Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

PENGGEMAR musik rock Indonesia pasti mengenal Baruna, vokalis di album perdana Elpamas. Dia baru saja melepas mini album bertitel Thy Name in My Tittle’. 

Sebelumnya, bersama grup rock asal Malang, Jawa Timur itulah Baruna Priyotomo pernah melahirkan album Dinding Dinding Kota (Logiss Record) pada tahun 1989. Dibawaj label perusahaan rekaman yang sama, Baruna juga merilis album Putao Jahanam ketika bergabung dengan band Jagad bersama Sawung Jabo.

Sejak bermukim di Jerman dan tak terlihat manggung 6 tahun, pada triwulan pertama 2014 Baruna hadir kembali. Dia memperkenalkan solo mini album berisi 5 lagu dengan single Doa yang terdengar surealis. Inilah yang menjadikannya berbeda.

Musisi dan penyanyi kelahiran Jakarta 16 Juli 1967 ini memang tipe ‘kutu loncat’ yang bebas mau bekerjsama dengan siapa saja.

“Saya juga dilibatkan dalam beberapa kali pementasan yang ada kaitannya dengan teater atau drama musical seperti Jesus Christ Superstar,” kata Baruna kepada wartawan di di Prestige Café & Lounge, Kemang Jakarta, Rabu (19/3/2014).

Drama musical itu antara lain didukung oleh musisi nasional seperti Yockie Suryoprayogo, Addie MS, almarhum Elfa Secioria dan lain-lain sejak awal 2000 an sampai sekarang.

Sosialisasi dengan beragam  musisi  dengan karakter lagu dan penampilan  yang beda itulah yang akhirnya mengantar baruna merilis mini album solo perdananya, yang mewakili perjalanan  karir Baruna sebagai salah satu Legenda Hidup Musik Rock Tanah Air. 

Sebagai musisi, Baruna berkolaburasi dengan banyak musisi tidak hanya dari musisi rock, tetapi juga lintas lintas genre yang dibalut denga lirik-lirik pernuh filosofis khas Baruna.

Album Thy Name in My Tittke produksi Baraka Musik dan dirilis labe D’Major, didedikasikan Baruna untuk Tuhan YME dan para pencinta music Indonesia. 

Lagu Doa sangat unik, abstrak dan agak berwarna surealis karena baik musik maupun liriknya benar–benar dibuat bagaikan suasana hati seseorang yang sedang  berdoa. Notasi music yang ‘gelap” dipadu dengan bunyi bunyi gendang tradisonal dan music elektronik modern terdengar gagah sekaligus mistis. Di sini peran arranger Jalu Praditina dan Baruna menyatu.  

Selain lagu Doa yang terkesan mistis dan ‘Luka Bukan Duka’ serta ‘Rasa” yang bernafaskan Rock, Baruna juga menulis lagu bernuansa reggae berjudul Land of Love dan lagu blues Or Just to Be.

Rully Bachtiar sutradara video klip album ini mengatakan, Baruna sangat kooperatif dan mendengar ide dia dan Bens Leo, bahwa yang layak diproduksi videoklipnya tak sekadar lagu Doa yang surealis, tapijuga Luka Bukan Duka.

Usul Bens Leo ketika iru, lagu ‘Luka Bukan Duka’ Baruna banget dan Barruna harus tetap mendekatkan diri pada fansnya dengan cara menggarap video klip kedua untuk lagu dengan karakter rocknya Baruna. Ide disepakati, dan Baruna menjadi bintang utama video klip berlatar gedung gedung tua di kawasan Jaakarta Kota, seperti di era 1980-an.

“Saya berharap, dua video klip ini dapat menguatkan citra Baruna yang khas rocker, tapi juga ada yang baru, semacam eksplorass musical begitu,” kata Rully Bachtiar.

Album ini secara musikalitas didukung musisi Jalu Praditina  (arranger, perkusi dan drum programmer), Fingga van Leun (gitar), B Doel (gitar), Fahmi Alatas (bass), Maully Gagola (gitar). “Mereka adalah musisi satu visi saya, memudahkan bekerja sama,” kata  Baruna. (kf/imam/dudut)

Foto lainnya: 

 

 

 

Last modified on Friday, 21 March 2014
Read 2542 times
Rate this item
(1 Vote)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru