Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Film "Kartini" karya sutradara Hanung Bramantyo mendapat apresiasi dari penonton di Amerika Serikat selama diputar 2-10 Desember lalu. Banyak yang tertarik ingin membaca surat Kartini. Tahun depan, film "Kartini" diundang oleh PBB. 

"Mereka menyukai film Kartini yang mengangkat isu feminisme dan kesetaraan gender," ujar Naratama, advisor acara "Kartini Tour to America" kepada tabloidkabarfilm.com, Selasa (11/12/2017) dinihari. 

Menurut Naratama yang juga bertugas untuk "VOA Indonesia", pemutaran film Kartini adalah kerjasama Indonesian Film Forum New York dan New School dimana dia ikut bergabung.

Dalam pengamatan Naratama yang berada di lokasi, film Kartini di New York dihadiri oleh sekitar 370 penonton.

"Mereka terdiri dari mahasiswa Amerika, pengamat film dan komunitas Indonesia. Pemutaran dilakukan di kampus The New School, Manhattan," kata Naratama yang hadir sebagai film observer. 

Pemutaran film "Kartini" berlangsung di sejumlah lokasi,  yaitu Universitas California, Los Angeles (2/12), Wisma KJRI San Francisco (4/12), New School, Manhattan, New York (8/12), dan di Galery Bali, Philadelphia (10/12).

Selama pemutaran film, tidak semua masuk gratis atau undangan. 

Menurut Hanung Bramantyo yang saat ini masih di Amerika, pemutaran film juga dilakukan secara berbayar. 

"Di UCLA dan New York penonton bayar. Yang di Wisma KJRI dan Galery Bali mereka gratiskan. Tapi film ada screening fees-nya untuk diputar disana," jelas Hanung yang dihubungi via Whatsapp semalam.

 

Diundang PBB 2018

Hanung mengaku senang melihat apresiasi penonton terhadap filmnya, karena banyak diantara penonton adalah warga negara Indonesia dan baru paham tentang kisah Kartini. 

"Banyak yang ingin membaca surat-surat Kartini. Ini penting buat saya, karena itulah fungsi film," katanya. 

Fungsi film yang dimaksud adalah memberikan stimulasi orang untuk mengetahui lebih jauh. 

"Buat orang Amerika, setelah nonton film ini banyak yang melihat Indonesia dari sudut pandang lain," lanjut Hanung. 

Sepengamatan Hanung, Indonesia dilihat jelek oleh media mainstream. 

"Film Kartini memberikan perspektif berbeda terutama tentang feminisme dan perempuan Jawa," kata Hanung.

Sementara itu, menurut Naratama, film yang diperankan Dian Sastrowardoyo,  Ayushita, Christine Hakim, Acha Septriasa dan lainnya itu mendapat perhatian dari United Nations - PBB.

"Hanung diundang untuk memutar film Kartini di PBB tahun depan," kata Naratama. (imam)

Last modified on Monday, 11 December 2017
Read 1211 times
Rate this item
(1 Vote)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru