Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Ekspresi kecintaan Ferry Mursyidan Baldan sebagai fans penyanyi Chrisye kembali diungkapkan lewat buku, yang kali ini berjudul 10 Tahun Setelah Chrisye Pergi: Ekspresi Kangen Penggemar. Peluncuran buku setebal 345 halaman ini dihadiri sejumlah musisi dan penyanyi di Kafe Rarampa, Jakarta Selatan, Kamis (30/3/2017).

Sebelumnya, tahun 2012 (bertepatan 5 tahun wafatnya Chrisye) Ferry MB menerbitkan buku Chrisye, Kesan di Mata Media dan Fans. Buku ini menjadi pijakan dari buku 10 Tahun Setelah Chrisye Pergi; Ekspresi Kangen Penggemar, yang berisi perjalanan Chrisye dari panggung musik hingga kepergiannya yang direkam oleh media.

“Buku ini sekaligus kami dedikasikan sebagai penyempurnaan buku terbitan 2012,” ujar Ferry MB, politisi yang menggemari lagu-lagu Chrisye karena liriknya dianggap dapat meluruhkan rasa penat  di tengah kesibukannya. 

Sebagai penggemar penyanyi bernama asli Chrismansyah Rahadi itu, mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang / Kepala Badan Pertanahan Nasional era kabinet Presiden Joko Widodo ini juga sangat loyal. Tidak hanya menerbitkan buku Chrisye, setiap tahun selalu ada saja kegiatan mengenang wafatnya pelantun lagu Kidung, Kisah Kasih di Sekolah, Pergilah Kasih, dan lain-lain. 

Pada setiap momen kelahiran maupun wafatnya Chrisye, Ferry berziarah ke makam almarhum. Biasanya setelah itu, ia mengajak sejumlah teman untuk minum kopi sambil mendengarkan dan menyanyikan lagu lagu almarhum. 

“Kegiatan begini, sebagai ekspresi kami dalam menyalurkan rasa kangen pada Chrisye,” ujar Ferry yang beberapa jam sebelum acara, menziarahi makam Chrisye bersama sejumlah anggota Komunitas Kangen Chriye (#K2C) yang dibentuknya dari hasil obrolan sesama penggemar Chrisye. 

Buku 10 Tahun Setelah Kepergian Chrisye; Ekspresi Kangen Penggemar  digarap bersama tim yang sebagian adalah anggota #K2C yaitu wartawan senior Nini Sunny, Indrawan Ibonk, fotografer Dudut Suhendra Putra, dan Muhammad Ihsan. Sedangkan desain buku oleh Morenk Beladro. 

Materi buku berisi kumpulan catatan perjalanan tentang Chrisye yang dikutip dari berbagai media cetak; serta komentar para wartawan. Buku ini menegaskan tonggak keberhasilan Chrisye sebagai musisi besar dan memperlihatkan betapa kuatnya nama Chrisye dalam jagat musik Indonesia. Meski sudah 10 tahun wafat,  lagu-lagu Chrisye  tetap laris didaur ulang, bahkan sebuah film atas namanya  segera dirilis pada 2017. 

Ferry  mengumpulkan catatan yang terserak di berbagai media tentang Chrisye sepanjang  10 tahun setelah ia wafat, kemudian menjadikannya bagian dari isi buku. Bukan hanya itu, Ferry  juga mendisain ulang  potongan berita  atau kliping tentang kematian almarhum, dan menjadikannya bagian dari buku ini.

 

Bukan kultus

Cara ungkap Ferry ini terbilang unik dan personal hingga terkesan sangat istimewa jika tidak ingin disebut lebay. Namun, Ferry mengaku tidak sedang ingin mengkultuskan Chrisye. 

“Kami hanya merasa 'tidak  rela' jika seniman sebesar Chrisye hilang begitu saja ditelan perjalanan waktu. Kami ingin berbicara, bahwa bangsa ini perlu menghargai dan menghormati seorang musisi, meski dia sudah tidak ada lagi bersama kita,“ jelasnya. 

Untuk menjaga Chrisye tidak hilang begitu saja, Ferry mengaku melakukan cara yang kecil dan sederhana. Misalnya,  meminta pengamen di warung-warung makan, home band di hotel, atau bahkan dalam acara resepsi pernikahan untuk melantunkan lagu-lagu Chrisye. 

“Hal itu kami lakukan bukan semata karena mengagumi sosok Chrisye, tapi kami juga ingin menjaga agar lagu lagu almarhum tetap “hidup” di berbagai tempat, di sepanjang waktu,” ungkap Ferry yang melihat hal yang sama dilakukan penggemar grup musik legendaris The Beatles di Inggris.

Alasan lainnya adalah kareana pengaruh dari lirik lagu Chrisye begitu kuat dalam diri Ferry sejak menjadi aktivis hingga hari ini.  

“Lebih dari 30 tahun, lirik lagu Chrisye begitu kuat melekat dan mengikat jiwa saya. Jika dirangkai, seluruh lagu-lagu Chrisye seakan mewakili perjalanan hidup manusia; mulai dari rasa cinta antar manusia, rasa peduli sesama, potret sosial yang tengah terjadi, rasa cinta Negeri, rasa ditinggal kekasih, rasa keindahan alam, sampai pada rasa sebagai mahluk Tuhan dan tentang adanya hari akhir,” paparnya.

 

Non komersial

Acara peluncuran buku 10 Tahun Setelah Chrisye Pergi; Ekspresi Kangen Penggemar dihadiri sejumlah musisi dan penyanyi, termasuk istri almarhum Chrisye, Damayanti Noor, Yoekie Suryoprayogo,  Vina Panduwinata, Tika Bisono, dan lain-lain. Malam itu musisi Donny Suhendra, Agam Hamza dan Ivan Nestorman tampil menjadi pengiring musik sekaligus menyanyi. Wartawan yang juga vokalis grup Grassrock, Hans Sinjal ikut menyumbangkan suaranya.  

Peluncuran buku akan dilanjutkan di Bandung, Jawa Barat. “Kami akan mengadakan Chrisye Night sekaligus peluncuran buku yang sama di Dago, Bandung hari Sabtu 1 April 2017,” kata Ferry yang tentang acara yang dilaksanakan bersama alumni Universitas Padjajaran, Bandung.

Kendati buku yang diterbitkan tersebut memiliki nilai jual secara komersial, Ferry justru tidak ingin mengkomersilkan buku tersebut.  

“Buku ini hadir tanpa sponsor dan tidak untuk tujuan komersil. Tetapi kami menyebarkan informasinya bahkan sudah dipasang di dua baliho besar di Bandung. Jika ada masyarakat yang berminat untuk memiliki, kami akan melayani,” kata Ferry, yang akan menyebarkan buku terbitan Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia ini di sejumlah toko buku. (imam)

Last modified on Friday, 31 March 2017
Read 1077 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru