Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Film dapat mengangkat citra sebuah kota kecil terkenal menjadi kawasan wisata yang mendunia. Beberapa film nasional sukses mengantarkan lokasi syuting di pelosok negeri menjadi pembicaraan orang, baik di dalam dan luar negeri.

Sebuah tempat (kota) bisa terkenal melalui film yang berkualitas. Kekuatan cerita, kemampuan akting pemain, spot lokasi, dan tentu saja penyutradaraan adalah kuncinya selain pemasaran yang masif. 

Film Anak Negeri Megalith berupaya mengangkat sisi potensi alam kota Lahat di Sumatera Selatan. Kota ini memiliki warisan budaya leluhur berupa patung batu berukuran (batu megalith) sejak 5000 tahun silam. 

Dari segi sumber daya alam dan sejarah, Lahat termasuk potensial. Namun, perlu promosi besar untuk menghidupkan ingatan kolektif masyarakat. 

Kisah film menceritakan kehidupan keluarga sederhana yang jatuh miskin karena dikriminalisasi oleh satu anggota keluarganya. 

Dalam perjalanan waktu,  Amran (adik) dan Jainal (kakak)  dan seorang saudara serta ayah mereka (Fuad Idris) mendapat kesempatan menempati rumah pinjaman di lahan pertanian milik pengusaha (Pong Harjatmo).

Kehidupan berjalan normal, mamun saat Amran butuh biaya untuk melanjutkan sekolah Akademi Militer (Akmil), Jainudin diberhentikan dari pekerjaan utamanya. Dia  bekerja serabutan jadi kuli pasar, tukang becak, dan sopir lepas di hotel. 

Kerja keras Jainudin tak juga menutupi biaya Amran yang kemudian minta bantuan ke bupati setempat. Bupati menyanggupi dengan syarat, nilai sekolah Amran harus yang terbaik di sekolah. 

Sampai di sini, jalan cerita film arahan sutradara Amir Gumay bisa ditebak. Sang bupati tampil di beberapa scene.

Masuknya Syarah (Beby Margaretha) yang bercitra sensual, punya cerita sendiri. Syarah anak pengusaha tempat Jainal bekerja, mencintai Jainal. Namun, cintanya ditolak Jainudin karena merasa tak pantas. Dia ingib konsentrasi mewujudkan cita-cita sang adik. 

Meskipun film berjalan lambat, pada beberapa scene tertentu berhasil menghadirkan keharuan. Terutama pada detik-detik Amran yang sudah mengikuti pendidikan prajurit TNI AD, pulang kampung menemui keluarganya. 

Amran masih berpakaian seragam TNI lengkap berlari dari rumah, mencari sang kakak yang selama ini ikut membiayai pendidikannya. 

Akhirnya Amran menemukan sang kakak di pangkalan becak. Dengan sikap hormat, Amran berdiri tegak menghadap sang kakak layaknya prajurit di hadapan komandannya. Pertemuan mereka singkat saja, karena Amran tiba-tiba pingsan dan tak tertolong jiwanya ketika dibawa ke rumah sakit. Dia mengidap kanker otak stadium tinggi yang tak pernah terditeksi selama ini. 

Cerita film ini sangat sederhana, berkisah tentang kesederhanaan hidup masyarakat di kampung yang memiliki semangat hidup memperjuangkan keluarga tanpa kenal menyerah oleh keadaan. 

Dialog dan pengadeganan serta teknis pengambilan gambar film ini mengingatkan pola eksekusi drama di dalam sinetron televisi. 

Sehingga meskipun kawasan daerah Lahat memiliki potensi alam dan tempat wisata patung batu megalith, sutradara belum secara maksimal menerjemahkannya ke dalam bahasa gambar. 

Film produksi Benning Pictures ini akan tayang di biosokop mulai 17 Mei 2018, dibintangi Fauzi Baadila, Elma Theana, Pong Harjatmo, Bionetta, Novianti, Hazel, Eajendra, Guntur Triyoga, Diza Refengga, Fuad Idris, Mack Prabu, dan Nyimas. (imam

Last modified on Sunday, 13 May 2018
Read 300 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru