Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Ketika dunia belum mengenal jam sebagai penunjuk waktu, manusia punya cara alamiah dengan melihat pergerakan matahari dan bulan. Di zaman Nabi Muhammad SAW ketika turun perintah solat lima waktu, matahari dan bulan digunakan sebagai penunjuk waktu. Ketika menentukan datangnya bulan Ramadhan, umat Islam melihat hilal di langit.

Sejak lama umat Islam mempelajari ilmu astronomi. Kini, dibantu teropong besar manusia dapat melihat dinamika planet di luar bumi. Salah satu teropong benda langit yang terkenal di Indonesia bahkan di Asia adalah yang ada di Lembang, Bandung, teropong Bosscha.

Iqro adalah bahasa Arab yang artinya baca. Iqro terdapat di dalam Alquran surat Al-Alaq, sebuah perintah untuk membaca. Membaca ayat-ayat Allah yang ada di bumi dan alam semesta, termasuk di luar angkasa.

Film Iqro, Petualangan Meraih Bintang merupakan produksi perdana Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Salman Film Academy. Disutradarai oleh Iqbal Alfajari, film ini menjadi sebuah tontonan yang memberi ajaran cara ‘membaca’ ayat-ayat Allah dalam surat Al-Alaq dengan cara menyenangkan.

Adalah Aqila diperankan oleh Aisha Nurra Datau, yang di dalam film menjadi murid sekolah SD. Dia sangat menyukai pelajaran tata surya. Suatu kali, Aqila  bertekad memberi penjelasan kepada teman-teman dan gurunya, bahwa Pluto bukanlah planet seperti yang selama ini ditulis di dalam buku pelajaran sekolah.

Menjelang liburan panjang, gurunya memberi tugas kepada seluruh murid, untuk membuat laporan kegiatan selama liburan.  Aqila pun berencana membuat ‘riset’ tentang planet Pluto ketika berlibur di rumah kakek-neneknya di Lembang, Bandung.

Opa Wibowo (Cok Simbara) adalah kakeknya Aqila, seorang profesor astronomi yang bekerja di Bosscha. Selama puluhan tahun bekerja di sana, Opa Wibowo harus menghadapi kenyataan pahit; Bosscha akan ditutup akibat dari rencana pembangunan hotel di sekitar tempat teropong bintang bersejarah itu berdiri.

Sejak hari pertama liburan di Lembang, Aqila penasaran ingin melihat Pluto dengan teropong utama di Bosscha. Dia merajuk Opa Wibowo, yang berjanji akan memenuhi permintaan tersebut dengan syarat: Aqila harus bisa mengaji Alquran.

Dengan tekadnya agar bisa membaca Alquran, Aqila mengikuti kegiatan pesantren kilat dan lomba Iqro dekat rumah sang kakek. Dia  merampungkan bacaan dasar (Iqro 6) hingga dapat membaca Alquran.  

Ketika Aqila bisa membaca Alquran, nasib teropong Bosscha justru di ujung tanduk. Donatur Bosscha menghentikan bantuan dana operasional, sehingga Opa Wibowo harus berhenti sebagai astronom; meneliti langit setiap malam. 

Sementara, pengusaha hotel mengerahkan preman, diantaranya bang Codet (Mike Lucock) untuk meneror. Meski berwajah sangar, bang Codet mudah tersentuh hatinya. Dia menolak melanjutkan ‘proyek teror’ pesanan pengusaha hotel, dengan alasan tidak tega pada Pak Wibowo yang baik.

Saat genting itulah datang surat dari otoritas wilayah Lembang, bahwa pembangunan hotel di dekat Bosscha dibatalkan. Pembangunan hotel dikhawatirkan mengganggu proses penelitian di Bosscha; polusi cahaya.

Liburan sekolah Aqila menjadi sangat berarti. Dia dapat menyelesaikan belajar Iqro sekaligus dapat meneropong Pluto.

Keseluruhan film seperti diakui sutradara Iqbal Fajri terinspirasi dari film “Petualangan Sherina” garapan Riri Riza. Film “Iqro” sangat menghibur dengan pesan ringan yang tidak menggurui. 

Penggambaran planet di ruang angkasa sebenarnya bisa digambarkan lebih banyak, mengingat fokus film ini adalah anak-anak. Namun demikian, drama yang dihadirkan tidak kekurangan magnetnya untuk penonton.

Film layar lebar pertama dari seorang sutradara yang selama 15 tahun berkutat di film pendek dan dokumenter ini, kualitasnya setara film-film garapan  sutradara film berpengalaman.

Cerita film semakin menarik dengan hadirnya pemain anak-anak berbakat Aisha Nurra Datau (anak pasangan Sha Ine Febriyanti dan Yudi Datau). Selaian itu, akting natural Mike Lucock dan Merriam Bellina tak kalah menyedot perhatian.

Di akhir film, Neno Warisman yang di film ini berperan sebagai nenek, membaca puisi secara naratif. Pesan film ini, belajar agama bisa dilakukan dengan cara lebih menyenangkan. (imam)

Last modified on Monday, 23 January 2017
Read 2677 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru