Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Isu tidak sedap menerpa Festival Film Internasional Balinale ke-12, yang dibuka pada Senin (24/9/2018) di Bali.

Penyelenggaraan ricuh dan terpecah akibat ditelikung sebuah yayasan yang mengklaim mendapat izin resmi dari panitia pusat Balinale di Bali. Yayasan itu bergerak di luar koordinasi panitia Balinale. Atas kekisruhan ini, Groza Subhakti selaku konsultan dibebastugaskan dari jabatannya.

Sumber tabloidkabarfilm.com yang tak ingin disebut namanya, mengatakan panitia Balinale mempekerjakan Groza Subhakti sebagai konsultan namun penyebutan untuk keluar adalah Direktur.

"Sejak tanggal 24 September, sudah tidak ada hubungan kerja dia (Groza) dengan panitia Balinale. Semua kerjasama dengan yang ditandatanganinya, bukan tanggungjawab panitia Balinale. Tapi aktivitasnya dibiarkan berlanjut untuk meredam masalah ini," kata sumber tersebut, Rabu (26/9/2018). Dia juga mengatakan, panitia Balinale berencana akan melanjutkan persoalan ke jalur hukum.  

Masih menurut sumber tadi, panitia pusat Balinale sangat kecewa dan merasa kecolongan karena tidak pernah ada laporan dari Groza yang bergerak bersama Yayasan Demi Film Indonesia di Jakarta.

"Tiga hari menjelang opening ceremony, panitia pusat Balinale baru tahu bahwa selama beberapa bulan ada pertemuan dan surat menyurat antara Groza, Yayasan Demi Film Indonesia dengan pihak-pihak sponsor. Mereka memakai kop surat resmi panitia Balinale, tapi mencantumkan alamat dan nomer telepon lain," jelasnya. 

Dari hasil kerjasama dengan sponsor, yang tidak diketahui panitia adalah pemasukan Rp 200 juta dari sebuah lembaga. Hal itu terungkap ketika panitia mempertanyakan logo sponsor yang tidak diketahui asal-usulnya kepada Groza. 

"Orang dari DFI yang menjawab dan mengatakan uang Rp200 juta dari sponsor itu sudah dipakai untuk mendatangkan artis dan sebagainya. Tapi, mereka tidak bisa memberikan laporan ke panitia tentang siapa saja artis itu," jelas sumber tadi. 

Mengomentari kisruh tersebut,  Groza Subhakti saat dikonfirmasi masih berada di Bali, mengatakan tidak ada masalah di Balinale yang memasuki hari ke-3. Balinale berlangsung mulai 24-30 September 2018.

"Sebenarnya ini salah paham saja. Tidak ada persoalan negatif dari acara Balinale. Justru kita berharap berlangsung lancar. Semalam, kita bikin nonton bersama film perjuangan bersama 200 siswa SMU. Dan, setiap hari kami akan mengundang 200 siswa untuk nonton film Indonesia," kata Groza, yang berlatar belakang produser film. 

Menurut Groza, dirinya ditunjuk secara resmi oleh panitia pusat Balinale di Bali untuk membentuk tim marketing di Jakarta. Pihaknya lalu bekerjasama dengan sejumlah BUMN. "Tapi, ada juga sponsor yang menyetor langsung ke Balinale Pusat," katanya. 

Namun saat ditanya ihwal kerjasama Balinale dengan Yayasan Demi Film Indonesia, Groza enggan memberikan penjelasan. Bahkan terkesan melemparkan persoalan. "Kayaknya memang ada surat resmi kerjasama antara DFI dengan Balinale. Tapi itu antara pihak Balinale Pusat di Bali. Mungkin yang lebih paham soal itu pak Yan Wijaya atau pak Ipik dari DFI," kata Groza. 

Di lain pihak, panitia pusat Balinale di Bali membantah memberikan surat rekomendasi atau bekerjasama dengan Yayasan DFI. "Panitia Balinale tidak pernah bekerjasama dengan DFI. Mereka yang di Jakarta justru yang memakai kop surat Balinale untuk melakukan kerjasama dengan pihak-pihak yang sama sekali panitia tidak diberitahu," kata sumber valid di Balinale.

Menurut sumber tadi, bahkan sejumlah banner sempat dipasang oleh Yayasan DFI di sekitar lokasi acara yang tidak punya izin dari panitia. "Semua banner DFI akhirnya disingkirkan karena memang tidak ada kerjasama dan entah izin darimana mereka berani naruh banner," katanya. 

 

Pemerintah kurang peduli

Sebagai sebuah ajang perfilman berskala internasional, Balinale telah berlangsung selama 12 tahun dan tidak pernah meminta biaya kepada pemilik film yang terpilih untuk diputar di ajang apresiasi, eksibisi sekaligus kompetisi tersebut. 

Meski mendapat respons dari masyarakat film dunia dengan keikutsertaan 30 negara nampaknya pemerintah dalam hal ini Pusat Pengembangan Perfilman tak tertarik memberi dukungan selayaknya. 

"Pusbangfilm tidak memberikan fasilitasi berupa uang. Hanya bantu konsumsi untuk siswa yang menonton film di bioskop yang akan diputar oleh pihak Balinale. Itupun nanti pada waktunya, kalau tidak salah tanggal 27 September," kata Kepala Pusbangfilm Kemendikbud, Maman Wijaya yang dikonfirmasi di hari yang sama. 

Besarnya dukungan Pusbangfilm yaitu untuk 400 siswa, yang masing-masing mendapat konsumsi seharga Rp38.000. Apakah ada pos lainnya? "Iya, hanya itu. Karena tahun lalu sudah pernah," kata Maman Wijaya. 

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak Yayasan DFI yang keberangkatannya juga difasilitasi Pusbangfilm belum memberikan klarifikasi dan tanggapan atas kejadian yang memalukan tersebut. (imam

Last modified on Thursday, 27 September 2018
Read 871 times
Rate this item
(1 Vote)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru