Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

John de Rantau kembali membuat film setelah tujuh tahun vakum dari aktivitasnya sebagai sutradara. Kembalinya John ditandai dengan film "Wage" yang mengisahkan kehidupan pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, Wage Rudolf Supratman.

 Walaupun Wage adalah tokoh besar, film tentangnya dibuat oleh John 'apa adanya'. "Dalam film ini, Wage adalah manusia dengan kekurangan dan kelebihannya. Sisi gelapnya tetap dimunculkan," kata John de Rantau di Studio XXI, Paragon Hotel, Jakarta Barat, Kamis (28/9/2017).

Film tentang seorang tokoh umumnya disebut biopic (biografi picture), namun untuk film terbarunya tersebut John menyebutnya film noir.

“Selama ini cerita film selalu menampilkan tokoh protagonis dan antagonis. Tapi dalam noir,  juga menampilkan sisi gelap seorang manusia. Karena penganut noir meyakini di balik sisi negatif seorang manusia, ada pula sisi positifnya,” kata sutradara kelahiran Minangkabau, 47 tahun lalu itu.

Jadi, meskipun WR Supratman seorang pahlawan nasional, John juga akan mengangkat sisi kelam dari perjalanan hidup sang komponis itu.

Film noir adalah sebuah istilah sinematik yang digunakan untuk menggambarkan gaya film Hollywood yang menampilkan drama-drama kriminal, khususnya yang menekankan keambiguan moral dan motivasi seksual.

Periode film noir klasik Hollywood biasanya dianggap merentang dari awal 1940-an hingga akhir 1950-an. 

Film noir dari masa ini dihubungkan dengan gaya visual hitam-putih dalam pencahayaan yang rendah yang berakar dalam sinematografi ekspresionis Jerman, sementara banyak dari cerita-cerita prototipenya dan sikap noir yang klasik berasal dari aliran fiksi detektif yang muncul di Amerika Serikat pada masa Depresi.

Istilah film noir (bahasa Perancis, yang artinya "film kelam"), pertama kali diberikan kepada film-film Hollywood oleh kritikus Perancis Nino Frank pada 1946, tak dikenal oleh kebanyakan profesional industri film Amerika pada era itu. 

Para sejarahwan dan kritikus film mendefinisikan kanon film noir di kemudian hari; banyak di antara mereka yang terlibat dalam pembuatan film-film noir klasik belakangan mengakui bahwa mereka tanpa sadar telah menciptakan suatu jenis film yang khas.

John de Rantau merupakan salah satu sutradara yang masih memiliki pendirian teguh dalam berkarya, dan cenderung keras kepala. Ia sulit berkompromi dengan keinginan produser yang melulu menekankan tujuan komersil dalam membuat film.

“Saya rindu dengan Teguh Karya, dengan Nyoo Han Siang, yang punya duit memberi kepada sutradara untuk membuat film. Sekarang produser punya uang dan diberikan kepada sutradara untuk membuat film sesuai dengan keinginannya. Makanya saya lebih baik tidak membuat film ketimbang harus berkompromi dengan keinginan seperti itu,” kata John de Rantau usai pemutaran film “Wage” di Paragon XXI Jakarta, Kamis (28/9/2017). 

“Saya boring bikin film karena yang punya kuasa adalah yang punya duit. Ketika dua film saya terdahulu Obama Anak Menteng dan Semesta Mendukung diobrak abrik, saya memutuskan berhenti membuat film,” tambah John. 

Kisah WR Supratman yang diangkat ke dalam film juga menggambarkan sisi kelam sang seniman, di mana ketika itu ia dianggap penjahat dan dikejar-kejar oleh Belanda.

Yang menarik dari Wage, menurut John, Wage beda dengan tokoh lain. Kisah hidupnya tragis. Wage adalah tokoh peristis jazz di Makassar, sangat dikenal, tetapi kemudian meninggalkan gaya hidup bohemian dan bertekad untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dalam literatur sejarah umum, WR Supratman disebutkan lahir di Jatinegara Jakarta, pada 9 Maret 1903. Dan hari kelahirannya dijadikan Hari Musik Nasional.

Namun John tidak ingin terpaku dengan catatan sejarah yang ada. Berdasarkan buku kecil yang dimilikinya, ya yakin Wage lahir di Somongari, Purworejo, Jawa Tengah, 19 Maret 1903.

“Film merupakan alat propaganda yang ampuh, untuk menjawab keraguan-keraguan. Dan film ini akan menjadi jawaban terhadap keraguan akan sosok WR Supratman selama ini,” tegas John.

Lewat film ini  diungkapkan riwayat hidup sang penggubah lagu kebangsaan yang belum banyak diketahui masyarakat secara runtut, cermat, dan jelas, dalam durasi 110 menit. 

“Asyiknya bikin film biopic adalah kalau kita bisa menggali sendiri, tidak hanya berpegang pada buku. Kalau berpegang pada buku ngapain nonton film, baca bukunya udah selesai,” tambah John.

Film produksi  Opshid Media Untuk Indonesia ini dibintangi oleh pemain teater Rendra sebagai WR Supratman, Putri Ayudia, Teuku Rifkana dan beberapa pemain lainnya. Rencananya pada Oktober mendatang mulai diputar untuk umum di bioskop.

John de Rantau merupakan salah satu sutradara yang masih memiliki pendirian teguh dalam berkarya, dan cenderung keras kepala. Ia sulit berkompromi dengan keinginan produser yang melulu menekankan tujuan komersil dalam membuat film. (imam)

Last modified on Friday, 29 September 2017
Read 291 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru