Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Delapan media online pengguna foto obyek Tino Saroengallo karya Aryono Huboyo Djati disomasi oleh kuasa hukum fotografer istana yang juga pencipta lagu Burung Camar tersebut.

Kedelapan media yang dinilai melanggar hak cipta itu adalah Grid.id, Tribunnewscom, Detik.com, MetroTVnews.com, MataMata.com, Poliklitik.com, KapanLagi.com, dan Merdeka.com. 

"Kami ingin somasi ini menjadi pelajaran tentang menghargai etika dan karya cipta," kata Aryono kepada sejumlah media di The Reading Room, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (9/8/2048) siang. 

Tino Saroengallo adalah jurnalis, aktor, dan sutradara senior lndonesia yang wafat 27 Juli 2018. Kabar meninggalnya Tino diberitakan luas oleh media-media di Indonesia. Dalam pemberitaan Tino itulah kedelapan media tersebut menggunakan karya foto Aryono tanpa ijin. 

"Foto Tino saya buat atas permintaan Tino pada tahun 2016, untuk buku yang dipersiapkannya. Secara khusus pemotretan di studio yang disaksikan Addie MS," kata Aryono, yang karyanya bercitarasa tinggi dan dikenal 'mahal' bahkan terlelang mencapai diatas Rp5 Miliar pada pameran foto "Viewpoint" di tahun 2004.

Aryono yang didampingi Iwan Pangka alias Paulus Irawan SH selaku kuasa hukum, dan Phoa Bing Hauw pengamat hukum HAKI mengatakan bahwa dirinya teraniaya dalam kasus foto ilegal tersebut. 

"Diantara media tersebut ada yang mengambil foto dari akun Instagram saya yang sudah saya 'lock', tapi lalu dicuri dan, bahkan ada yang menghapus signature saya di foto itu dan mengganti dengan nama medianya. Saya merasa teraniaya sebagai pemilik hak cipta foto itu," lanjut Aryono. 

Dikatakannya,  foto Tino diunggah ke Instagram pertamakali selang beberapa menit setelah mendengar sahabatnya itu wafat. 

Aryono baru mengetahui adanya pemanfaatan ilegal karyanya itu pada 31 Juli 2018, setelah ia browsing kata kunci "Tino Saroengailo".

Itu dilakukannya karena penasaran dengan permintaan rekannya, Noorca M Massardi untuk menggunakan potret almarhum Tino sekaligus file resolusi tingginya untuk penerbitan sebuah buku yang rencananya diluncurkan pada Peringatan 100 Hari Tino Saroengallo. 

Permintaan ini semula ia tolak, karena mengira buku itu adalah buku tentang Tino, sebuah memoar atau eulogi, bukan buku Tino sendiri. 

Hasil googling membuat Aryono naik darah. la seketika menulis sebuah status Facebook menegur Grid.id, media pertama yang ia dapati menerbitkan potret Tino karyanya sebagai ilustrasi berita kepergian Tino.

"Saya mengirim tagihan, sementara hasil pembayarannya akan saya serahkan ke keluarga Tino, mengingat keluarga Tino telah menghabiskan banyak uang untuk biaya pengobatan," ungkap Aryono. 

Setelah itu, Aryono menemukan lagi dan lagi media yang membajak karyanya, hingga tercatat 8 media. 

Pelanggaran oleh ke-8 media tersebut berbeda-beda. Dari penerbitan tanpa ijin, yang dilakukan Detik.com, MetroTVNews.com, MataMata.com, penghilangan signature Aryono dari foto, seperti yang dilakukan Grid.id.

Ada juga yang memanipulasi foto menjadi hitam-putih dengan pangkasan oleh KapanLagi.com yang kemudian diterbitkan ulang oleh Merdeka.com tanpa pengecekan, sampai menjadi gambar vector, sebagaimana yang ada di Pohklitik.com, bahkan penggantian signature Aryono dengan Grid.id di TribunNews.com

Selanjutnya, teguran yang disampaikan pada Grid.id hanya ditanggapi dengan penurunan foto tersebut dan pengumuman penggantian foto yang digunakan di berita terkait karena adanya keberatan dari pemilik foto, seakan-akan pelanggaran hak cipta yang dilakukan selesai sampai disitu.

Dalam somasi tertanggal 7 Agustus 2018, Aryono menuntut hak moril atas karyanya dan hak ekonomi yang hasilnya akan diberikan pada keluarga Tino. (imam

Last modified on Thursday, 09 August 2018
Read 211 times
Rate this item
(0 votes)
Tagged under
TIS

шаблоны joomla на templete.ru