Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Penonton film Indonesia usia 21 tahun keatas lebih potensial dibanding usia di bawahnya. Hal ini yang membuat Salman Aristo dari Rumah Film dan Evergreen Pictures optimis film "Satu Hari Nanti" yang mereka buat akan mendapat respon dari banyak penonton.

"Kami buat film ini berdasarkan hasil riset dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yang menyebut pasar penonton film Indonesia terbesar adalah mereka yang berusia 21 tahunan," kata Salman Aristo produser sekaligus sutradara film "Satu Hari Nanti" di Qubicle Centre, Jakarta Selatan, Rabu (15/11/2017).

Hal itu diungkapkan Salman menjawab pertanyaan wartawan tentang target penonton film dengan setting lokasi di Swiss tersebut. 

"Cerita film ini lebih penting dari setting tempat, yang seluruhnya ada di luar negeri yakni Swiss. Kebetulan, kami dapat kerjasama dengan pihak Swiss," ujar Salman yang selama ini lebih dikenal sebagai penulis skenario film. 

Siang itu, Salman Aristo dan mitra produksi Satu Hari Nanti, Dienan Silmy serta artis pemeran Adinia Wirasti, Ringgo Agus Rachman, Ayushita, dan Deva Mahenra meluncurkan poster dan teaser trailer film tersebut. 

Dalam teaser trailer sedikit ada bocoran seperti apa konflik yang dialami berbagai karakter yang terlibat dalam Satu Hari Nanti. 

Film SHN dijadwalkan tayang mulai 7 Desember 2017, bercerita tentang pilihan dan kegelisahan anak muda (dalam membangun sebuah komitmen di Swiss, baik dalam lingkup cinta, keluarga maupun pekerjaan. Lika-liku pertemanan dan kisah cinta yang kelam tumbuh bersama dalam pencarian jati diri mereka di negeri orang. 

“Kita dapat kesempatan untuk bisa syuting di Swiss. Tidak mudah syuting di sana hingga berkerjasama dengan Swiss dan filmmakernya," ungkapnya. 

Salman Aristo menjelaskan, kekuatan film SHN bukan semata terletak pada keelokan negeri Swiss, melainkan pada cerita dan karaktemya. 

”Film ini tidak sekedar menampilkan pemandangan, tapi juga cerita yang indah. Swiss indah, namun membangun cerita yang indah itu yang sedang kita jalani. Swiss hanya sebatas latar, cerita tetap berjalan sebagaimana semestinya, tentang kehidupan pencarian makna, jati diri, dan cinta yang lain," jelasnya 

Para pemain melakukan workshop demi mematangkan karakter peran. Misalnya,  Ringgo mendalami karakter Din, dimana dia kursus bahasa. Berperan sebagai tour guide, aktor asal Bandung ini mempelajari beberapa bahasa dibanding karakter lainnya. 

"Jadi ini film yang membuat saya harus belajar bahasa Jerman, Inggris, sampai bahasa Thailand dan India," kata Ringgo. 

Sementara Adinia Wirasti mendalami karaktemya sebagai pembuat cokelat. Aktris peraih penghargaan Pemeran Utama Wanita Terbaik Festival Film Indonesia ini juga mengikuti serangkaian workshop pembuatan cokelat, dan bahasa.

"Yang paling jadi kendala infrastruktur syuting di Swiss yang butuh adaptasi. Karena industri film bukan prioritas utama pemerintah sana, maka semuanya serba kaku. Bahkan saking kakunya aturan itu untuk memindahkan kamera pun bisa menjadi persoalan," ungkap Salman Aristo. 

Film yang diproduksi akhir tahun lalu ini mengambil berbagai lokasi terkenal di Swiss, yaitu Thun, danau Interlaken, Zurich, Bern, dan lokasi favorit para wisatawan, sekaligus gunung tertinggi di Eropa, yakni Jungfraujoch. (imam

Last modified on Friday, 17 November 2017
Read 112 times
Rate this item
(1 Vote)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru