Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

BADAN Perfilman Indonesia (BPI) melalui Festival Film Indonesia merancang perubahan ekstrem mulai dari merekrut panitia, pengerahan juri, jasa auditor, hingga konsep tayang di tivi tanpa break iklan. “Kita ingin mengembalikan marwah festival, marwah pestanya orang film,” kata Kemala Atmojo, Ketua Panitia Pelakana FFI 2014 kepada tabloidkabarfilm.com, Senin (13/10/2014). 

Penunjukan Kemala Atmojo sebagai Ketua Pelaksana FFI disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan No. KM.22/HM.304/MPEK/2014 tertanggal 16 Juni 2014.

Berikut wawancara Teguh Imam Suryadi dengan wartawan yang juga produser Kemala Atmojo di sekretariat BPI sekaligus sekretariat FFI 2014, Gedung Film, Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan.

Sudah berapa film yang masuk ke panitia FFI 2014?

Sampai hari ini ada belasan judul, silakan dicek ke bagian pendaftaran, diantaranya ada film Sokoloa Rimba, Soekarno, dan kabarnya akan ada Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk. Mudah-mudahan akan terus bertambah. Biasanya, film peserta terkumpul menjelang akhir penutupan pendaftaran. Saat ini, kami belum launching. Nanti tanggal 17 Oktober kita adakan launching.

Soal berita boikot FFI 2014 apa komentar Anda?

Memang sebaiknya tidak ada boikot. FFI itu milik bersama. Inilah momentum kalau orang mau filmnya dinilai secara obyektif, ya harusnya ikut. Kalau orang merasa filmnya bagus dan layak dihargai, ya saatnya juga sekarang ikut. 

Karena jurinya tak hanya kredibel tapi cukup banyak. Para juri itu nantinya menilai, dan mereka tidak tahu siapa yang menang. Bahkan yang masuk nominasi saja mereka tidak tahu. Jadi lucu kalau ada istilah boikot-boikotan dan sebaiknya memang tidak ada. Itu sudah seperti jaman dulu.

Inilah momen dimana kita semua terlibat. Ini sudah dibuktikan oleh panitia yang sekarang. Dari awal kita diminta menjadi panitia FFI, kita kirim surat ke seluruh stakeholder BPI dan non BPI termasuk PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia) untuk menjadi panitia.

Sebenarnya di BPI sendiri, kita sempat tidak punya pikiran untuk jadi panitia FFI. Kita justru minta, yang ada di kepala kita adalah seperti pak Gope Samtani, Parwez, bahkan terfikir anaknya Parwez. Sempat juga terfikir Sunil Soraya. Itu semua kita fikirkan untuk menjadi panitia. Kita hanya mau memberi masukan. 

Tapi sampai proses terakhir, ternyata sulit. Termasuk Dewi Gontha, kita panggil. Saya yang minta dia jadi ketua panitia FFI, tapi dia tidak berani karena merasa belum punya pengalaman di film. Kalau di musik ya sudah nomer satulah. Dia minta jadi ketua bidang acara saja.

Akhirnya karena waktu berjalan terus, kita mengambil alih. Kebetulan di BPI saya yang membawahi bidang festival dalam negeri. Jadi ya sudahlah, Pak Kemala sajalah, begitu kira-kira. Tetapi, intinya kita mengirim surat ke semua organisasi untuk menjadi panitia.

Itulah sebabnya kepanitiaan FFI sekarang hampir melibatkan semua stakeholder. Tapi panitia itu bukan pilihan saya, melainkan kiriman dari masing-masing organisasi. Itu untuk membuktikan BPI atau panitia tidak ingin ada ‘klik-klikan’, bukan hanya asal temen-temenan. Memangnya saya kenal sama panitianya? Gak kenal. Semua nama panitia kiriman organisasi, namanya saya tidak hapal.

Sebagian besar surat kami dibalas, termasuk PPFI juga membalas surat. Tapi dengan alasan karena ada kesibukan dan macam-macam sehingga tidak bisa ikut dalam kepanitiaan FFI tahun ini. Yang membalas surat disertai nama-nama yang dikirim kita rekrut jadi panitia. 

Anggaran FFI 2014 kabarnya turun, atau berapa sebenarnya?

Angka terakhir ketika Event Organizer menang (PT Barokah Lima Zarah), saya tidak tahu. Tapi berkisaran Rp10 Miliar. Mungkin lho ya? Tapi kan itu masih akan dipotong-potong. Mungkin lho, ya? Saya tidak tahu, karena belum bertemu dengan EO-nya. Saya tidak tahu dia menawar berapa dan menang di angka berapa. Kalau pagu biaya FFI bisa dilihat di internet disebutkan Rp13,7 Miliar. Nah, berapa dia menang saya tidak tahu. Yang pasti, dari hasil tawarannya nanti ada biaya pajak, ada keuntungan dia, dan lain-lain sehingga nilai akhirnya saya belum tahu berapa yang riil.

Apakah jumlah itu cukup? 

Kalau mengikuti konsep awal kita, pasti tidak cukup. Karena dari sisi penjurian saja sudah beda banget. Sekarang jurinya bisa mencapai 120 orang total. Termasuk juri film pendek, film animasi, dan FTV. Lha berapa mau dibayar. Biasanya di tahun-tahun  sebelumnya biasa dibayar mahal, sekarang dengan ditambah 100 orang, berapa duitnya? Itu kalau mau menuruti standar yang umum.

Tapi panitia yang sekarang semangatnya berbeda. Semangat perubahan jauh lebih penting daripada semangat untuk mencari duit.

Misalnya saya, honor saya sendiri yang mengajukan dan panitia lainnya hanya Rp 3 Juta. Honor Christine Hakim itu Rp3 Juta, saya juga. Anda boleh compare dengan FFI tahun lalu berapa mereka dibayar. Silakan cek ke Pak Armein (Direktur PIP) atau Pak Ahman Sya (Dirjen EKSB Kemenparekraf), berapa Kemala Atmojo mengajukan anggaran untuk honornya dan panitia lainnya. Kalau ada lebih dari 3 Juta silakan balik lagi ke sini, dan jangan percaya saya seumur-umur.

Honor perbulan itu, paling top hasil akhirnya Rp15 Jutaan. Mulai dari persiapan sampai FFI berakhir tidak akan lebih dari itu. Ini bukan ingin disebut sok pahlawan atau apapun itu. Kita mendingan concern pada konten daripada mikirin duit. Karena kita tahu konten jauh lebih penting. Kita ingin buktikan, bikin festival yang benar menurut versi kita. 

Makanya kita berkorban untuk diri kita sendiri dulu. Dan beberapa teman lainnya setuju. Ada juga juri yang bilang, kamu tidak usah pikirin honor kalau niatmu begitu. Yang penting kita laksanakan dengan baik dan mudah-mudahan sukses.

Jadi tidak ada mikir honor, meski ada satu dua juri yang bertanya juga, tapi secara umum dengan kita beri pemahaman soal semangat ini rata-rata mereka menerima. Ada sebagian juri saat ini yang juga juri FFI tahun lalu. Mereka terkejut juga dengan honor yang besarnya 4 kali lebih kecil dari yang mereka terima tahun lalu.  Kita jelaskan, bahwa kita libatkan banyak orang. Berapa uang keluar kalau dengan honor seperti dulu. Tidak akan cukup.

Imbasnya termasuk ke honor artis. Pasti juga dipangkas karena concern kita itu tadi. Kita akan jelaskan FFI kali ini kalau berharap duit, kamu keliru. Tidak bersama kita, yang tidak bersemangat perubahan. Kamu bersama kita kalau semangatnya sama.

Bisa dibayangkan seorang Christine Hakim hanya dibayar 3 juta, Nini L Karim sebagai juri dibayar hanya berapa perak. Tapi itu tidak jadi persoalan.

Mereka menerima itu karena FFI dipegang BPI? 

Tidak tahu apa itu alasannya. Tetapi yang pasti semangat perubahan itu lebih mengemuka. Jangankan perubahan yang ekstrem itu. Anda tahu perusahaan akuntan publik kelas dunia Dloyd bersedia kita gratisin untuk pekerjaan yang jika normal perlu biaya separoh dari biaya FFI untuk memakai jasa mereka. Memang ada orang-orang yang tidak berfikir selalu soal duit. Bahkan perusahaan besar pun berfikir seperti itu.

Termasuk memboyong 400 artis ke Palembang?

Untuk pesawat kan ada jatahnya. Di luar jatah itu, kita cari partner yang tidak mengikat, yang tidak dilarang undang-undang. Sekarang kita lagi mencari, yang bisa mensuport kita dan kita tidak terima uang.

Pemda Sumsel juga membantu pendanaan FFI?

Pemda mengeluarkan anggaran tapi untuk kegiatan mereka sendiri, tidak ada hubungan dengan panitia di sini secara keuangan. Mereka punya budget antara lain untuk melakukan kegiatan pendukung FFI yang mereka lakukan sendiri seperti seminar, diskusi, dan lain-lain.

Bagaimana konsep tayang di stasiun tivi?

Kita punya konsep yang berbeda untuk tayang di televisi. Jadi acara FFI tahun ini kita tidak mau off air-nya dipenggal iklan atau apapun. Sekitar dua jam kita tidak mau ada break untuk kepentingan tivi, misalnya ada iklan dan lainnya.

Selama ini pola pikir kita sudah dirasuki tivi. Bahkan debat presiden saja di-cut, break. Juga FFI tahun-tahun sebelumnya di-cut saat off air, untuk kepentingan iklan. Kali ini kita tidak mau seperti itu. Saya tidak mau acara dipenggal-penggal. 

Konsep ini membawa kensekuensi, kita harus mencari partner tivi yang tidak memenggal off air, maka terfikir antara lain TVRI sebagai tivi publik, kita minta mereka tidak memenggal acara. Sebab kalau dipenggal, kayaknya FFI ini acara program TV. Dan, kita menjadi semacam penonton bayaran. Nanti disuruh tepuk tangan, disuruh break, disuruh teriak-teriak, pulangnya mungkin dikasih amplop 50 ribu. Kayak orang nonton di studio.

Tv boleh break tapi tidak boleh nge-break acara FFI di panggung. Jadi, acara harus jalan terus. Misalnya, TVRI kita minta untuk jalan terus, sedangkan tv swasta yang nanti berpartisipasi boleh break sesuka dia. Mungkin ada iklan, tapi tidak mengganggu acara FFI di lapangan.

Buat saya acara di panggung itu lebih penting. Soal tayang di tivi itu adalah bonusnya. Lagian genit amat kita mau masuk tivi. Ibaratnya, kita ini bikin pesta kawinan, ya kawinan saja. Ngapain masih pingin disiarin di tivi. Itu kegenitan.

Karena itu acara orang film, memotong acara itu di panggung namanya menghina orang film. Kita ini sudah dijajah televisi. Saya ingin mengembalikan marwah festival, marwah pestanya orang film.

Konsep ini sudah dilakukan di AFI Medan, dimana TVRI tidak bisa memotong acara. Cuma tayangan di Berita Satu dibreak. Itu terserah saja. Kita tidak bisa paksa tv ikutin kita, tapi kita juga tidak mau dipaksa ikuti logika mereka.

Tidak khawatir itu dikesankan arogan?

Justru kita sudah benar dengan konsep itu. Bagaimana kalau kita balik, disebut tivi yang arogan? Mentang-mentang itu dunia televisi, lu mau paksain? Lu yang arogan dong. Kecuali acara itu dibiayai oleh tivi. Ini kan tidak.

Kabarnya pengumuman Piala Vidya digabung dengan Piala Citra..

Selain Piala Citra ada Piala Vidya pada FFI. Kita mengadakan di satu kota tapi berbeda hari untuk kedua piala tadi supaya lebih efisien. Kita belum tahu on air-nya di tivi apa. Tapi tv swasta sebenarnya bisa bersinergi dengan cara duduk bersama. Kita rundingkan rundown. Misalnya, saat ada tarian, tivi boleh break beriklan, dan lain-lain. 

Tidak semua pengurus BPI menjadi panitia?

Dari sembilan orang pengurus BPI, semuanya mendapat tugas di FFI. Ada yang duduk sebagai pengarah, pelaksana, dan juri.  Untuk pengarah ada Aa Gatot Brajamusti, Christine Hakim, Alex Komang, Santi Harmayn, Tino Saroengallo, dan Seno Gumira Ajidarma. 

Tidak ada dari unsur pemerintah di panitia pengarah atau di panitia inti. Unsur pemerintah ada sebagai penasihat di tingkat pelaksana. Embi C Noer tidak menjadi panitia tapi ditugaskan sebagai juri.

Juga ada icon untuk FFI 2014?

Christine Hakim dan Reza Rahadian akan menjadi ikon FFI 2014, tapi Reza bukan panitia. Kita menjadikan mereka ikon karena maunya kita nanti mereka yang jadi spokes person juga. Juru bicara sebetulnya dia, cuma kan karena kesibukan syuting jadi belum siap. Nanti ketika launching, yang ngomong ya Christine Hakim.

Bagaimana dengan produser yang tidak mengirim film ke FFI kali ini?

Sangat sayang kalau tidak ikut FFI tapi juga kita tidak bisa melarang itu. Kita tidak harapkan ada pertentangan terjadi. Saya tidak rugi. Tapi kalau ada orang tidak ikut ya, mau diapain? Tidak bisa dipaksa-paksa. Capeklah urusan begituan. **

 

Last modified on Wednesday, 15 October 2014
Read 3183 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru