Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Sejak film hadir di tanah Jawa tahun 1900an, kebudayaan khas masyarakat sudah jadi bagian penting di dalamnya. Keragaman itu tampil berupa cerita dan juga dari daerah asal para senimannya.

"Wajah film Indonesia punya wakil dari masing-masing daerah yang punya ciri khas. Para senimannya berasal dari daerah sebagai identitas budaya," kata Riri Riza di peluncuran buku karya David Hanan berjudul "Cultural Specificity in Indonesian Film: Diversity in Unity" di Sinematek Indonesia, Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail Usmar Ismail, Jakarta, Jumat (14/7/2017).

Menurut sutradara film Attirah tersebut, beberapa seniman pembuat film Indonesia tersebut, antatanya Usmar Ismail dari Padang, Sumatera; Sjumanjaya dan Nyak Abbas Acub orang Jakarta, Eros Djarot dan Slamet Rahardjo dari Banten, Garin Nugroho dari Yogya, dan lain-lain.

Keragaman budaya dalam perfilman Indonesia ini yang kemudian dicatat panjang oleh David Hanan seorang pengajar dan periset dari Monash University, Australia.

Menurut Riri Riza generasi muda perfilman Indonesia perlu memahami sejarah perfilman yang sejatinya adalah sejarah tentang keragaman budaya di Indonesia. 

"Keragaman ini, juga perlu dipahami bahwa janganlah beranggapan film Indonesia harus selalu yang cocok tayang di bioskop 21, misalnya. Atau hanya film-film yang ceritanya tentang anak Jakarta, pulang dari Paris, pergi ke party," kata Riri.

Sejarah panjang film Indonesia yang berkaitan dengan keragaman ini, tidak juga bicara soal laku atau tidaknya film. 

"Karya-karya Usmar Ismail dan banyak lainnya yang dibuat lebih dari 50 tahun tetap relevan, dan dibicarakan di forum-forum kajian hari ini," jelas Riri.

Sumbangan terbesar sineas untuk terus mempertahankan keragaman budaya Indonesia dan Pancasila adalah dengan membuat film terbaik, yang berbicara tentang keragaman budaya. 

"Saya tertarik dengan, misalnya teman saya bikin film "Me vs Mami" yang memakai judul bahasa Inggris, tapi muatan ceritanya soal keragaman budaya kita," ujar Riri.

Buku yang dibuat oleh David Hanan merupakan hasil riset tentang kebudayaan khas Indonesia yang terpancar di film Indonesia. 

Proses pembuatan buku setebal 331 halaman itu melibatkan sejumlah tokoh perfilman Indonesia sebagai narasumber seperti Slamet Rahardjo, Eros Djarot, Christine Hakim,  Garin Nugroho, Titiek Puspa, Riri Riza, dan lain-lain, termasuk arsip Sinematek Indonesia. 

"Kami membantu akses informasi kepada pak David Hanan, yang merangkum berdasar sejarah film Indonesia mulai tahun 1953," kata Kepala Sinematek Indonesia, Adisurya Abdi.

Buku "Cultural Specificity in Indonesian Film: Diversity in Unity" ditulis dalam bahasa Inggris. "Buku ini tidak dibuat banyak, namun bisa diakses melalui e-book," kata David Hanan.

Peluncuran buku dihadiri aktor senior Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Titiek Puspa, Pong Harjatmo, Eros Djarot, Orlow, Mooryati Sudibyo, dan lainnya. (imam)

Last modified on Saturday, 15 July 2017
Read 946 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru