Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Usmar Ismail Awards (UIA) 2017 akhirnya sampai ke puncak acara, setelah terseok-seok sejak diluncurkan pada 30 Maret bersamaan dengan peringatan Hari Film Nasional. Dalam konteks komunikasi publik, UIA tahun ini tidak memiliki gaung, berbeda dibandingkan helatan pertama setahun lalu.

Entah apa penyebab merosotnya respons masyarakat pada acara pemberian penghargaan terhadap insan perfilman, yang penjuriannya dilakukan wartawan dan sebagian wartawan merangkap pemain film itu? Padahal sangat tegas, acara ini menancapkan tagline yang secara psikologis dapat ‘menjatuhkan’ ajang penghargaan sejenis yang lebih dulu ada. UIA memegang semboyan sebagai “Penghargaan insan film Indonesia yang sesungguhnya”.

Sayangnya kesungguhan penyelenggara UIA dalam hal ini YPPHUI untuk menegakkan semboyan itu, tidak tampak ke permukaan. Dia lebih sekadar papan nama, yang dalam praktiknya tidak lebih baik dari festival film ‘plat merah’ yang dikelola oleh pemerintah, melalui Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Festival Film Indonesia, Apresiasi Film Indonesia.

Setahun lalu Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI) bersama wartawan dari Forum Pewarta Film (FPF) menebas rimba, melapangkan jalan UIA  ke dunia baru televisi. Tidak terbukanya sistem pendanaan, dan tidak adanya pelaporan atas hasil kerja UIA tahun 2016 kepada YPHHUI membuat pengurus Forum Pewarta Film menolak bergabung dengan UIA tahun 2017. 

Kini, YPPHUI kembali menggandeng 37 juri untuk UIA 2017. Konon ada kesepakatan kerja, berupa Memorandum of Understanding antara pihak yayasan dengan perwakilan para wartawan itu. Intinya, UIA diselenggarakan bersama keduabelah pihak. Hal ini sebenarnya tidak berbeda dengan yang dilakukan YPPHUI saat menggandeng Forum Pewarta Film tahun lalu.

Kesepakatan tinggallah kesepakatan, seperti kata Deddy Mizwar di film Naga Bonar, “Berunding-berunding, NICA masuk juga!” Kondisi inilah, yang terulang dengan penyelenggaraan UIA kali ini. Pihak YPPHUI dengan ringan tangan menyodorkan berkas MoU kepada wartawan, namun tidak jelas secara eksplisit bentuk kesepakatannya.

Sementara, pada UIA 2016 pengurus Forum Pewarta Film yang bekerja berdasarkan ‘gentlemen agreement’ mendapat iming-iming angin surga dari pengurus YPPHUI, untuk menjadikan UIA sebagai milik bersama, dan akan didaftarkan ke Kemenkumham. Faktanya, usai pergelaran acara yang ditayangkan stasiun televisi Trans7, YPPHUI mulai ‘kasak-kusuk’ mencari cara aman untuk membuang Forum Pewarta Film dari kegiatan UIA selanjutnya.

Seorang wartawan film senior mengungkapkan, suatu hari dirinya diminta datang menemui pengurus YPPHUI untuk membicarakan soal UIA 2017. Dalam obrolan itu, berkali-kali dia diminta agar tidak membocorkan hasil pertemuan tersebut ke pengurus Forum Pewarta Film. Namun, sang wartawan yang satu almamater dengan anggota Forum Pewarta Film, dengan bijak menolak ajakan ‘diam-diam’ tersebut.

“Bagaimanapun, UIA identik dengan Forum Pewarta Film, jadi dengan alasan itu, saya menolak ketika ditawari ‘diam’ dan harus memegang UIA 2017,” kata wartawan tersebut. “Tetapi, yang juga penting, saya menolak karena tidak adanya kejelasan soal berapa honor yang akan saya terima,” lanjutnya. Kali ini diiringi tertawa lepas.

Kemudian UIA 2017 pun berjalan secara ‘diam-diam’, dengan pemberitaan yang minimalis, tidak ada ekspose berarti hingga menjelang malam puncaknya. Bahkan, sejumlah juri mengambil sikap diam, yang lainnya menggerutu atas kebijakan YPPHUI yang ternyata jauh lebih buruk dalam menyelenggarakan UIA dibanding setahun lalu.

Yang sangat menarik penilaian seorang wartawan senior terhadap UIA. Dia menengarai bahwa ajang penghargaan Usmar Ismail Awards sudah dibeli oleh Trans7, tanpa diketahui oleh wartawan seperti apa bentuk kerjasamanya, dan berapa nilai jual UIA ke stasiun televisi. YPPHUI menjadikan wartawan yang masih dilanda euphoria dijadikan juri itu, tidak lebih dari sekadar kuli.

Kejadian tahun lalu terulang kembali, semua serba gelap. Habis gelap tetaplah gelap! (imam)

 

Read 473 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru