Soekarno, An Autobiography as told Cindy Adams. The Bopps and Merril Company Inc, New York, 1965, Alih Bahasa: Abdul Bar Halim, CV Mas Agung, cetakan ke-5  PT Air Agung Putra Jakarta, 1988), ketika masih anak-anak, umur 7 tahun, Soekarno sudah menjadi seorang sinefil film Amerika. Dia menonton antara lain, film-film Mary Pickford, Tom Mix, Eddy Polo, Fatty arbuckle, Beverly Baine, dan Francis X, Bushman. 

Sebagai Presiden Indonesia, saat mengadakan kunjungan resmi yang pertama ke Amerika Serikat, secara khusus datang ke Hollywood. Dalam pidatonya, Soekarno memuji para pemimpin Hollywood. Dia menyebut mereka sebagai orang radikal dan revolusioner yang telah mempercepat perkembangan politik di Timur denan menonton film-film Amerika. 

Orang Asia dan Afrika menyadari bahwa mereka tidak memiliki mobil, kulkas, dan alat-alat masak listrik; sebaliknya, hampir setiap keluarga Amerika seperti yang dipantulkan dalam film-film Hollywood.

Malamnya, Soekarno dan Marilyn Monroe yang masa itu sedang shooting untuk filmnya The Bus Stop (1956), menyelinap pergi sebelum acara resmi selesai. Mereka pergi menginap di Beverly Hill Hotel.

Suatu saat, Marilyn diinterview wartawan dan sempat ditanya tentang Presiden Soekarno, dia menjawab sambil tersenyum, “Oh, Prince Soekarno!” Ketika hubungan Indonesia dan Amerika semakin memburuk, CIA merasa bahwa hal ini mungkin dapat diperbaiki dengan mempertemukan mereka berdua, dan – bahkan – kalau bisa mengawinkan Soekarno dan Marilyn Monroe.

Mungkin karena waktu itu dia sudah pacaran dengan Presiden Amerika John F Kennedy dan adiknya, Jaksa Agung Robert Francis Kennedy (Anthony Summers; Goddes the Secret Lives of Marilyn Monroe, Sphere Books Limited, Edisi I, 1985; Edisi II, 1986, hal. 621). (imam)

Last modified on Sunday, 26 June 2016
Read 4200 times
Rate this item
(1 Vote)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru