Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Menjadi pejabat publik tidak menghalangi Gubernur Banten, H Rano Karno membuat film. “Tidak ada larangan. Kalau bang Deddy Mizwar jadi bintang iklan, saya bikin film yang dirancang sudah lama,” kata Rano Karno di Kopi Kalyan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (21/12/2016).

Rano Karno menyebut koleganya sesama ‘orang film’ yang juga Wakil Gubernur Jawa Barat tersebut di acara press junket film The Last Barongsai produksi Karnos Film.

Menurut Rano, sudah lama dirinya terobsesi menyelesaikan film berlatar budaya Tionghoa tersebut. “Persiapan produksinya dua tahun, sementara gagasan film ini muncul jauh sebelumnya. Jadi, film ini memang dipersiapkan dengan sangat matang agar hasilnya benar-benar maksimal,” katanya.

Seperti serial Si Doel Anak Sekolahan yang mengangkat budaya Betawi, The Last Barongsai pun mengangkat kebudayaan yakni budaya masyarakat Tionghoa atau Cina di kawasan Tangerang dan Banten.

“Cerita The Last Barongsai sangat dekat dengan masyarakat terutama di Tangerang dan Banten. Satu-satunya propinsi di Indonesia yang tidak punya museum ya, Banten. Padahal daerah ini memiliki cerita yang sangat bersejarah,” ujar Rano. Tampaknya, Rano ingin ‘memuseumkan’ budaya barongsai tersebut melalui filmnya. 

“Saya estimasikan sejak lama, bahwa barongsai sebagai budaya etnis Cina Benteng di Tangerang dan Banten ini akan punah. Dulu, saya masih menjadi ghost writter waktu menggagas film tahun 2006,” ungkap pemeran film Gita Cinta dari SMA,  Galih dan Ratna dan lain-lain. 

Sejumlah pemain di film kolosal garapan sutradara Ario Rubbik (pernah menyutradarai Satu Jam Saja/2010, Hijabers in Love/2014), antaranya Tyo Pakusadewo, Dion Wiyoko, Aziz Gagap, Furry Citra, Vinessa Inez, termasuk Rano Karno sendiri.

Bagi  Ario Rubbik, The Last Barongsai merupakan film yang unik karena panjang perjalanannya. “Film ini sangat panjang prosesnya. Tahun 2006 saya sudah lakukan riset, menginap di sejumlah daerah dan komunitas Tionghoa bersama Titien Watimena,” ungkap Ario, menyebut nama penulis cerita film tersebut.

The Last Barongsai berkisah tentang terhimpitnya tradisi budaya barongsai, yang dilakoni Kho Huan (Tyo Pakusadewo). Suatu hari ada undangan kejuaraan barongsai yang dia terimanya setiap tahun. Namun tidak sedikitpun Kho Huan tertarik untuk membacanya.

Sementara Aguan, anak Kho Huan terpaku membaca surat pemberitahuan bahwa permohonannya untuk mendapat beasiswa di Nanyang University Singapore diluluskan. Aguan sangat girang namun dia tercekat saat mengatehui deadline tanggal daftar ulang.

Kho Huan berfikir keras agar anak lelaki satu-satunya itu bisa sekolah ke Singapore dan menjemput impiannya. Ia melupakan surat undangan kejuaraan barongsai yang kini tergeletak di dalam laci.

Wajah Aguan murung. Ia berfikir tentang apa yang akan terjadi pada sanggar Barongsai yang dipimpin Kho Huan ayahnya, jika dia ke Singapore. Apa yang terjadi selanjutnya, apakah Aguan mengejar cita-cita ke Singapore?

Jika penasaran, silakan nantikan kisah lengkapnya di film The Last Barongsai, yang siap tayang di bioskop pada 26 Januari 2017. (imam)

 

Last modified on Saturday, 24 December 2016
Read 2721 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru