Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Indonesia bukan hanya Jawa tapi juga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan seterusnya yang memberikan warna. Keragaman itu tercermin pada lagu-lagu daerah, yang sayangnya banyak yang tidak diakomodir dan seharusnya menjadi tugas pemerintah.

"Maka saya mencari dan mengulik lagu-lagu yang tidak ada di dalam rekaman-rekaman di manapapun," ujar Djaduk dalam diskusi bertajuk "Menggali Kearifan Budaya Nusantara" yang digelar di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Djaduk menemukan beberapa lagu daerah yang memiliki kedalaman makna, nasihat bijak dengan pendekatan kedaerahan. Tapi hal ini tidak pernah disentuh. 

Makanya di album Sesaji Nagari, "Saya mengulik lagu-lagu daerah, kemudian mengaransemen ulang dengan kesadaran penuh, mendekati rasa yang diminati anak muda," ungkap Djaduk. 

Menurut Djaduk yang dilakukannya adalah 'investasi kultural' yang dia sumbangkan pada generasi muda dengan kemudahan akses. 

"Sekarang tinggal bagaimana keberanian anak muda menafsirkan lagi kebudayaan.Karena di lapangan, justru terjadi berbenturan dengan selera orangtua," katanya. 

Para orangtua, kata Djaduk, mencurigai anak muda sebagai pihak yang tidak concern pada musik tradisi. "Padahal, saat ini anak muda baru saja menciptakan tradisinya," kata seniman asal Yogyakarta ini tentang temuan kasus di sejumlah daerah. 

Pendiri kelompok musik Kua Etnika ini mengatakan, setiap karya seni yang dihasilkan siapapun akan memiliki data, yang saat ini dapat disimpan. Musik yang dibuatnya adalah medium membahasakan Indonesia. 

Hal itu dilakukan Djaduk mengingat generasi muda memiliki hak tafsir baru dari karya musik tradisi. "Mengapa anak muda punya tafsir sendiri, itu agar budaya kita tidak mampet," kata Djaduk yang mengaku hanya petugas penyebar virus kepada generasi muda, untuk mendidik karakter mereka.

Persoalan yang menjadi kegelisahan Djaduk adalah tentang hak anak muda dalam menafsirkan musik tradisional.

"Celakanya, yang jadi persoalan besar ketika orangtua tidak siap dengan apa yang dilakukan anak muda. Mereka curiga," kata Djaduk.

 

Seni membentuk karakter

Sementara itu, seniman tari tradisi Mira Arismunandar melakukan revitalisasi seni tari, yang salahsatu karyanya meraih penghargaan festival di luar negeri.

"Berkesenian yang saya raih saat ini sebenarnya suatu proses. Saya berterimakasih pada orangtua (ayah) yang memperkenalkan seni tari Jawa," ujar Mira yang terharu mengenang perjalanan karirnya.

Menurutnya, dukungan penuh dari orangtua yang membuatnya berpikir untuk dapat berbagi ilmu kepada generasi muda.

"Seni tradisi ternyata bisa juga dishare kepada generasi muda," kata Mira, yang sempat menjadi penari istana di tahun 1980an akhir sampai 1990an. 

Sepuluh tahun terakhir Mira mendirikan sanggar tari Gema Citra Nusantara. Setelah menetap di Australia, Mira melihat betapa orang diluar negeri sangat ingin belajar seni tradisi Indonesia. 

"Kami membuat wadah sanggar untuk berbagi ilmu secara cuma-cuma di rumah," kata Mira yang dalam hal berkreasi dirinya ridak hanya mencipta penari yang baik, tapi menanamkan karakter nilai-nilai budaya pada anak didiknya. 

Narasumber lain diskusi adalah Hengky pendiri Museum Musik Indonesia, dan Niko dari Asosiasi Industri Rekaman Indonesia.

Keempatnya menerima penghargaan "Anugerah Pustaka Nusantara 2019" dan "Anugerah Mitra Perpustakaan Nasional" berdasar rekomendasi tim penilai antaranya pengamat musik Bens Leo.

Penghargaan diberikan atas dedikasi para seniman dan lembaga dalam ikut melestarikan karya seni budaya. Penyerahan penghargaan diberikan langsung oleh Deputi I Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Ofy Sofiana. (imam)

Last modified on Wednesday, 17 July 2019
Read 274 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru