Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Aktifitas penduduk desa di kaki gunung Slamet, Jawa Tengah baru berdenyut ketika tim produksi film Sumpah tengah berkemas merancang set lokasi, Selasa (17/4/2018).

Kebun teh yang terhampar, mulai dikunjungi wanita-wanita bertopi caping bambu. Mereka adalah para pekerja perkebunan dengan bakul di pundaknya. Tapi hari itu, mereka libur khusus. 

“Kami mau ikut syuting film Sumpah," ujar seorang ibu di antara mereka yang berusia di atas tiga puluhan itu tersenyum, melanjutkan perjalanannya.

Di lokasi perkebunan teh milik PTP Nusantara IX Semugih itu, beberapa kru menyiapkan perlengkapan syuting.

”Kami sengaja syuting supaya mendapatkan gambar saat matahari muncul pagi ini,” ujar Hasto Broto, sutradara film.

Menurut Hasto, ibu-ibu petani teh dilibatkan sebagai ekstras dalam film produksi Ganesha Gema Film tersebut. "Tidak mudah karena mereka tidak sekedar memetik teh, tapi ekpresi natural ketika memetik teh harus dapat. Karena berbeda ketika mereka bekerja dengan ada kamera,” tutur Hasto Broto yang cukup cekatan membujuk dan mengajak artis lokal dari desa untuk bermain film.

Film Sumpah mengambil lokasi syuting sepenuhnya di sekitar Pemalang Selatan, Slawi dan Tegal. Direncanakan syuting akan memakan waktu sekitar lima belas hari.

Film yang dibintangi Sahrul Gunawan sebagai Akbar, Sylvia Fully sebagai Mirna,dan Ibu Akbar bernama Pertiwi diperankan Neno Warisman, bercerita tentang Kepala Desa bernama Gondo, yang melanggar sumpah jabatannya, tidak amanah, bekerjasama dengan para penjahat untuk memperkaya diri.

Meski ayahnya jahat Mirna kesehariannya menjadi mengajar menari ingin membangkitkan remaja desanya untuk lebih berguna dengan mendalami seni tari Topeng Endel. Mirna berpacaran dengan Akbar, pemuda yang saleh namun berani melawan kebijakan Gondo dan antek-anteknya yang menyengsarakan rakyat.

“Saya mendalami peran ini dengan belajar menjadi wanita Jawa berpenampilan lembut namun punya daya juang yang keras,” ujar artis Sylvia Fully di lokasi syuting. 

Tantangan peran bagi Sylva, yang berdialek orang Sunda. "Di film ini dialeknya harus seperti Jawa Tegal, tapi jangan kelihatan lucu kalau bicara,”ujar artis yang bermain film Harim di Tanah Haram.

Sementara Sahrul Gunawan yang sudah cukup lama tidak main film, beruntung mendapatkan peran sebagai Akbar.

"Saya memang suka dengan tokoh dan cerita film ini. Selain tokohnya bijaksana tetapi punya prinsip ketika berhadapan dengan perbuatan yang bathil atau jahat,”ujar aktor disapa Kang Alul ini.

Baik Sahrul maupun Sylvia mengakui sudah membangun chemistry sebagai pasangan main yang dalam cerita film Sumpah ini mereka berpacaran.

”Itu yang membuat saya lebih mudah mengarahkan untuk detil adegannya,”ujar Hasto Broto, yang baru saja menyelesaikan filmnya yang berjudul Kasinem Is Coming yang akan tayang akhir bulan ini.

Syuting hari itu selain mengambil adegan Akbar dan temannya, Wawan, ketika kecil. Adegan Akbar dewasa dan Mirna bertemu di tengah perkebunan. 

Yang agak istimewa ada syuting adegan para warga yang protes atas kebijakan Kepala Desa Gondo. Mereka, yang hidup bertani menggelar demonstrasi. Nah, yang menjadi ketua demonstrasi para warga itu diperankan oleh PJS. Bupati Tegal Sinung Noegroho Rachmadi.

“Saya memimpin warga potes dan demo. Pokoknya saya bicara sambil marah-marah,” ujar Sinung yang kesehariannya adalah Kepala Satpol PP PengprofJawa Tengah ditunjuk oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, menjadi PJSBupati Tegal, menggantikan sementara Bupati Ki Enthus yang juga dikenal sebagai Dalang Wayang, yang kembali mencalonkan diri ikut Pilkada.

Dalam pengambilan adegan ternyata Sinung cukup cekatan dalam memerankan memimpin warga protes dan demo. "Selain saya senang bisa tampil di layar bioskop,punya pengalaman main film dan lebih senang lagi ketemu artis artis yang selama ini hanya saya lihat di televisi dan bioskop,” tutur dia.

Hasto Broto, sutradara, Sahrul dan Sylvia sangat bahagia menjalani pekerjaan di tengah perkebunan teh. Alamnya indah dan masyarakatnya ramah-ramah. 

Sepanjang syuting dari pagi hingga jelang magrib, masyarakat memenuhi lokasi syuting, tanpa mengganggu pekerjaan yang sudah disiapkan pada hari itu.

Seperti daerah dataran tinggi lainnya di Indonesia, Desa Banyumudal yang masuk dalam wilayah Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang itu setiap jelang petang selalu turun hujan tak terkecuali pada siang itu.

“Kondisi cuaca ini memang tidak bisa dihindari. Tapi, ini membuat kita semakin kreatif untuk memanfaatkan waktu pagi hingga siang seoptimal mungkin. Meski hujan sore, target bisa tercapai,”ujar Hasto Broto. (imam

Last modified on Thursday, 19 April 2018
Read 328 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru