Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Anggota Lembaga Sensor Film (LSF) Arturo Gunapriatna sempat jadi editor, sutradara film dan teater. Sehingga, dia  memahami dunia produksi, termasuk saat ide kreatif dieksekusi menjadi film.

"Pengalaman saya waktu jadi editor film, saya sering mewakili produser untuk menyensor sendiri film yang dibuat. Dulu tahun 1980an, masih jamannya film yang pakai judul "gairah" semacam itu," kata Arturo GP di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (26/7/2017).

Hal itu diungkapkan Arturo saat berbicara di acara Forum Koordinasi dan Kerjasama dengan Pemangku Kepentingan Perfilman yang diselenggarakan LSF.

"Diantara produser film itu ada yang suka 'iseng' membuat film untuk asik sendiri, dengan membuat adegan yang sebenarnya melanggar aturan sensor. Padahal, dia sudah tahu adegan itu pasti kena sensor," kata Atung, yang pertamakali menjadi editor untuk film Cintaku Di Rumah Susun tahun 1987.

Editor peraih Piala Citra FFI 1991 untuk film Cinta Dalam Sepotong Roti ini menilai, bahwa film bukanlah semata milik seniman pembuatnya. 

"Film juga harus dapat diapresiasi secara baik oleh masyarakat," katanya.

Mengingat keisengan para pembuat film itulah, LSF harus berada di bagian terdepan sebelum sebuah film diapresiasi penonton. Terutama karena tugas dan peran LSF dilindungi Undang-undang No.33 Tahun 2009 tentang Perfilman dan PP No.18.

Terkait dengan kemajuan teknologi hari ini, dimana media tontonan tak terbendung oleh negara, Atung mengakuinya.

"Hari ini eranya media tanpa batas, nasionalisme tanpa bataa sehingga siapapun bisa mengakses film melalui gadget di tangan individu, dari orangtua hingga anak-anak. LSF terus berpikir menyesuaikan diri," jelas pria kelahiran Buenos Aires, Argentina yang juga pendiri Teater Trotoar. 

Satu hal yang juga mengkhawatirkan Atung secara pribadi adalah tidak sehatnya industri televisi di Indonesia.

"Saya pernah ditanya bagaimana cara menghadapi serbuan program India di televisi? Saat itu, saya katakan agar DPR membuat regulasi untuk menyehatkan industri televisi. Karena, tidak sehatnya industri televisi sangat terkait dengan lemahnya regulasi," ujar Atung.

"Film India satu episode harganya lima juta rupiah, itu jauh lebih murah dibandingkan jika tivi memproduksi sinetron sendiri," lanjut Atung yang di 1993-1994 menyutradarai sinetron serial Sahabat Pilihan, menggarap Anak Seribu Pulau (1996). Sejak tahun 1993 mengajar di Fakultas Film dan Televisi IKJ.   

Dengan keterbatasan LSF, dia berharap orangtua tetap menjaga dan mendampingi anak-anak saat menonton televisi maupun film di bioskop.

Diskusi kedua yang diadakan LSF -- pertama ketika anggota LSF baru dilantik -- ini dibuka Ketua LSF Ahmad Yani Basuki, dimoderatori Rommy Fibri Hardianto serta menghadirkan narasumber HM Firman Bintang (PPFI), dan Syamsul Lussa (Komisioner LSF).

Acara dihadiri undangan dari unsur pimpinan stasiun televisi, dan perwakilan organisasi dari BPI, Parfi, serta lembaga pemerintah terkait. (imam)

Last modified on Friday, 28 July 2017
Read 401 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru