Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Usia sensor film di Indonesia sudah lebih dari 100 tahun (satu abad). Sensor film adalah warisan pemerintah Hindia Belanda melalui Film Ordononntie 1916, Staatblad van Nederland, bernomor 276 tanggal 18 Maret 1916.

Lembaga Sensor Film (LSF) pembawa risalah sejarah sensor mutakhir melakukan pencatatan sejarah perjalanan 100 tahun sensor di Indonesia. Hal itu ditandai dengan  menggelar seremonial peluncuran buku berjudul Bunga Rampai 100 Tahun Sensor Film di Indonesia Memasuki Abad Kedua.

Acara puncak peringatan 100 tahun Sensor Film berlangsung di Gedung Pesona Indonesia (eks Gedung Film), Jl MT Haryono, Kavling 47-48, Jakarta Selata, Jumat (18/11/2016) malam. Sebelumnya, LSF mengadakan sosialisasi dan lomba penulisan sensor khusus para blogger.

Hadir dalam acara tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, anggota dan komisioner LSF, dan masyarakat perfilman seperti Gope Samtani dan Sunil Samtani produser PT Rapi Films.

Dalam sambutannya, Mendikbud mengimbau LSF dan segenap pemangku kepentingan yang terlibat dalam penyelenggaran sensor untuk mewujudkan film sebagai hiburan dan pendidikan.

“Atas nama pemerintah saya sampaikan ucapan selamat dan terimakasih kepada para pemangku kepentingan penyelenggara sensor film Indonesia yang telah memberikan andil dalam perkembangan film Indonesia. Mari kita wujudkan film sebagai sarana menyampaikan pesan pendidikan,” kata Mendikbud Muhadjir.

Dia menjelaskan, puncak peringatan 100 Tahun Sensor Film tahun ini mengangkat tema “Sensor Mandiri Wujud Kepribadian Bangsa”. Tema tersebut sangat relevan dengan nuansa pemberdayaan semua pemangku kepentingan perfilman.

“Film berkaitan erat dengan imajinasi, dan ini harus dapat diekspresikan dalam media yang dapat ditampilkan secara apik. Melalui imajinasi ini perlu ditekankan nilai-nilai luhur. Dengan nilai ini imajinasi dapat lebih terarah,” harap Mendikbud.

Banyak tokoh bangsa pernah menjadi anggota LSF, seperti di tahun 1946 LSF yang masih bernama Komisi Pemeriksa Film itu, ada Ali Sastroamidjojo, Ki Hadjar Dewantara, Mr. Soebagio, RM. Soetarto, Anjar Asamara, Djajeng Asmara, dan Rooseno. 

“Sekarang LSF berada di sini meneruskan dan mengisi apa yang telah diperjuangkan para tokoh bangsa itu,” ujarnya.

Pergantian dari masa Pemerintahan Hindia Belanda ke pemerintahan pendudukan Jepang tahun 1942-1945 diikuti dengan perubahan arah kebijakan sensor. Sejak masa pemerintahan pendudukan Jepang, berlanjut terjadi perubahan masa peralihan 1945-1950, masa pengawasan film pada tahun 1950-1966, dan masa sensor film pada tahun 1966-1992. 

Sedangkan masa Badan Sensor Fim pada tahun 1966-1992, dan masa LSF mulai tahun 1992 sampai dengan saat ini.

 

Melindungi penonton

Sementara itu, Ketua LSF Ahmad Yani Basuki mengatakan, kehadiran LSF sebagai pengemban peraturan perundang-undangan, dan sebagai wujud komitmen kehadiran negara dalam melindungi masyarakat dari pengaruh negatif film. 

“Selain itu juga, menjalankan tugas sensor film dan menetapkan klasifikasi batas umur bagi penonton film, “ ungkap Ahmad Yani.

Dia menjelaskan tugas LSF yang sedang dijalankan saat ini adalah mengintensifkan kegiatan sosial dan memberdayakan sensor mandiri. 

“Kita juga mengintensifkan dialog dengan para produser, penulis skenario dan masyarakat perfilman dalam rangka meningkatkan produktivitas film yang berbasis budaya bangsa dengan mengangkat tema bernuansa Indonesia,“ jelasnya.

LSF juga membangun perwakilan di daerah untuk mempercepat proses sensor, guna memastikan film-film yang berbasis budaya daerah dan bermuatan kearifan lokal dapat disensor oleh LSF daerah, sehingga akan benar-benar terjaga nilai budaya dan kearifan lokal. 

Pada kesempatan ini LSF mengajak semua pihak untuk bisa berperan serta dalam program sosialisasi budaya sensor mandiri.

 

Strategi komunikasi

Buku Bunga Rampai 100 Tahun Sensor Film di Indonesia Memasuki Abad Kedua digarap bersama anggota dan komisioner LSF denga telal 284 halaman dan dicetak apik. Desain dan tata letak buku cukup “nyaman” untuk mata menikmatinya. Pada halaman sampul muka bergambar “Jam pasir” dengan latar belakang hitam.

Dyah Chitraria Liestyati selaku penanggungjawab buku mengatakan, sebagian dari materi yang disajikan dalah resume dari beberapa kali diskusi panel, dengan tema dan narasumber berbeda, yang diadakan LSF beberapa bulan sebelumnya.

“Dari serangkaian diskusi itu, ditemukan akar permasalahan, yaitu tidak adanya strategi komunikasi yang efektif yang idealnya dilakukan oleh pemangku kepentingan. LSF dapat mengambil peran dengan menghadirkan buku ini,” kata Dyah.

Namun, hasil diskusi teresebut masih dilanjutkan dengan wawancara secara simultan dengan para pemangku kepentingan. “Meski belum berhasil merumuskan seluruh gagasan pemangku kepentingan, paling tidak di tahap awal eksekusi paradigma baru ini ada kisi-kisi yang siap diimplementasikan,” jelasnya.

Buku ini berisi kilas balik tentang sejarah sensor film, termasuk foto-foto bangunan gedung bisokop, dan aktifitas produksi film dari masa kemasa, untuk memperkaya ilustrasi. Namun beberapa hal masih perlu diralat, terutama teks foto (Prof Dr Arif Rahman) tertulis Jimly Asshidiqie) di halaman 42. (imam)

 

Last modified on Monday, 21 November 2016
Read 2174 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru