Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Sejumlah asosiasi perfilman mendatangi Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta, Rabu (30/11/2016). Mereka memberi masukan seputar Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang akan menggelar musyawarah besar pada Februari 2017.

Pimpinan dan perwakilan asosiasi yang sebagian besar anggota BPI diterima oleh Kapusbangfilm Maman Wijaya di ruang VIP, lantai 3 Gedung A Kemdikbud. 

“Pertemuan ini pintu masuk bagi saya untuk lebih mengenal asosiasi dan mereka yang selama ini berjasa di perfilman,” kata Maman Wijaya di hadapan 30an utusan dari berbagai asosiasi tersebut.

Secara umum perwakilan asosiasi mempersoalkan kinerja BPI selama tiga tahun terakhir, dan mekanisme penyelenggaraan kegiatan yang menggunakan dana APBN terutama dalam pelaksanaan Festival Film Indonesia (FFI), dan Apresiasi Film Indonesia (AFI). 

“Bahwa Pusbangfilm bertanggungjawab terhadap pemberian dana fasilitasi BPI, dan laporan penggunaan dana itu pasti akan dibuat rapih, tetapi juga harus transparan dan akuntabel kepada siapa dan untuk apa saja,” kata Akhlis Suryapati, Ketua Sekretariat Kine Klub Indonesia (Senakki) sekaligus moderator acara diskusi.

Menurut Akhlis, Senakki merupakan anggota BPI yang ikut dalam mubes pertama. “Tapi, selama tiga tahun berdirinya BPI, baru dua kali Senakki mendapat surat resmi BPI. Pertama surat permohonan jadi juri FFI 2016, dan kedua surat agar Senakki memverifikasi organisasi ke panitia Mubes BPI,” katanya.

Ketua Persatuan Usaha Pertunjukan Film Keliling Indonesia (Perfiki) Sonny Pudjisasono mengatakan, permintaan verifikasi organisasi oleh BPI itu sangat melampaui tugas. “BPI tidak punya hak memverifikasi keabsahan organisasi yang sudah puluhan tahun berdiri. Justru kami yang lebih dulu lahir, berhak memverifikasi BPI,” kata Sony Pudjisasono.

Pertemuan selama lebih dari tiga jam antara asosiasi dan Kapusbangfilm cukup demokratis, kritis serta sesekali diwarnai guyon.

Misalnya, Katua Yayasan Karya Cipta Muda Arcadia, Sudibyo JS yang mengungkapkan, BPI tidak selalu dipersalahkan atau dikucilkan. “Kita harus mendorong BPI supaya lebih baik dan sempurna di masa yang akan datang, tidak perlu diubah apalagi sampai harus dibuat BPI yang baru,” katanya.

Sedangkan Adisurya Abdi selaku Kepala Sinematek juga mengingatkan, siapapun sekarang ini bisa membentuk lembaga semacam BPI. “Kalau kita mau bikin BPI sekarang di ruang ini juga bisa. Tapi, yang menguatkan BPI adalah adanya Perpres. Apa kalau kita bikin BPI akan punya Perpres?,” katanya.

Sejumlah perwakilan yang hadir antaranya dari Senakki, Sinematek Indonesia, Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia, Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), Persatuan Perusahaan Film Keliling Indonesia, Patriot Film Indonesia, Asosiasi Rekaman Video Indonesia/Asirevi), Komunitas Cinta Film Indonesia, Dapur Teater dan Film, Asosiasi TV-Link, Forum Pewarta Film, dan lain-lain. 

Pengurus BPI non aktif Rully Sofyan dari Asosiasi Rekaman Video Indonesia mengatakan, dirinya sudah menyatakan non aktif sejak setahun lalu.  

“Saya ingin meluruskan, bahwa di dalam AD/ART BPI tidak ada istilah Mubes setelah Mubes pertama. Yang ada adalah Paripurna. Kalau tetap diadakan Mubes, itu tidak sah dan bisa memicu masalah,” katanya.

Acara yang diawali dengan presentasi seputar sistem dan program kerja Pusbangfilm tersebut, intinya adalah asosiasi memberikan masukan seputar persoalan BPI kepada Pusbangfilm yang membawahi lembaga tersebut. 

Usai menerima berbagai masukan dan pertanyaan dari asosiasi, Kapusbangfilm Maman Wijaya berjanji akan berbicara dengan pengurus BPI.  

“Dalam satu-dua hari nanti, saya akan membicarakan dan mengkonfirmasikan hal yang disampaikan dalam pertemuan ini dengan ibu Dewi Umaya selaku Ketua Panitia Pelaksana Mubes BPI,” katanya. 

Maman juga mengatakan FGD (Forum Group Discussion) dalam rangka Mubes BPI akan tetap berlangsung sesuai rencana. “Karena FGD belum masuk dalam teknis Mubes, maka akan tetap dilaksanakan,” katanya.

Seperti diketahui, BPI dibentuk tahun 2013 oleh 40an asosiasi (stakeholder) dari berbagai profesi perfilman. Dalam kepengurusan BPI periode 2013-2016, terpilih 9 orang yang diketuai Alex Komang. Sejak Alex Komang meninggal, posisinya diganti oleh Kemala Atmojo sampai hari ini. (imam)

Last modified on Saturday, 17 December 2016
Read 2029 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru