Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Komunitas film kota Makassar kembali memproduksi film, kali ini berjudul Ati Raja, berdasarkan sejarah penyair Ho Eng Djie (1906 – 1960) semasa aktif di tahun 1930an. Sosok Ho Eng Djie nyaris terlupakan..

“Kami mulai produksi film “Ati Raja” tahun 2017, dan momentum pembentukan Kabinet Indonesia Maju sangat tepat dengan semangat film yang akan tayang mulai 7 November mendatang,” kata sutradara Shaifudin Bahrum di Losari Roxy Hotel, Jakarta, Rabu (30/10/2019).

Dalam kegiatan “press juncket” film Ati Raja itu selain diputar teaser trailer, juga pengenalan lagu “Ati Raja” ciptaan Ho Eng Djie yang sangat populer di Sulawesi Selatan.  Adalah komunitas Persaudaraan Peranakan Tionghoa Makassar dan 786 Production yang bekerjasama meproduksi film berlatar pembauran warga etnis Tionghoa peranakan dengan masyarakat Makassar.

“Ho Eng Djie adalah warga Tionghoa peranakan yang unik. Melalui lagu-lagu ciptaannya, ia berusaha menyampaikan beragam pesan moral mulai dari masalah toleransi hingga cinta,” kata Shaifuddin didamping Syamsul Lussa, anggota Lembaga Sensor Film (LSF) kelahiran Bugis, Makassar. 

Menurut Shaifuddin Bahrum yang akrab disapa Daeng Uddin, jejak sejarah Ho Eng Djie terdapat di beberapa manuskrip. Di usia belia, Ho Eng Djie disapa Baba Tjoi. Dia mengenyam pendidikan di sekolah partikelir milik orang Melayu, Ince Bau Sandi di Makassar. Dia mempelajari ilmu sastra Melayu dan Makassar, serta belajar menulis lontar dengan Bahasa Makassar.

“Menginjak remaja, Baba Tjoi menunjukkan bakat musiknya dan mulai mempopulerkan syair-syair lewaf nyanyian dan musik daerah. Pada 1939, Ho Eng Dji masuk studio rekaman Canari di Surabaya unfuk merekam lagu-lagu ciptaannya,“ ujar Daeng Uddin.

Hingga tahun 1942, Ho Eng Djie berhasil membuat rekaman musik daerah Sulawesi Selatan. Selain musik daerah Makassar, dia juga menggarap musik daerah Bugis, Mandar, dan Selayar sebanyak 3 album piringan hitam dalam kurun waktu empat tahun.

“Sebelum pecah Perang Dunia Kedua tahun 1945, rekaman lagu Ho Eng Dji berhasil terjual sampai 20 ribu keping tidak hanya di Indonesia bahkan hingga ke Malaya dan Singapura,“ kata Daeng Uddin yang merupakan aktivis kesenian di Makassar.

Selain lagu “Ati Raja”, karya ciptaan Ho Eng Dji terkenal dan dikenang hingga kini, diantaranya Sailong, Dendang-dendang, dan Amma Ciang, yang semakin mengukuhkan dirinya sebagai musisi dan pencipta lagu hingga akhir hayatnya,

“Ho Eng Dji adalah pencipta lagu Ati Raja yang sangat populer di Sulawesi Selatan. Lagu itu sangat sarat makna, yakni sebagai ucapan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa,“ jelas Daeng Uddin.

Syamsul Lussa memberi kesaksian bahwa lagu Ati Raja menjadi lagu wajib di Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar. “Sampai saya menjadi anggota LSF, tidak tahu siapa pencipta lagu ini, yang memberi kesan sangat kuat dalam batin,” kata Syamsul mengenang masa-masa kuliah di kampusnya. Menurutnya, pesan yang disampaikan film menjadi momentum yang baik bagi Indonesia yang baru membentuk Kabinet Indonesia Maju.

 

Terbentur paradoksal perfilman

Di sisi lain, Syamsul mengatakan terjadi sebuah pradoksal dalam perfilman Indonesia terkait klasifikasi penonton bioskop. Film Ati Raja menghadapi paradoks, bahwa seharusnya bisa ditonton anak usia 7 sampai 12 tahun. Tapi tidak ada tempat untuk usia itu, karena UU merumuskan untuk “Semua umur”, yaitu dari 0 sampai 12 tahun,” katanya.

Berdasarkan aturan UU Perfilman tersebut, bioskop kehilangan captive market, yaitu penonton berusia antara 7-12 tahun. “Selain itu, subtitel juga merupakan paradoks dalam film, karena ada larangan dubbing, sementara banyak film yang didubbing,” ungkap Syamsul.

Menurut Syamsul, film dengan klasifikasi “Semua Umur” seharusnya tidak hanya diberikan subtitel tetapi juga harus didubbing. “Kalau tidak didubbing, bagaimana bisa anak usia 2 tahun bisa membaca subtitel?,” katanya.

Kehadiran film “Ati Raja” menurutnya akan mendapat sambutan dari berbagai kalangan, termasuk pejabat terutama masyarakat di Sulawesi Selatan. Jadwal tayang film ini bersamaan dengan menyambut HUT Kota Makassar yang ke-412.

“Semoga film ini menginspimsi anak muda zaman now,” kata Daeng Uddin, tentang film yang mengambil setting di daerah Makassar, Barru, Pare-pare dan Gowa yang masih asri saat itu.

Ho Eng Dji merupakan sosok seniman dan budayawan utama pada masanya, dan hingg kini karya-karyanya tetap abadi. Namun hampir semua karyanya diberangus oleh pencabutan hak cipta, dan menjadikannya NN (no name) hingga kini.

Skenario film ditulis oleh Ancu Amar, Yudikatif Sukatanya dan Shaifuddin Bahrum, didukung sejumlah pemeran antaranya Fajar Baharuddin (Ho Eng Dji), Jennifer Tungka (Soang Kie), Stephani Vicky Andries (Ho Eng Gwee), Chesya Tjoputra (Yang Tju), Goenawan Monoharta (Papa Ho Eng Dji), Yatti Lisal (Mama Ho Eng Dji), Zulkifli Gani Otto (Gubernur Belanda), serta Noufah A. Patajagi, Saenab Hasmar, Agung Iskandar, Wandy, Syahriar Tato, dan Kiki Hehanusa. (imam).

Last modified on Thursday, 31 October 2019
Read 208 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru