Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Ir Chand Parwez Servia mengakui pihaknya menerima bantuan dana dari Pusat Pengembangan Perfilman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbangfilm Kemdikbud).

"Kami menerima dana bantuan operasional kesekretariatan. Tapi, itu bukan anggaran seperti kabar yang beredar," kata Chand Parwez kepada tabloidkabarfilm.com, Jumat (15/2/2019) siang. 

Hal itu dikatakan Chand Parwez menanggapi kabar yang menyebut, BPI mendapat anggaran Rp1 Miliar dari Pusbangfilm. 

"Kalau soal berapa besarnya bantuan itu, saya tidak tahu persis. Karena lebih teknis, bisa tanya kepada Ketua Bidang Pendanaan," ujar Parwez. 

Menurut pemilik rumah produksi Kharisma Starvision Plus itu, pengajuan  bantuan operasional itu dilakukan BPI berdasarkan hasil rapat. 

"Karena BPI punya gedung, tapi tidak ada fasilitas semacam internet, dan lainnya maka kami ajukan bantuan ke Pusbangfilm," katanya. 

Pada tahun pertama kepengurusannya, bantuan tersebut tidak secara otomatis diterima. "Karena sifatnya bantuan, jadi sesuai kebutuhan," lanjutnya. 

Diakui Parwez, organisasi nirlaba yang pendiriannya merupakan amanat Undang Undang No. 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, tidak punya dana operasional. 

"Kami juga tidak mungkin bisa mengumpulkan uang dari stakeholder," ujarnya. 

Menurut dia, pengurus BPI telah melakukan tugas untuk memikirkan perbaikan perfilman. Bahkan, pekerjaan utama pengurus BPI terbengkalai karena mengurus organisasi.

"Masih banyak pekerjaan rumah BPI, seperti soal penerbitan RIPN (Rancangan Induk Perfilman Nasional) itu sangat berat. Tapi, secara umum perfilman nasional kita semakin membaik, ini jangan diabaikan," jelas Ketua BPI periode 2017-2020 itu. 

Chand Parwez menegaskan, bahwa dia tidak akan maledeni pihak-pihak yang ingin mematahkan semangat para pengurus yang mau bekerja. 

"Sebagai orang Sunda, saya punya prinsip, kalau mau menangkap ikan sebaiknya di air yang bening," kata Parwez.

Dia juga mengatakan, tidak pernah memakai dana bantuan itu untuk pribadi. "Saya tidak pernah pakai uang bantuan itu sepeserpun, karena saya sudah kerja sepenuh hati untuk memperbaiki perfilman kita," tegas Parwez. 

 

Bubarkan BPI

Sementara itu, isu perpecahan di tubuh pengurus BPI periode 2017-2020 sudah merebak lantaran pengurus dianggap bersikap eksklusif, dan tidak transparan. Bahkan, ada pengurus yang mengundurkan diri. 

Dari 46 stakeholder anggota BPI, adalah organisasi Garuda Nusantara (GASA) yang dengan keras meminta agar BPI dibubarkan dan digantikan dengan Dewan Film Nasional. 

Menurut Kusumo Priyono selaku Ketua GASA, berharap BPI segera menggelar rapat untuk evaluasi. 

"Sebaiknya, BPI dibubarkan dan diganti dengan Dewan Film Nasional yang lebih memiliki otoritas dan pendanaan yang jelas. Sekarang ini BPI itu seperti badan, tapi gak ada kepala dan kakinya.Lha, badan apa itu?" kata Kusumo. 

Perubahan BPI menjadi DFN bisa dilakukan melalui mekanisme perubahan UU. 

"Mumpung UU Film masuk dalam Prolegnas, sebaiknya BPI terlibat di sana," ungkap pria yang kerap berpakaian serba putih dan peci ala Bung Karno itu. (imam)

Last modified on Friday, 15 February 2019
Read 454 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru