Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Integrated Box Office System (IBOS) akan dipakai untuk mendata jumlah penonton film di Indonesia. Dukungan dan penolakan terhadap wacana IBOS pun menjadi polemik.

“IBOS tidak akan menelanjangi film kita, justru bisa menjadi parameter  bagi produser atau orang profesi seperti saya untuk membuat film,” kata Hanung Bramantyo kepada tabloidkabarfilm.com di Djakarta Theater, Selasa (21/3/2017).

Menurutnya, IBOS penting bagi kalangan produser. “Saya bisa tahu (jumlah penonton) Avengers dari IBOS yang jumlahnya ternyata hanya 3,9 juta. Sementara yang digembor-gemborkan 7 juta,” kata Hanung yang mencari sendiri sistem itu di internet.

Hanung juga memantau penonton film-film box office lainya. “Saya jadi tahu harus membuat (film) seperti apa?”  kata sutradara yang juga pemilik rumah produksi Dapur Film ini.

Pentingnya sistem IBOS akan memberi pilihan kepada produser ketika akan membuat film. “Kita bisa membuat film dengan parameter bukan film Indonesia. Kalau parameternya (film) Indonesia, tentu pakai film Warkop dong. Kan, tidak begitu,” jelas Hanung. Warkop DKI Reborn adalah film Indonesia dengan jumlah penonton tertinggi saat ini, yaitu sekitar 7 Juta penonton.

Bahkan ketika membuat film Kartini bersama Robert Ronny dari Legacy Pictures, Hanung harus mencari role-model film box office dari luar negeri. “Saya membuat film Kartini, role model-nya siapa? Masak film Soegija, Tjokro atau film saya sendiri? Parameternya ya, Lincoln," ujarnya. 

Namun, Hanung menegaskan sistem pendataan penonton film yang dipakai Indonesia saat ini sudah tepat, karena menerapkan data per minggu. 

“Sistem IBOS di Korea menggunakan sistem data real-time. Artinya, jumlah penonton terdata per jam per hari per lokasi. Sistem seperti ini kalau diterapkan di Indonesia bisa menimbulkan chaos,” katanya.

Mengapa bisa chaos? Karena akan muncul  permintaan dari banyak produser untuk mendapat jadwal tayang di bioskop yang banyak penontonnya pada hari itu juga.

“Misalnya di Cijantung film Ayat Ayat Cinta jumlah penontonnya pada jam pertama full dan datanya langsung terpublikasi, ini akan memancing produser film lainnya minta film mereka diputar di sana hari itu juga. Ini kan bisa jadi persoalan,” jelasnya.

Mengingat laporan pendataan jumlah penonton di Indonesia sudah menjadi domain pemerintah, menurut Hanung tidak bisa sistem IBOS Korea dipakai di Indonesia. 

“Karena untuk data penonton film per hari itu menyangkut rahasia negara kita,” tegasnya. 

Sementara itu, sutradara Garin Nugroho mengatakan sebaiknya persoalan kebijakan data penonton film sistem IBOS diserahkan kepada lembaga Badan Perfilman Indonesia.

“Soal IBOS sebaiknya diurus oleh BPI, karena lembaga tersebut terdiri dari orang-orang yang bergerak di industri film. Kehadian BPI adalah untuk memberi jawaban bagi persoalan masyarakat film di Indonesia,” kata Garin Nugroho menjawab tabloidkabarfilm.com di Plaza XXI, Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (20/3/2017). 

 

Aprofi mendukung IBOS

Sementara itu, wadah organisasi profesi produser Aprofi dalam siaran pers yang dkirim ke redaksi tabloidkabarfilm.com, Rabu (22/3/2017) menjelaskan wacana IBOS yang dikaitkan dengan rencana hibah senilai USD 5,5 juta dari Korea International Cooperation Agency (Koica) kepada Badan Ekonomi Kreatif.

Munculnya penolakan sistem IBOS ditanggapi oleh Ketua Umum Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) Fauzan Zidni  yang berpendapat, bahwa semua pihak sebaiknya menunggu rampungnya regulasi teknis tentang tata niaga perfilman yang saat ini masih dibahas oleh Kemendikbud.

“Kalau mengacu Pasal 33 UU No 33 tentang Perfilman sudah diatur secara jelas, eksibitor wajib melaporkan kepada menteri yang mengurus kebudayaan setiap judul film yang dipertunjukan dan Menteri wajib mengumumkan kepada masyarakat secara berkala jumlah penonton setiap judul film yang dipertunjukan di bioskop,” katanya. 

“Hal tersebut merupakan amanat Undang-Undang, yang mekanismenya belum diatur,” kata Fauzan yang menaungi 40 produser film Indonesia.

Menurutnya, mekanisme online dan real time IBOS menjamin keakuratan dan transparansi data pasar bagi semua pemangku kepentingan perfilman yang harus didukung. 

“Bagi kami terserah mau menggunakan dana hibah atau didanai sendiri oleh APBN kalau memang dana asal korea yang dipermasalahkan,” katanya.

Fauzan mengatakan bahwa IBOS bisa menjadi instrumen penting bagi pemerintah dalam membangun transparansi industri film serta mengambil kebijakan berbasiskan data, mengenai evaluasi pembagian jam tayang untuk film lokal dan film asing seperti yang diatur oleh Pasal 32 UU Perfilman.

“Perlu diatur mana data yang bisa diakses publik, mana data yang khusus untuk produser yang filmnya sedang diputar, dan mana data yang cuma bisa diakses oleh pemerintah,” katanya.

Selama ini data yang diumumkan oleh bioskop hanya film nasional saja, yang pada tahun 2016 berjumlah 34,5 juta penonton. Sementara 70% data yang menonton film asing tidak pernah diumumkan. 

“Padahal produser lokal juga butuh referensi data tren penonton film asing. Kalau lihat situs box office Mojo, data penjualan film asing di hampir semua negara ada di situ, Indonesia tidak ada,” kata Fauzan.

Negara-negara yang memiliki industri film maju memiliki beragam sistem berbasis sensus dan pelaporan box office real time dari bioskop. 

Amerika menggunakan comScore Box Office Essentials® yang juga mencover 95% bioskop di seluruh dunia, Korea menggunakan Korean Film Box Office Information System (KOBIS), dan China menggunakan EBOT EntGroup.

Fauzan menambahkan, sambil menunggu Permendikbud Tata Edar Film disahkan, BEKRAF punya pekerjaan rumah untuk bisa merangkul dan menjelaskan kepada stakeholder perfilman bahwa keberadaan IBOS bukan untuk menjual data kepada asing atau menelanjangi kerahasiaan.

Apabila rencana ini akan dilanjutkan, perlu diatur juga kerjasama dengan Kemendikbud yang mempunyai otoritas kebijakan di bidang film dan Kementerian Keuangan dan Pemerintah Daerah untuk membentuk kebijakan insentif dalam rangka menggairahkan industri bioskop daerah. (imam)

 

 

Last modified on Wednesday, 22 March 2017
Read 855 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru