Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Pembahasan seputar tata edar film tidak pernah tuntas. Di satu pihak, sebagian produser cemburu terhadap nasib film mereka dibanding film lainnya. Sementara pengelola bioskop punya alasan menilai kelayakan film untuk bisa tayang.

Jimmy Haryanto selaku Direktur Operasional Cinema XXI, menjelaskan sejumlah hal terkait tata edar film pada Rapat Koordinasi Pengembangan Film yang diadakan Pusat Pengembangan Film (Pusbang Film) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Bogor, Jawa Barat akhir pekan lalu.

"Ada dua golongan besar film, yaitu film impor dan film produksi dalam negeri. Jelas bahwa film yang diimpor adalah fllm yang sudah diketahui akan memperoleh penonton yang cukup baik," kata Jimmy.

Film impor terbagi menjadi dua, yaitu film milik Motion Picture America seperti Disney, Sonny, UIP, Columbia yang diimpor dan diedarkan di Indonesia oleh PT Omega Film. Kedua, film yang diimpor para importir masing-masing dan diputar di bioskop berdasarkan kesepakatan antara importir dengan pemilik bioskop. 

Sementara, film produksi dalam negeri dikelompokkan menjadi dua, yaitu film produksi perusahaan film yang selalu memproduksi film atau PH besar, seperti MD Picture, Starvision, Multivision, Falcon, Max, Rapi Film, dan Miles.

"Selaih itu, ada film produksi para kreator film," kata Jimmy seraya mengatakan saat ini terdapat hampir 200 judul yang minta jadwal ke Cinema XXI.

"Grup bioskop CGV dan Cinemaxx hanya akan menayangkan bila film tersebut diputar di jaringan bioskop Cinema XXI," ujar Jimmy. 

Di Cinema XXI ada tim peneliti yang akan melihat trailer film tersebut, dan sesudah melakukan penilaian, maka akan ditetapkan film tersebut layak ditayangkan di bioskop.

"Bila film tersebut layak diputar, maka akan ditetapkan tentang rencana jadwal pemutarannya. Termasuk berapa banyak jumlah bioskop dan layar yang untuk film tersebut," ungkap Jimmy.

Masalahnya, kerap terjadi, para pembuat film meminta agar film diputar dalam layar yang banyak agar bisa mendapatkan penonton yang banyak.

"Padahal, anggapan ini keliru. Karena layar yang banyak tidak menjamin perolehan penonton yang banyak. Tim penilai film yang akan diputar sudah paham dan mengerti hal ini. Artinya, jika ternyata tim penilai salah dalam menentukan jumlah layar, maka hanya akan terjadi satu hari keterlambatan saja, karena besoknya layar sudah pasti akan bertambah," lanjut Jimmy.

Sebaliknya, bila jumlah layar banyak tetapi penontonnya kurang, hal itu akan merugikan bioskop. "Bagaimana bisa bioskop bertahan? Untuk biaya sewa, listrik, karyawan tetap harus keluar," katanya.

Pengurus Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia ini memberi ilustrasi dalam hal penonton banyak seperti Dilan.

"Dilan tidak perlu kita komentari lagi. Sebab hanya ada dua film di semua bioskop yaitu Dilan dan Captain Marvel," ungkapnya. 

Kalaupun filmnya kurang diminati penonton, menurut dia, tidak langsung film itu turun. Pihaknya pertama akan mengurangi jumlah layar.  Kalau masih kurang penonton Iagi maka dilakukan pembagian layar (satu layar untuk dua judul). Bila tidak ada penonton, barulah film diturunkan," papar Jimmy.

Permasalahannya, hasil yang diterima produser (saat ini kurang lebih 15.000 pertiket), tidak menutupi biaya yang dikeluarkan, dan income film tidak menutupi biaya ini. Income hanya bisa didapatkan bila film tersebut diputar di bioskop," katanya. 

Kemungkinan, produser hanya melihat dari sisi produser saja tanpa melihat dari sisi bioskop. Solusinya untuk itu adalah menambah jumlah bioskop dan layar, agar banyak kesempatan film produksi dalam negeri diputar. 

"Kalau sudah selesai pemutaran di tingkat DCP, sebaiknya ada pemutaran film dengan format lain yang lebih murah investasinya sehingga bisa menjual harga tiket dengan lebih murah pula," pungkas Jimmy yang juga pengurus Gabingan Pengela Bioskop seluruh Indonesia. (imam)

Last modified on Tuesday, 19 March 2019
Read 581 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru