Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Penyebab anjloknya jumlah penonton film nasional di bioskop, menurut sineas Monty Tiwa adalah akibat tingkat kepercayaan yang juga menurun.

"Asumsi saya, turunnya kepercayaan penonton itu salah satu faktor penyebab saja,” katanya dijumpai di kantor Rapi Film, Jakarta beberapa pekan lalu.

Secara teknis dan kreatif sineas Indonesia telah semakin maju. Menurut Monty, tidak ada masalah dengan kemampuan para sineas. “Bahwa penonton film nasional terus menurun sejak lima tahun terakhir, kalangan produser harus duduk bersama deh,” katanya.

Sutradara dan penulis skenario ini prihatin dengan situasi perfilman saat ini. “Makanya, perlu dibuat survey dan riset tentang peta penonton film kita. Pemerintah juga harus turun tangan untuk memetakannya,” katanya.

Untuk menjaga penonton film nasional ini, pihak bioskop tiga pekan lalu membuka promosi “beli satu dapat 2 tiket”. Namun, kebijakan itu  justru memperlihatkan kepanikan sineas Indonesia.

“Hasilnya tidak signifikan, tidak menambah jumlah penonton film nasional,” kata Catherine Keng, Corporate Secretary Cinema 21 lewat surat elektroniknya kepada tabloidkabarfilm.com, Rabu (6/5/2015).  

 

Analisa Awesometrics

Tim lembaga pemantau media dan produk Awesometrics melakukan analisa terhadap tiga film nasional yang menonjol yaitu Assalamualikum Beijing, Merry Riana Mimpi Sejuta Dollar, dan Filosofi Kopi The Movie.

Analisa dilakukan bersama Natasha, Satria Setianda dan Yustina Tantri. “Efektifitas promosi film lewat media sosial bisa dianalisa menggunakan fitur terbaru Awesometrics, Social Network Analysis atau SNA,” kata Tantri mewakili tim ini.

Menurut Tantri, keriuhan perbincangan di twitter, baik film Merry Riana maupun Assalamualaikum Beijing sangat mencolok selama sebulan kedua film itu ditayangkan. Namun, polanya terlihat beda,” katanya membandingkan.

Jaringan percakapan untuk Merry Riana terpusat pada akun-akun influencer termasuk akun tokoh yang difilmkan @merryriana, sang produser @ManojPunjabiMD dan @chelseaislan sang bintang utamanya. Bisa dikatakan percakapan film Merry Riana melibatkan kru,  aktor, produser, dan sutradara.

“Di peta SNA, Merry Riana Mimpi Sejuta Dolar terlihat pola jaringan yang tidak natural. Indikasinya, percakapan dipacu dengan robot untuk meningkatkan volume pesan. Sementara, jaringan percakapan film Assalamualaikum Beijing lebih bergerumul, berkelompok, tapi tak terstruktur,” jelasnya.

Film ini juga tidak hanya terpusat ke akun @asmanadia, sang penulis novel, tapi juga bermunculan akun-akun yang berkoneksi satu sama lain, dan berdialog secara spontan termasuk novelis @helvy dan aktor pemeran @MorganOey. 

Dari pantauan ini, percakapan tentang Assalamualaikum Bejing cenderung lebih natural. Komunitas maya yang dibangun oleh penulis novelnya, Asma Nadia, yang sudah kuat sebelum film dirilis diindikasikan menjadi pemicu tingginya respon atas film ini.

Efek positif lain yang diambil atas kecenderungan pola komunitas maya atas film Assalamualaikum Beijing adalah komunikasi yang interaktif, dan efektif.

Komunitas atau fanbase Asma Nadia berperan sangat besar dalam meningkatkan popularitas novel yang dirilis 2013, “Assalamualaikum Beijing” hingga sejajar dengan popularitas buku “Mimpi Sejuta Dolar – Merry Riana” yang dirilis 7 tahun sebelumnya. 

Keunggulan film Assalamualaikum Beijing adalah komunitas, sedangkan film Merry Riana unggul dari sisi ketenaran nama Merry Riana yang memiliki 1,37 juta followers akun twitternya. 

Namun, keunggulan ini diraih setelah melalui proses panjang yang sebelumnya dilakukan secara offline, termasuk kegiatan peluncuran buku, berbagai gathering, kegiatan pengajaran Merry.  Ditambah lagi, ini melibatkan banyak pihak, seperti penerbit buku Gramedia, pembaca buku, nasabah asuransi Merry dan juga para siswa. 

Dan saat pra hingga post pemutaran filmnya, ada keterlibatan produser, kru, dan para pemain film Merry Riana. Kegiatan-kegiatan itu costnya tidak sedikit, dan juga memakan energi.

Sementara, Asma Nadia yang bukunya baru terbit tahun 2013, mampu menarik minat 351 ribuan followernya dengan maksimal, sehingga mau membicarakan buku serta rencana film Assalamualaikum Beijing secara spontan  tidak memakan biaya besar.

Basis komunitas Asma Nadia terlihat pada pergerakan jaringan percakapan film Assalamualaikum Beijing ini, pra-post-pasca. Sedangkan di film Merry Riana, jaringan percakapan baru terlihat menebal setelah film dirilis.

 

Filosofi Kopi 

Promosi langsung dan berkala terkait dengan gerakan ‘minum kopi’, mobil dan kedai kopi, merupakan bagian dari properti film Filosofi Kopi. Promosi langsung juga dilakukan oleh pemain dalam film ini.

Dari percakapan yang terus menerus ada pada resonansi ini terlihat kegiatan offline yang dikombinasikan dengan online untuk engage calon penonton via media sosial kerap dilakukan tim pembuat film Filosofi Kopi.

 

Korelasi dengan penjualan tiket film

Benarkah aktivitas media sosial berimplikasi kepada penjualan film? Tim Awesometrics menganalisa berdasarkan potensi jangkauan percakapan dibandingkan dengan penjualan tiket. 

Dengan menggunakan Top Users by Impact, “Merry Riana” dibandingkan dengan ketiga film lainnya merupakan film dengan paparan yang paling banyak, sekaligus dengan penjualan tiket yang paling banyak.  Secara berurut kemudian Assalamualaikum  Beijing,  Filosofi Kopi Film Tjokoroaminoto.

“Hasilnya menunjukan bahwa semakin aktif film tersebut dipromosikan di Media Sosial, semakin mampu menarik penonton,” kata Tantri.

Fitur Top Users by Impact memberi informasi bahwa dengan memilih orang figur yang memiliki peranan penting di Film tersebut, akan mampu memberikan dampak yang signifikan. 

Figur disini tidak harus artis, tapi bisa juga dari penulis ataupun pengisi soundtrack film tersebut yang notebennya memiliki porsi dan peranan yang besar. Contoh Merry Riana, Assalamualaikum Beijing dan Filosofi Kopi dimana penulis buku dari ketiga film tersebut menjadi orang yang berpengaruh dalam mempromosikan  filmnya. 

Begitu juga dengan Glenn Fredly, sebagai pengisi soundtract dia memberikan porsi yang cukup besar untuk menyebarkan informasi mengenai film Filosofi Kopi di Media Sosial. Hal ini juga terbukti di film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, dimana pola percakapan tidak digawangi oleh orang-orang yang terlibat langsung di film tersebut yang menyebabkan gaungnya di Media Sosial rendah yang berdampak terhadap jumlah penonton. (imam) 

 

Foto Lainnya:

Last modified on Thursday, 07 May 2015
Read 3562 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru