Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Dunia teater yang elitis di ruang budaya pop, sesayup sampai tetap bermakna. Memecah kebekuan kedua kutub dengan meleburkan di satu panggung adalah sebuah kreasi sendiri.

Pementasan teater musikal, "Mencari Arti Merdeka" persembahan Musik Hana Midori yang menggabungkan unsur teater tradisional Wayang Orang Bharata dengan grup vokal "Harmoni 8" menjadi unik.

Mereka sukses menawarkan gagasan baru dalam sebuah 'konser bersama' di Titan Centre, Bintaro, Tangerang Selatan pada Kamis (17/8/2017) malam.

Grup "Harmoni 8" yang masih ABG (Adek, Chika, Aleta, Adinda, Ardra, Nabila, Moza dan Mika) tampil harmonis bersama para 'eyang' mereka, para punakawan dari grup  WO Bharata plus pelawak Tarsan Srimulat dan bintang tamu Bastian Steel.

Pentas apik disutradarai Alex Hassim itu mengedepankan kepiawaian bermusik  Roedyanto Wasito dalam mengemas sekitar 15 lagu.

“Lagu-lagu yang dinyanyikan, sebagian  diambil dari  album Harmoni 8, sebagian lagi adalah lagu anak yang sudah popular dan lagu pop lawas,” kata Roedyanto.

Bagi bassis grup band Emerald ini, proses penggarapan Teater Musikal semacam ini, bukan yang pertama kali. 

“Ini sudah yang ketigakali, jadi nggak ada kesulitan berarti. Hanya saja, waktu penggarapan musik terhitung mepet, dan membuat scoring-nya jadi agak gimana gitu. Kan musik scoring perlu dibuat beda untuk adegan serem, lucu atau tegang,” katanya sambil tertawa.

Sementara, Bastian Steel (17) sebagai salah satu tokoh penting dalam cerita ini mengaku senang bisa dilibatkan. 

“Ini bukan pementasan teater musikal yang pertama buat saya. Saya pernah ikut pentas teater Laskar Pelangi,” kata pemuda tampan berambut keriting yang biasa dipanggil Babas ini. 

Dalam teater musikal ini, Babas berperan sebagai kakak dari Moza (salah satu personil Harmonil 8)

Ceritanya tentang perjalanan mudik "Harmoni 8" ke desa yang diketuai Babas. Mereka mendaki gunung dan berencana menancapkan bendera merah putih! Namun rencana itu dihalangi para remaja daerah setempat hingga muncul konflik.

Selama satu setengah jam penonton yang memenuhi ruangan studio tidak bergeser dari kursinya. Mereka, sebagian besar penonton remaja dan anak-anak amat meniikmati pementasan hingga layar panggung diturunkan, tanda selesai pertunjukan.

Menurut sutradara Alex Hassim, pentas sengaja dibuat ringan agar cepat dipahami oleh anak-anak seusia mereka. "Jadi,temanya sendiri boleh terdengar berat tentang kemerdekaan, tapi penyajiannya ringan," kata Alex.

Bagi Harmoni 8, pentas ini pengalaman pertama mereka manggung dalam format teater.

"Mendengar penonton tertawa, dan tepuk tangan saja sangat membuat kami senang," kata Aleta, sala satu personel Harmoni 8.

Yen Sinaringati selaku Excecutive  Produser Musik Hana Midori mengaku puas dengan produksi pertamanya itu.

"Beruntung, kami didukung banyak pihak, termasuk oleh Walikota Tangsel, Bu Airin. Pementasan berikutnya, tentu saya juga akan minta izin ke beliau," kata Yen saat didampingi Walikota Airin.

Keseluruhan pentas malam itu benar-benar menghibur dan pesan moralnys cukup mengena di hati penonton. 

Pentas teater musikal anak malam itu tak sekadar bentuk hiburan dalam rangka HUT Indonesia ke-72. Ada pesan mendalam tentang menjaga persaudaraan, persatuan dan semangat mempertahankan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). (imam)

 

Read 2476 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru