Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

MALAM Puncak Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2014 akan digelar di Palembang, Sumatera Selatan. Untuk pertamakalinya FFI dilaksanakan oleh Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang terbentuk awal tahun ini.  FFI merubah sistem penjurian film layar lebar dengan mengadopsi cara ajang Piala Oscar, serta mengembalikan ke bentuk semula Piala Citra dan Piala Vidia.

“Penjurian FFI kali ini mengikuti pola penjurian Piala Oscar, melibatkan sekitar 80an juri serta jasa auditor untuk menentukan hasil kemenangan,” kata Kemala Atmojo, Ketua Panitia Pelaksana FFI 2014 dalam jumpa pers “Launching Festival Film Indonesia 2014” di JS Luwansa Hotel, Jakarta, Jumat (17/10/2014).

Dalam jumpa pers tampil narasumber Alex Komang (Ketua BPI sekaligus Anggota Panitia Pengarah FFI 2014) Christine Hakim (Ketua Panitia Pengarah FFI 2014 sekaligus Duta FFI 2014) , Reza Rahadian (Juri sekaligus Duta FFI 2014), Robby Ertanto (Ketua Bidang Penjurian), Ahman Sya (Dirjen Ekonomi Berbasis Seni dan Budaya), Armein Firmansyah (Direktut Pengembangan Industri Perfilman Kemenparekraf), dan Bing (auditor dari perusahaan akuntan Deloitte).

Menurut Kemala Atmojo, perubahan dalam penjurian FFI diharapkan akan mengurangi ketidakakuratan penilaian. “Pengembangan sistem juri ini juga untuk melibatkan banyak orang. Tidak hanya pada penjurian tapi di kepanitiaan pun kami melibatkan lebih banyak orang, yakni perwakilan dari masing-masing stakeholder perfilman,” katanya.

Jika pada tahun sebelumnya FFI melibatkan 5 sampai 10 orang juri, kali ini ada sekitar 80an orang khusus juri film layar lebar. Jumlah juri secara keseluruhan 120 orang, termasuk juri film animasi, film dokumenter, dan FTV.

“Hasil penelitian dewan juri dikirim langsung kepada akuntan publik independen, yakni Deloitte. Dengan model ini diharapkan tingkat kredibilitas dan obyektivitas hasil penilaian dapat terjaga. Selain itu, melibatkan banyak orang menjadikan aksepbilitas FFI juga makin meningkat,” lanjut Kemala.

Kepanitiaan FFI 2014 juga melibatkan tokoh-tokoh perfilman dan intelektual Indonesia saat ini, antaranya Christine Hakim, Shanty Harmayn, Seno Gumira Ajidarma, Tino Saroengallo, Irwan Usmar Ismail, dan lain-lain.

“Demikian juga dengan dewan juri, kami mengajak tokoh dari berbagai kalangan untuk terlibat sebagai dewan juri. Sedangkan ikon FFI kali ini adalah Chritine Hakim dan Reza Rahadian, dua tokoh perfilman dari dua generasi,” kata Kemala Atmojo.

 

Tabulasi hasil penilaian

Bing selaku auditor dari Deloitte mengungkapkan sistem kerja yang akan diterapkannya. “Kami akan melakukan tabulasi dari penilaian sekitar 80 orang juri. Mana film yang paling banyak dipilih oleh dewan juri, itulah yang menang,” katanya.

Sementara dalam sambutan, Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Alex Komang mengatakan, pelaksanaan FFI merupakan keniscayaan, untuk mengukur dan mendeteksi pencapaian. 

“Festival film harus selalu ada untuk mengukur dan mendeteksi keberaaan kita hari ini, sedang ada dimana. Festival juga untuk mengukur peradaban. Revolusi mental harus ada di dalamnya,” kata Alex Komang.

Pemerintah selaku fasilitator kegiatan FFI tahun ini menganggarkan Rp13,7 Miliar (dalam pagu), sebelum ditenderkan. 

Menurut Dirjen EKSB Prof HM Ahman Sya, pemerintah hanya memberikan fasilitasi bagi kegiatan perfilman, dan berharap FFI berlangsung lancar dan meriah. 

“Pemerintah berharap pelaksanaan FFI yang telah menjadi agenda tahunan, kali ini jauh lebih meriah dan menggaung. Semoga sukses,” kata Ahman Sya, mewakili Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu yang berhalangan hadir.  (imam)

 

Read 3101 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru