Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Indonesian Movie Week (IMW) di Kroasia adalah langkah diplomasi budaya yang harus mendapat dukungan masyarakat perfilman dan pemerintah. Hal tersebut diikatakan oleh aktor senior Slamet Rahardjo Djarot.

"Ini (IMW Kroasia) merupakan ajang diplomasi kebudayaan, yang menunjukkan kesadaran yang agak terlambat dari pemerintah. Karena dimanapun negara, film selalu menjadi senjata mutakhir, informasi. Dengan menonton film Indonesia, mereka jadi tahu bagaimana kondisi kita kayak apa. Ada psikologi, sosiologi, ekonomi, politik, bahkan ideologi," ujar Slamet pemeran film Gending Sriwijaya, yang bersama empat film lainnya akan diputar di IMW Kroasia.

Situasi Indonesia bisa dilihat dari film Sunya, Gending Sriwijaya, atau Kisah 3 Titik, serta dua film lainnya MARS dan Labuan Hati (film peserta IMW) yang menggambarkan sebuah bangsa yang memiliki kejelasan akar sejarah budaya dan problem sosial, politik, dan ekonomi.

"Jadi, andai Indonesia ingin terkenal berbuatlah seperti Thailand, negara yang tidak melawan Amerika tetapi bisa mengatur Amerika. Karena Thailand punya post production sehingga semua film Amerika datang ke Thailand. Kapan film Amerika bisa selesai, tergantung Thailand yang mengatur jadwalnya. Jadi tak perlu melawan, tapi bisa mengatur," jelas mantan Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Indonesia (sekarang BPI) ini.

Kesadaran tersebut, lanjut dia, lahir dari pemikiran para petinggi-petinggi negeri yang sangat percaya bahwa kesalahan, kekacauan dan kekerdilan pikiran kita selama ini adalah karena terlalu lama meninggalkan peran film.

Menurut Slamet IMW harus disupport. "Jujur saja, sulit menjelaskan tentang Indonesia. Bayangkan, negara yang tingkat budaya bacanya paling rendah dan berada hanya satu tingkat diatas Zimbabwe tiba-tiba punya WA (Whatsapp) terbanyak di dunia. Orang yang tidak pernah baca tak pernah dekat dengan budaya literatur kemudian bikin WA, bisa dibayangkan gimana kacaunya," lanjutnya.

IMW menurut Slamet langkah diplomasi budaya seniman dan bukan sebuah wacana. "Karena tugas seorang seniman bukan berwacana tapi berkarya salah satunya melalui film. Kalau berwacana tempatnya di Senayan," katanya.

Soal potensi kegiatan IMW untuk joint produksi, dia berharap bukan itu tujuan dari IMW.

"Menonton film Indonesia adalah melihat tingginya nilai-nilai kemanusiaan dan dibuat dengan baik. Kalau joint produksi misalnya artisnya dari Indonesia, sutradara dari Malaysia, lokasinya di Kroasia dan biayanya ditanggung bersama, itu akan ribet. Problem yang diangkat tentang negara yang mana?" ujarnya.

Lebih baik, misalnya Thailand bikin film sebaik mungkin tentang negerinya sendiri, lalu jadi yang terbaik di Asia Tenggara. Atau Indonesia bikin film yang terbaik dan menggetarkan dunia.

Walaupun film Indonesia banyak, kata Slamet perfilman sebagai sistem belum lahir. "Karena perfilman adalah ideologi tentang betapa pentingnya film. Dan, kesadaran itu belum muncul," katanya.

Sementara, sutradara film Sunya, Harry Dagoe menilai IMW merupakan "little festival", yang harus dirawat oleh negara. "Tetapi, yang juga perlu dipikirkan adalah apa yang akan dilakukan setelah ini," kata Harry.

Sebagai negara yang filmnya masih masuk zona "merah" di tingkat dunia, Indonesia harus tetap mampu hadir dalam berbagai kegiatan internasional, termasuk yang diadakan pemerintah melalui KBRI di sejumlah negara.

IMW Kroasia diselenggarakan oleh KBRI Zagreb dan akan berlangsung mulai 2-7 Juni 2017, dengan memutar 5 film di dua bioskop di kota Zagreb dan Split. Film tersebut Sunya, Gending Srwijaya, Labuan Hati, Kisah 3 Titik, dan MARS. (imam)

Last modified on Friday, 02 June 2017
Read 187 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru