Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Perancang busana pelopor kain tenun songket nusantara, Prof Hj Anna Mariana SH, MA, MBA akan memulai tahap baru pengenalan kain tenun nusantara kepada masyarakat penghuni rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan.

"Saya berharap pekan ini bisa menandatangani kerjasama dengan pihak LP dan Rutan untuk melatih membuat kain tenun kepada perempuan binaan," kata Anna Mariana, usai menjadi narasumber talkshow "Memandirikan Perempuan yang Berhadapan dengan Hukum" di Jakarta, Kamis (25/4/2019).

Menurutnya, pelatihan kepada perempuan binaan LP dan Rutan adalah bagian dari sumbangsihnya untuk memperjuangkan kaum perempuan agar menjadi bekal kemandirian nantinya.

Jumlah perempuan binaan di seluruh Indonesia berdasar catatan Ditjen Pemasyarakatan sebanyak 14.500 orang.

"Diantara mereka para perempuan penghuni Lapas pasti punya potensi dan bakat di dunia fashion. Jika saya diberi kesempatan melatih mereka, saya sangat senang sekali," ungkap Anna, yang selama 30 tahun pengabdiannya di dunia fashion telah membina puluhan ribu perajin tenun di seluruh Indonesia.

Talkshow yang digelar Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS), Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Jakarta itu dalam rangka memperingati Hari Kartini 21 April, tak hanya menghadirkan Anna Mariana tapi narasumber perempuan lainnya, yaitu Airin Rachmi Diany (Walikota Tangerang Selatan), Tri Palupi, dan Miranda Goeltom.

Acara dipandu Anie Rachmi ini adalah rangkaian peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan ke-55. 

Peringatan Hari Kartini merupakan momentum tepat untuk merefleksikan peranan panting perempuan dalam kemajuan sebuah bangsa.

Kegigihan RA Kartini dalam membawa semangat kemajuan bagi kaum perempuan di Tanah Air dapat menjadi tauladan bagi perempuan yang berhadapan dengan hukum atau Warga Binaan Pemasyarakatan Perempuan yang sedang menjalani pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) di seluruh Indonesia.

”Keadaan WBPP yang menjalani masa hukuman dan juga pembinaan ini diharapkan menjadi titik balik kehidupan mereka untuk bangkit menjadi pribadi yang lebih baik,” jelas Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS), Sri Puguh Budi Utami dalam sambutannya.

Utami menambahkan, kemajuan positif yang dialami warga binaan pemasyarakatan perempuan tidak sebatas baik bagi dirinya sendiri, namun juga diharapkan turut serta memberi kontribusi aktif dan positif dalam pembangunan bangsa.

Hal ini sejalan dengan program pembinaan di Lapas dan Rutan yang fokus pada kegiatan pembinaan kemandirian guna meningkatkan kemampuan diri (life skills) dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya melalui pelatihan keterampilan dan kemandirian.

Kegiatan ini akan menjadi bekal keahlian dalam rangka meningkatkan kesejahteraan diri dan keluarga ketika warga binaan pemasyarakatan perempuan nantinya sudah bebas dari masa hukuman dan kembali ke masyarakat.

Ditjen PAS juga mengajak dan meningkatkan kerja sama dengan mitra terkait dalam mewujudkan upaya peningkatan program kemandirian ini.

”Menjadi tantangan tersendiri bagi Ditjen PAS untuk membina dan mengantarkan warga binaan perempuan menjadi terampil dan mandiri di tengah-tengah keterbatasan yang ada. Maka diperlukan pula keterlibatan pihak ketiga dari Kementerian/Lembaga, LSM, maupun Lembaga Pelatihan Kerja dan para pemerhati perempuan dalam kegiatan pembinaan mulai dari produksi hingga distribusi produksi yang dihasilkan di dalam Lapas dan Rutan," imbuh Utami. (imam

Last modified on Saturday, 27 April 2019
Read 252 times
Rate this item
(0 votes)
Tagged under
TIS

шаблоны joomla на templete.ru