Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Kepeloporan DR Hj Anna Mariana SH MH MBA dalam menciptakan kain songket dan tenun Betawi mendapat apresiasi dari Badan Musyawarah Musyarawah (Bamus) Betawi dan Forum Pemuda Betawi 2000.

Kedua lembaga menobatkan Anna Mariana sebagai “Tokoh dan Pelopor Perempuan” atas gagasan dan karyanya yang telah mengangkat citra sekaligus menambah khasanah kesenian dan budaya Betawi. 

Di saat yang sama, Tjokorda Ngurah Agung  Kusumayudha SH MS MSC, suami Anna Mariana menerima penghargaan sebagai Anggota Kehormatan Forum Pemuda Betawi 2000. Penobatan dan penyerahan penghargaan kepada Anna Mariana dan Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha berlangsung di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (9/2/2017). 

Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh pemuda Betawi, Ketua Bamus Betawi Zainudin, Ketua Forum Pemuda Betawi 2000  Rahmat HS, dan pejabat Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Soni Sumarsono.

Usai Dalam kesempatan tersebut Anna Mariana yang juga konsultan hukum dan pendiri “Law Firm Mariana & Partners” menyampaikan Orasi Budaya bertema “Tenun Songket sebagai Warisan Budaya Nusantara”.

“Saya berterimakasih atas penghargaan dan penobatan ini, semoga hal ini semakin menguatkan komitmen saya untuk terus terus melestarikan dan mengembangkan kain tenun dan songket nusantara,” kata Anna, yang awalnya hanya mengkhususkan diri di bidang Tenun dan Songket Bali. 

Selama lebih dari 35 tahun Anna berkarya dan menciptakan motif-motif  tenun dan songket baru dari berbagai daerah di nusantara, yang memiliki ciri khas dan corak tersendiri. 

“Khusus tenun dan songket Betawi yang saya buat jumlahnya masih sedikit. Keterbatasan ini karena teknik pembuatan tenun memerlukan waktu lama dan teliti,” kata pemilik butik “Marsya House of Batik Kebata, Tenun, Songket & Acessories” di kawasan Pondok Indah Jakarta ini.

Tenun dan songket Betawi rancangan Anna Mariana juga ditampilkan dalam “fashion show”, yang diperagakan oleh sejumlah Abang dan None Betawi, termasuk kain selendang yang dipakai oleh suaminya hari itu.

Menurut Anna, proses produksi ‘handmade’ kain tenun dan sonket dilakukan oleh para penenun yang dibina dan dipekerjakannya, yang saat ini berjumlah lima juta orang perajin di seluruh Indonesia. Mereka mempunyai keahlian  dengan hasil karya bercita seni tinggi. 

“Mereka sudah puluhan tahun berkarir dengan tenun, sehingga sangat piawai. Rata-rata mereka tinggal dan menetap di Bali. Dengan dana pribadi tanpa bantuan pemerintah, saya mengikat mereka, dengan menyediakan modal kerja. Agar ada kepastian penghasilan bagi mereka. Dan saya pun punya kepastian, bahwa hasil karya mereka saya dapatkan tepat waktu," jelas Anna.

 

Motif ikon Betawi

Akhir tahun 2016 lalu, bersama Badan Musyawarah Betawi  Anna mempelopori hadirnya tenun dan songket Betawi. Menurut Anna, dalam budaya masyarakat Betawi, belum pernah ada tenun dan songket. 

“Yang ada hanya kain batik dengan motif kembang-kembang dengan selalu ada motif Ondel-Ondel ataupun gambar Monas. Produksi ini kemudian hanya kita kenal sebagai kain dari Batik Cap, Batik Tulis,  Batik Printing dan bukan tenun yang terbuat handmade,” ungkap Anna.

Karena itu, Anna yang merupakan Ketua Yayasan Sejarah Kain Tenun Nusantara bersemangat mempelopori kelahiran tenun dan songket khas milik Betawi. Dalam hal desain, Anna tetap mengangkat motif asli dan tidak menghilangkan ciri khas Betawi. 

“Seperti kain yang saya dan suami pakai untuk acara Bamus hari ini  terdapat  motif Ondel-ondel  dengan warna kuning sirih,” ungkap Anna yang meraih gelar Doktornya pada Januari 2017.  “Sedangkan kain untuk para Abang dan None terdapat beragam motif, ada  Bunga-bungan, Penari Cokek, Monas dan Kembang api.”

Menurut Anna proses pengerjaan kain songket dan tenun  sangat khas dan  memerlukan waktu lama.  Terlebih  untuk  menghasilkan tenun kelas premium dengan menggunakan benang sutera. 

“Proses pengerjaannya memakan waktu enam bulan bahkan sampai setahun. Diperlukan ketrampilan, keuletan, ketekunan dan kesabaran khusus. Karena menenun dengan menggunakan benang sutra itu rumit, oleh sebab itu pula  harga songket menjadi mahal  bahkan cenderung fantastis.” 

 

Pelopor tenun Betawi

Dalam upayanya memelopori lahirnya tenun dan songket khas Betawi, ada tantangan yang harus dihadapi oleh Anna, yaitu mengembangkan rencana, dan membina para penenun. ”Dan yang lebih penting lagi membawa kain tenun khas Betawi lebih berkembang lagi,” ungkap perempuan kelahiran kota Solo, 1 Januari 1960. 

Menurut Anna, pengembangan tenun dan songket Betawi dirasa perlu.  Ini bukan hanya membuka peluang kerja bagi para penenun, namun juga membuat catatan sejarah baru bagi jenis kain yang akan diproduksi di Jakarta.  

Namun untuk membuka peluang kerja, bagaimana menemukan pengrajin tenun di Jakarta? Anna dengan jeli mencoba melobi sejumlah pesantren di Jakarta maupun Bali. 

“Kami mendidik mereka yang sudah berusia 17 tahun dan sudah hatam Al-Quran. Ilmu menenun ini bisa jadi bekal mereka  untuk mandiri. Jadi mereka tidak hanya paham ilmu agama,” kata Anna yang tengah berjuang mengusulkan ke pemerintah untuk menetapkan Hari Tenun dan Songket Nasional.

Anna juga langsung mensuport bahan baku dan peralatan  yang dibutuhkan. Ia juga menampung dan membeli kembali hasil karya anak-anak tersebut. 

"Dengan begitu, mereka tidak sia-sia belajar sambil berkarya.  Mereka dapat ilmu pengetahuan sekaligus dapat penghasilan. Kita sendiri juga akan diuntungkan, karena kita punya regenerasi baru di bidang tenun,” ungkap ibu dari empat anak ini.

Dalam perjalanan karirnya sebagai designer tenun, Anna melihat adanya kelangkaan dalam regenerasi penenun. Rata-rata penenun binaannya berusia di atas kepala empat, lima bahkan enam. Mungkin bagi anak muda pekerjaan menenun terasa kuno dan kurang bergengsi, terlebih dibanding bekerja  sebagai pramusaji di Cafe. 

“Saya berupaya membujuk mereka yang muda-muda untuk berkarya di sini. Dan menjadikan pekerjaan menenun juga memiliki gengsi sekaligus penghasilan yang memadai,” kata Anna yang berupaya menggerakan semua secara mandiri tanpa bantuan pemerintah, yang birokrasinya tidak seirama dengan target kecepatannya. 

Anna menyebut tenun dan songket yang merupakan kekayaan budaya yang sudah turun menurun, tidak boleh dibiarkan terkubur dan punah.  

“Tenun dan songket itu sangat dihargai di luar negeri,  karena dalam budaya mereka tidak ada kain handmade. Semua tekstil cenderung buatan mesin dan pabrik.  Kalau di depan mata kita ada kekayaan budaya yang dipuja-puja orang luar, kenapa kita mengabaikannya? Kalau bukan kita, siapa lagi yang berjuang melestraikannya?” ujar Anna.

Terkait dengan penghargaan yang diterimanya, Anna berharap dapat bertemu dengan Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan rencana pencanangan Hari Tenun dan Songket Nasional, seperti Hari Batik. (imam)

 

Read 1725 times
Rate this item
(1 Vote)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru