Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Bioskop rakyat yang sempat digagas mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) akan mulai beroperasi pada Januari 2019. Bioskop kelas 'middle-up' bernama Indiskop dikelola PT Keana Films melibatkan Pemda DKI, PD Pasar Jaya, Kadin DKI, dan Badan Ekonomi Kreatif.

Sekda DKI, H Saefullah secara simbolis memasang tiang pancang Indiskop di Pasar Teluk Gong, Jakarta Utara, Jumat (23/11/2018) pagi. 

Bioskop rakyat ini sengaja dibangun dengan harga tiket masuk ekonomis. Ditargetkan harga dari tiket bioskop untuk film Indonesia berkisar antara Rp 15.000- Rp 20.000 saja.

"Kehadiran bioskop ini pastinya untuk sebagian masyarakat Jakarta agar tercipta keseimbangan hak nonton," ujar Sekertaris Daerah DKI Jakarta Saefullah.

Saefullah juga menyatakan hasil koordinasi, bioskop ini dapat dibuka secara umum Januari 2019.

Dia berpesan agar PD Pasar Jaya juga melengkapi bioskop dengan fasilitas penunjang seperti tempat ibadah atau mushola.

"Mungkin fasilitas-fasilitas lain di pasar ini selain bioskop, tempat ibadahnya juga tidak kalah dibanding dengan tempat nontonnya.

"Jadi kalau tempat nonton ber-AC masa tempat ibadahnya tidak tidak AC," ungkapnya.

Saefullah juga berharap Pasar Teluk Gong menjadi tempat tontonan para Jakmania saat siaran langsung pertandingan Persija. Sehingga, bioskop dapat selalu ramai dan diharapkan tiket diborong habis.

"Saya harap bioskop ini bisa menyiarkan siaran langsungnya. Pasti anak-anak The Jak itu hadir di sini saya yakin tiketnya akan diborong habis termasuk jajanan yang ada di Pasar Jaya juga," ujarnya.

Saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, Ahok mengagas agar di tiap pasar milik PD Pasar Jaya dibangun bioskop rakat. Tujuannya untuk memberikan hiburan kepada warga Jakarta dengan harga terjangkau.

 

Tak kalah dari bioskop mainstream

Pengelolaan Indiskop Pasar Teluk Gong diserahkan pada PT Keana (Kreasi Anak Bangsa) milik aktris dan Ketua Parfi '56, Marcella Zalianthy. "Tonggak baru sejarah perfilman hari ini ditandai dengan pemancangan tiang pertama," kata Marcella.

Dijadwalkan, bioskop hasil konsorsium sejumlah pihak akan beroperasi mulai Januari 2019. "Ada dua teater, masing-masing berisi 112 kursi,  jumlah seluruhnya 224 kursi. Harga tiket saat ini diperkirakan Rp15.000 - Rp20.000 Rp20.000," jelas Marcella.

Selain sarana menonton film, bioskop nantinya dijadikan pusat kreasi (creative center).

"Siapa saja, terutama kalangan muda yang pertumbuhannya terus signifikan," lanjut Marcella  seorang aktris peraih piala citra yang merupakan Ketua Umum Parfi 56, dan Direktur Utama Keana Film yang memiliki gagasan untuk membuat bioskop rakyat.

Keinginan ini disampaikannya ke beberapa pihak, dan salah satunya disambut oleh Pemda DKI Jakarta menyediakan sebagian ruang di Pasar Teluk Gong diubah menjadi ruang bioskop dan creative center.

"Saya bersyukur sekali gagasan membuat Indiskop ini," lanjut Marcella.

Nantinya bioskop ini akan menjadi proyek dengan 2 layar ditambah dengan fasilitas penunjang sebagai pusat kegiatan berkreasi bagi masyarakat sekitar pasar teluk Gong ini," kata Marcella.

Pembangunan bioskop di pasar Teluk Gong ini, merupakan pilot project. Diharapkan nanti kota kota lain akan menyusul dalam waktu dekat.

Dengan adanya Indiskop, lanjut Marcella, maka semakin terbuka pasar yang lebar bagi produser film untuk memasarkan filmnya. Sementara itu, bagi masyarakat semakin terbuka juga kesempatan untuk menonton film film terutama karya produser dalam negeri.

"Saya tidak menyebut Harga Tiket Masuk ke Indiskop sebagai murah.  Karena memberikan kesan akan fasilitas yang serba seadanya. Tetapi, harga  terjangkau.  Dengan fasilitas yang tidak jauh berbeda dengan bioskop yang ada di pusat pusat perbelanjaan mewah," tambah Marcella.

Di sisi lain, Indiskop akan menambah jumlah layar bioskop yang saat ini mencapai 1.150 an layar di seluruh Indonesia.

"Indiskop juga menjadi alternatif bagi peredaran film Indonesia yang sering mendapat perlakuan tidak adil dari pemilik pemilik jaringan bioskop. Hanya karena mendapat jumlah penonton yang kurang di layar mereka, film langsung diturunkan  dan produser merugi.

Padahal jika diputar di bioskop dengan harga terjangkau, bisa jadi film yang tadinya dianggap tidak laku, ternyata laku dikalangan masyarakat menengah ke bawah   yang enggan menonton di pusat perbelanjaan mewah," katanya.

Fasilitas penunjang lain seperti bangku, sistem tata suara, proyektor dan layar tidak jauh berbeda dengan bioskop berjaringan yang sudah ada.

"Teknologi digital saat ini membuat segalanya jadi mudah dan berkualitas.

"Saya mengajak pemda-pemda di kota lain untuk mendirikan indiskop sebagai bentuk layanan kepada masyarakat yang membutuhan sarana hiburan dan pengembangan kreativitas. Investasinya tidak mahal tapi dampak yang ditimbulkan sangat besar, memberi akses menonton bagi masyarakat menengah dan mengurangi pembajakan karya film," jelas Marcella. (imam)

Last modified on Friday, 23 November 2018
Read 430 times
Rate this item
(0 votes)
Tagged under
TIS

шаблоны joomla на templete.ru