Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Hari film Nasional tanggal 30 Maret tidak bisa dilepaskan dari sosok Usmar Ismail seorang pejuang, seniman, wartawan dan sekaligus sutradara. Pengambilan gambar pertama karya Usmar, film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi pada 30 Maret 1950 menjadi tonggak kebangkitan film nasional yang dinilai sebagai karya lokal pertama bercirikan Indonesia.

Keppres Nomor 25 Tahun 1999 menyatakan tanggal 30 Maret 1950 merupakan hari bersejarah bagi Perfilm Indonesia karena pertama kalinya film cerita dibuat oleh orang dan perusahaan Indonesia. 

Dalam upaya meningkatkan kepercayaan diri, motivasi para insan film Indonesia serta untuk meningkatkan prestasi, dipandang perlu menetapkan tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional.

Berkaitan dengan peringatan HFN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Perfilman Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif, Perum Perusahaan Film Negara, serta beberapa mitra pendukung akan mengadakan HFN sepanjang Maret 2017. 

Lasya F Susatyo selaku Ketua Panitia Pelaksana HFN 2017 mengatakan, beberapa acara telah disiapkan mulai dari pemutaran film di komunitas dan bioskop keliling, workshop pengembangan perfilman, diskusi film dan sastra, serta Film Project Expo.

Puncak acara HFN 2017 akan dimeriahkan Film & Art Celebration pada 30 Maret hingga 1 April 2017. Melalui tema “Merayakan Keberagaman Indonesia” yang diusung, Ketua Badan Perfilman Indonesia Chand Parwez mengungkapkan bahwa HFN merupakan peringatan yang cukup bersejarah. 

“Momen ini cukup strategis untuk membangkitkan kembali film-film Indonesia. Membawa keragaman itu adalah sesuatu yang menarik,” ujar Chand Parwez pada jumpa pers HFN 2017 di Komplek Kemendikbud, Jakarta Selatan, Senin (6/3/2017).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang menjadi induk masyarakat film, memutar otak untuk terus meningkatkan dan mengembangkan perfilman Indonesia. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Muhadjir Effendy, MAP, yang hadir dalam jumpa pers mengatakan, satu sisi kita konsentrasi pada peningkatan kualitas produk perfilman, tapi disisi lain kita lengah mendorong apreasiasi masyarakat penontonnya. 

Salah satu cara yang dipilih adalah dengan meliterasi perfilman kepada masyarakat, khususnya anak-anak yang masih duduk di bangku pendidikan.

Apa yang dikemukakan Mendikbud ini memang sangat menarik, masyarakat film selalu terjebak pada pola menjaga kualitas pelaku dan produknya, tapi hanya sedikit yang bicara penikmat atau penontonnya. 

Ia menambahkan ada tiga hal yang harus lebih ditekankan lagi, yakni etika, estetika, dan kinestetika. Ketiga hal ini harus disandingkan dengan baca, tulis, dan hitung. Jika diterapkan dengan baik, ketiga hal tersebut akan membuat masyarakat lebih mencintai perfilman nasional.

“Meliterasi anak-anak dengan tiga hal tersebut agar jiwa seni dan rasa keindahan tumbuh pada anak-anak dan salah satu instrumen yang tepat adalah dengan film,” kata Muhadjir.

Menteri berharap masyarakat perfilman hadir di sekolah-sekolah untuk melakukan literasi lewat workshop atau pendidikan untuk memberikan pemahaman dan memelekan dunia perfilman nasional. 

“Hal ini sangat penting, karena mereka adalah generasi yang akan memberikan kontribusi perkembangan industri film itu sendiri,” ujar Menteri  Muhadjir.

Meski menyadari bahwa ini merupakan investasi jangka panjang, Muhadjir yakin buah yang akan dipetik kelak akan berdampak besar pada industri perfilman nasional. Setidaknya, anak-anak yang telah dibentuk karakternya sejak dini akan menjadi penonton yang lebih menghargai karya-karya seni, terlebih film. (imam)

 

Last modified on Wednesday, 08 March 2017
Read 1281 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru