Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Lambatnya proses operasional Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang dibentuk pemerintah pada Januari lalu mulai mengganggu pelayanan di bidang industri kreatif. Sejumlah program pada unit kerja di Ditjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya (EKSB) dan Ditjen Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Digital, dan Iptek (EKMDI) pun terhenti.

Salah satu kegiatan yang sudah dirancang tahun 2015 dan terhenti adalah kegiatan Hari Musik 2015, yang diawali serangkaian kegiatan di beberapa kota.

“Acara yang rencananya di beberapa kota, baru di satu kota sudah dihentikan. Padahal program itu bagus untuk pengembangan musik di daerah. Tapi, ini konsekuensi perubahan struktur organisasi di pemerintahan,” kata Bens Leo, pengamat musik kepada tabloidkabarfilm.com di Jakarta, Rabu (4/3/2015).

Hal itu diungkapkan Bens Leo, yang juga menjadi pembicara di acara “Dialog Industri Musik Dalam Rangka Hari Musik 2015” di Makasar  beberapa waktu lalu, yang diadakan Direktorat Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik Kemenparekraf. 

Acara itu sekaligus sosialisasi tentang pasar musik virtual dan sosialisai UU Hak Cipta yang baru, yang berpuncak pada penyerahan penghargaan “Karya Bhakti Musik”. “Seharusnya tanggal 9 Maret nanti sudah terpilih nama-nama penerima penghargaan itu. Tapi karena program dipindah ke Bekraf dan tidak ada anggarannya, ya terhenti,” ujarnya.

 

Fungsi pelayanan

Tidak hanya terhentinya program kegiatan yang berbiaya, tugas fungsi pelayanan terhadap masyarakat pun terganggu dalam masa peralihan dari Ekraf di Kementerian Pariwisata ke Bekraf yang dikepalai Triawan Munaf.

Terganggunya pelayanan itu dirasakan pemilk rumah produksi, yang akan mendaftarkan film atau mengurus Ijin Usaha Perfilman (IUP). Selama ini pengurusan itu dilakukan Direktorat Perfilman, yang kini sudah dibubarkan.

Menurut Dirjen EKMDI, Harry Waluyo, situasi peralihan dari Ekraf ke Bekraf memang menimbulkan konsekuensi ketidaknyamanan dalam hal pelayanan, maupun terhentinya program. Namun, dalam hal pelayanan masih dilakukan oleh unit di EKSB dan EKMDI.

“Untuk sementara, fungsi pelayanan masih dilakukan EKSB dan EKMDI,” kata Harry Waluyo kepada tabloidkabarfilm.com, Rabu (4/3/2015).

Menurut Harry yang kini ditugaskan membantu Bekraf,  proses penataan organisasi dan personal di Bekraf masih berlangsung.

“Saya diperbantukan di Bekraf untuk ditanya-tanya oleh Pak Triawan Munaf mengenai organisasi, juga program-program yang dulu pernah dijalankan di sini seperti apa. Tapi karena beliau baru sendiri, maka perlu waktu,” kata Harry Waluyo. 

Dikatakannya, anggaran dan terutama program dari EKSB dan EKMDI sudah dipindahkan ke Bekraf.  “Hanya ketika dipindahkan, belum dapat persetujuan dari Komisi X DPR yang sekarang masih reses. Anggarannya ada tapi belum bisa digunakan,” ujar Harry.

Mengenai kantor Bekraf yang hingga kini belum jelas, Harry mengatakan hal itu juga dalam proses penjajakan. “Ada beberapa gedung asset pemerintah yang kita jajaki. Terutama kita mencari yang paling mudah diakses. Saat ini yang ideal Gedung BUMN,” katanya.

 

Struktur Bekraf

Struktur dalam organisasi Bekraf menurut Harry Waluyo terdiri dari Kepala, Wakil Kepala, Sekretaris Utama, dan kemudian di bawahnya ada enam Deputi yang akan mengkoordinasikan bidang di bawahnya bernama Satgas.

“Satgas akan diisi oleh tenaga professional dari beberapa tingkat yaitu Utama, Madya, Muda, dan Terampil. Isinya campuran dengan berbagai latar belakang mewakili 16 sub sektor ekonomi kreatif. Mereka akan dilibatkan dalam satgas-satgas itu. Tapi siapa orangnya, kita juga belum tahu,” jelas Harry.

Mengenai kapan Bekraf akan mulai beroperasi, Harry tidak dapat memberi kepastian. “Mudah-mudahan secepatnya. Karena kami tidak ingin selama setahun ini tidak ada kegiatan di Bekraf,” katanya. (imam)

Last modified on Friday, 06 March 2015
Read 3413 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru