Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Musik keroncong akan terus tumbuh lestari. Harapan itu diungkapkan Sundari Soekotjo saat pentas di Galeri Indonesia Kaya untuk memperkenalkan Yayasan Keroncong Indonesia (YAKIN) yang dibentuknya setahun silam.

“Dengan acara seperti ini setiap tahunnya, kita harapkan keroncong akan tetap eksis dan lestari,” katanya, Selasa (7/4/2015) sore di GIK, Jakarta Pusat.

Sundari menggagas kegiatan “Keroncong Week” yang difasilitasi oleh GIK tersebut dengan mengambil tema acara “Keroncong Djoeara Noesantara (KEDJORA). Acara ini berlangsung setiap hari sejak 7-12 April 2015 antara pukul 16.00 sampai 20.00 WIB.

Setiap hari tampil sejumlah penyanyi dan komunitas non keroncong, yang secara khusus menyanyikan lagu-lagu berirama keroncong dengan paduan berbagai jenis musik. 

“Intinya tetap berwana keroncong yang kami tampilkan,” lanjut Sundari yang juga ‘menetaskan’ anaknya Intan Soekotjo sebagai penyanyi keroncong malam itu.

Bagi pecinta musik keroncong, inilah saat menikmati musik bersejarah yang masih dibawakan oleh anak-cucu keturunan seniman Portugis yang ‘mengindonesia’ yaitu kelompok Musik Keroncong Cafrinho Tugu, bermarkas di Jakarta Utara.

Keroncong Week diramaikan musisi seperti Yana Yulio, Winda Viska, Iman “J Rock”, Candil, Dira Sugandi, Kunto Aji, Rieke Roeslan, Dewi Gita, Ikke Nurjanah, Indra Aziz dan Angel Pieters.

Hari pertama Keroncong Week “Kedjora” tampil dua grup Keroncong Tugu dan Lantun Orchestra, yang turut mengiringi para penyanyi seperti Sundari Soekotjo, Intan Soekotjo, dan Yana Yulio.

Keroncong Tugu dengan 7 personel menampilkan penyanyi ‘keluarga’ mereka yaitu Sartje dan anaknya Angel. Keduanya membawakan lagu berbahasa Portugis Kucing Hitam dibuat tahun 1800an dan lagu berbahasa Belanda  berjudul Surabaya. Sedangkan Keroncong Moeretsko dinyanyikan oleh Angel yang masih belia.

Sundari membawakan dua buah lagu Pasar Gambir dan Bunga Anggrek (versi bahasa Belanda). Suasana jaman dulu semakin hidup dengan tampilan visual di latar belakang berupa video suasana Pasar Gambir di masa awal.

Secara atraktif kelompok “Lantun Orchestra” menghidupkan panggung dengan beberapa lagu ciptaan sendiri bergaya ‘gambang kromong’ dan keroncong. Ines sang vokalis mengaku sering membawakan lagu-lagu Benyamin S dan Ida Royani. 

“Biarkan saja mereka membawakan keroncong dengan caranya masing-masing, karena pada saatnya kita tampilkan keroncong yang serius,” kata Sundari mengenai improvisasi keroncong yang dibawakan “Lantun Orchestra”.

Bagi peminat dan pecinta musik keroncong, silakan berkunjung hingga batas akhir Sabtu 12 April 2015. (imam)

 

Foto Lainnya:

 

Read 2270 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru