Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Untuk memperbaiki kualitas pelaksanaan Festival Film Indonesia (FFI), Badan Perfilman Indonesia (BPI) akan membentuk pantap (panitia tetap).

Wacana tersebut menguat dalam Focus Group Discussion (FGD) FFI 2017 di Belleza Hotel, Jakarta, Rabu (2/8/2017).

FFI diamanatkan oleh Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perfilman, yang dijadikan barometer penilaian kualitas film di Indonesia. 

"Kenyataannya, FFI tidak berdampak pada perbaikan seperti yang diharapkan. Terutama FFI selalu ricuh," kata Totot Indrarto, moderator dan nara sumber pada sesi pembahasan kualitas film Indonesia secara umum.

Sesi ini dibahas oleh Grup I terdiri dari perwakilan akademisi, wartawan, komunitas, dan kuesioner antaranya Hikmat Darmawan, Lulu Ratna, Agni Ariatama, Teguh Imam Suryadi, Yan Wijaya, Tito Imanda, dan lain-lain.

Dua grup FGD lainnya dihadiri praktisi, lembaga negara, mahasiswa, pelajar dan kuesioner antaranya Mira Lesmana, Riri Riza, Reza Rahadian, Lance Mengong, Dewi Umaya, Gunawan Pagaru, dan lainnya.

Totot membeberkan hasil survey tertulis yang diisi peserta FGD hari itu, bahwa FFI tidak meningkatkan kualitas film Indonesia.

Juri senior FFI sejak 2004, ini pun melihat kegaduhan FFI tidak memberi keuntungan bagi perfilman.

"FFI hanya bagian kecil dari ekosistem perfilman, yang tidak bermanfaat dan justru merugikan. Kita di FFI capek tenaga, fikiran, dan jadi sering ribut. Makanya, FFI tahun ini dilaksanakan realistis saja, mengingat waktu dan pendanaan yang mepet," jelas Totot.

Perbaikan ekosistem film jangka panjang melalui Rencana Induk Perfilman Nasional (RIPN) justru lebih penting.

"Kita harus mendorong pemerintah menerbitkan RIPN. Dengan RIPN, seluruh kegiatan perfilman termasuk FFI dapat terkontrol lebih baik," jelas Totot.

 

Juri tidak nonton film

Yang tidak kalah menariknya pernyataan Ketua Panpel FFI 2016 Lukman Sardi, yang mengungkapkan banyaknya juri FFI saat itu tidak menonton film yang dinilai.

"Jujur saja saya sulit mau bilang apa, soal banyaknya juri FFI tahun lalu yang tidak nonton film yang dinilai," ungkap Lukman.

Tetapi dia berharap FFI akan mendapatkan formula lebih baik dalam hal penjurian. 

"Ke depan FFI harus fokus memperbaiki sistem penjurian. Karena ini masalah vital di dalam festival film," kata Lukman.

 

Ada 190 Festival film

Sambil menunggu terbitnya RIPN, sistem pantap FFI ideal untuk perbaikan jangka menengah FFI.

"Kita akan bentuk pantap FFI yang bekerja setahun penuh selama beberapa tahun masa kepanitiaan," kata Leni Lolang, nara sumber FGD yang juga Ketua BPI Bidang Festival Dalam Negeri dan Penghargaan.

Pantap FFI akan dimulai tahun 2018, mengingat pembentukan (pengurus baru) BPI dan persiapan FFI 2017 terlalu dekat. 

"Sesuai Raker BPI, pantap FFI dimulai Januari 2018, kita bahas penjurian dan lain-lain," lanjut Leni.

Disebutkan oleh Leni Lolang ada 190 festival film di seluruh Indonesia yang berpotensi meningkatkan kualitas perfilman Indonesia.

Dari 190 festival tersebut sebagian aktif dan pasif, dan banyak yang tidak aktif sama sekali. 

"Oleh karena itu, perlu kita adakan kongres festival film, yang diikuti oleh pelaksana acara festival film di Indonesia," kata Leni.

FGD FFI 2017 dilaksanakan Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengangkat tema, "Mencari Parameter Positif Perfilman Indonesia". 

FGD dimaksudkan untuk mendapat masukan dari stakeholder perfilman guna menyempurnakan petunjuk teknis FFI, pedoman bagi Pusbangfilm yang mewakili pemerintah yang membiayai FFI. (imam)

Last modified on Friday, 11 August 2017
Read 623 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru