Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Badan Perfilman Indonesia (BPI) segera mengirim surat keberatan ke Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dan Dirjen yang membidangi film atas kegiatan "Semikoka 1" yang digelar Pusat Pengembangan Perfilman dan Pokja AFI 2017 pada 20-23 Juni di Hotel Alila, Jakarta.

"Keberatan kita sudah disampaikan ke Pak Maman Wijaya (Kepala Pusat Pengembangan Perfilman) dan staffnya. Sekarang nunggu perintah dari Ketua BPI, pak Chand Parwez," kata Wakil Ketua BPI, Dewi Umaya Rahman menjawab tabloidkabarfilm.com lewat pesan Whatsapp, Selasa (27/6/2017).

Langkah itu diambil oleh BPI yang menilai Pusbangfilm tidak memperhatikan etika ketika membahas penyusunan pedoman Apresiasi Film Indonesia (AFI) di Hotel Alila, Jakarta dalam acara "Semiloka 1".

Menurut Dewi Umaya, Pusbangfilm merupakan lembaga terhormat yang seharusnya tak mengabaikan undangan maupun informasi kepada BPI yang diamanatkan oleh UU No.33 tahun 2009 tentang Perfilman, mengenai kegiatan Penyusunan Pedoman AFI.

"Banyak yang bertanya protes ke saya, mengapa BPI tidak ikut acara itu. Kami memang tak menerima undangan dari Pusbangfilm," kata Dewi.

Lanjut Dewi, BPI sudah bertanya ke Pusbangfilm soal ada tidaknya undangan acara itu, "Jawaban dari Pusbang, mereka lupa. Karena acaranya mendadak," kata Dewi.

"Semiloka 1" digelar oleh Pokja AFI dan Pusbangfilm membahas Penyusunan Pedoman Pelaksanaan AFI. Dihadiri 70 peserta, 20 diantaranya wartawan dari berbagai media dan menghadirkan 10 narasumber. Seluruh peserta menginap di Hotel Alila.

Semiloka dipercepat sehari dari rencana semula tiga hari. Percepatan itu lantaran banyak peserta yang bersiap mudik lebaran. 

Menurut Drs Maman Wijaya, Kepala Pusbangfim Kemdikbud yang dihubungi Kamis (29/6/2017), Semiloka pada awalnya dirancang sebagai perumusan penyelenggaraan festival, atas masukan beberapa pihak, terkait mulai tumbuh dan banyaknya festival film yang diselenggarakan oleh masyarakat.

Salah satu tujuan Semiloka kata Maman Wijaya, adalah pemerintah perlu mendorong dengan cara-cara yg tepat sesuai dengan karakter masing-masing festival yang ada. 

"Oleh karena itu perlu identifikasi ciri dan karakter, lalu dirumuskan peran-peran apa yang perlu dilakukan pemerintah. Kedua, menyediakan berbagai macam informasi terkait penyelenggaraan festival sehingga siapapun yang akan menyelenggarakan festival merasa terbantu dengan informasi tersebut," jelas Maman.

Maman Wijaya heran ketika Semiloka berubah judul. "Cuma entah bagaimana kemudian judulnya berubah spesifik menjadi AFI," katanya. 

Tetapi, masih menurut Maman Wijaya, hal tersebut mungkin tidak apa-apa. "Itu sebuah dinamika. Saya memandang ini adalah aspirasi teman-teman. Apapun pasti akan ada manfaatnya," ujarnya.

Kegiatan sejenis semiloka akan terus dilakukan oleh Pusbangfilm dengan berbagai pihak yang lainnya. 

"Saya akan selalu memerlukan informasi dari banyak kalangan. Hanya saja untuk sebuah kegiatan itu terikat dengan keterbatasan jumlah yang terlibat dan waktu. Di antara teman-teman yang terlibat ada yang menjadi pengurus BPI tapi kapasitasnya bisa juga sebagai individu. Namun setiap hasil diskusi tentu akan dibahas bersama BPI secara kelembagaan. (imam)

Last modified on Thursday, 29 June 2017
Read 2428 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru