Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Banyaknya film Indonesia yang mengangkat tema pariwisata tidak menjamin dapat dukungan Kementerian Pariwisata terhadap film tersebut.

“Kami hanya memanfaatkan film sebagai alat promosi pariwisata, bukan memberi bantuan produksi,” kata I Gde Pitana, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata dalam acara diskusi bulanan bersama Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di Hotel Novotel, Jakarta, Kamis (16/3/2017).

Hal tersebut dikatakan Pitana menjawab pertanyaan tabloidkabarfilm.com tentang bentuk dukungan Kemenpar terhadap film nasional yang mengangkat tema seputar pariwisata Indonesia. Beberapa film tersebut, antaranya Salawaku, Trinity the Nekad Traveler, Labuan Hati, dan lain-lain.

“Kami dapat mengendors kegiatan perfilman internasional yang memungkinkan sebagai ajang branding Pesona Indonesia atau Wonderful Indonesia,” kata Pitana.

Salah satu bentuk pemanfaatan film nasional oleh Kemenpar adalah dengan mengendors artis Pevieta Pierce, yang berperan di film  karya sutradara Garin Nugroho berjudul “Ach.. Aku Jatuh Cinta”  pada tahun 2016.

“Karena ketika itu kita memprediksi film tersebut akan ditonton oleh jutaan orang, maka Kemenpar mengendors Pevieta Pierce yang menjadi salah satu artis pemerannya,” katanya.

Saat ini, Kemenpar juga mengendors sebuah film dokumenter sejarah Nadhlatul Ulama (NU), yang dibuat oleh orang Perancis. “Rencana film itu diputar di sejumlah negara Eropa dan Amerika, maka kami mengendors untuk menjadi bagian promosi Indonesia,” ujarnya.

Sebagaimana dituturkan oleh Pitana, bahwa pembuat film berkebangsaan Perancis tersebut melihat dan membuat film dokumenter itu langsung dari lapangan. “Ternyata apa yang dia lihat tentang Indonesia, berbeda dengan apa yang diberitakan oleh CNN, terkait soal terorisme,” lanjut Pitana.

Dalam film berdurasi 40 menit tersebut, menurut Pitana juga menayangkan wawancara dengan tokoh NU KH Hasyim Muzadi. “Jadi, kami memanfaatkan film sebagai alat promosi saja. Karena sejak berubah nomenklatur dari Kemenparekraf jadi Kemenpar, kami tidak mengurus soal film lagi,” jelasnya.

 

Target kunjungan wisata

Diskusi yang digelar bersama Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara dan Forwapar hari itu juga membahas tentang proyeksi, dan evaluasi hasil-hasil selama triwulan pertama tahun 2017.

Hadir dalam diskusi selain Deputi I Gde Pitana dalah Asdep Strategi Pemasaran, Ratna Suranti, Asdep Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Mancanegara, Noviendi Makalam, Asdep Pengembangan Pasar Asia Tenggara, Rizky Handayani, Asdep Pengembangan Pasar Asia Pasifik, Vinsencius Jemadu, dan Asdep Pengembangan Pasar Eropa, Timteng, Amerika, dan Afrika, Nia Niscaya. 

Menurut I Gde Pitana, Menpar Arief Yahya sudah menetapkan target kunjungan wisman sebesar 15 juta, dengan asumsi perolehan devisa sebesar US$ 14,9 miliar tahun 2017. Ini akan akan meningkat menjadi 20 juta wisman dan menghasilkan devisa sebesar Rp 280 triliun pada 2019 mendatang. 

“Untuk mencapai target tersebut stategi pemasaran dan promosi pariwisata terus digencarkan. Untuk marketing strategy menggunakan pendekatan DOT (Destination, Original, dan Time), promotion strategy dengan BAS (Branding, Advertising, dan Selling), media strategy dengan pendekatan POSE terutama pada pasar utama di antaranya  dengan berpartisipasi pada event pameran pariwisata internasional untuk mempromosikan Wonderful Indonesia,” kata Pitana.

Target pasar utama adalah Tiongkok, Singapura, Malaysia, Australia, dan Jepang.  Kelima negara ini merupakan kontributor wisman terbesar bagi Indonesia. 

“Dalam tiga bulan pertama; Januari, Februari, Maret tahun ini kita mentargetkan 3 juta wisman atau 1 juta wisman setiap bulan dengan kontribusi terbesar dari 5 negara ini sebagai pasar utama,” kata I Gde Pitana.   

 

Fokus Hardselling  

I Gde Pitana mengatakan, tahun 2017 akan lebih fokus pada kegiatan hard selling.  "Setelah dua tahun terakhir ini kami fokus membangun branding Wonderful Indonesia, pada tahun ini akan lebih fokus pada kegiatan hardselling dan kerjasama dengan airlines dan wholesalers,” katanya. 

“Baru-baru ini kami ikut di ITB Berlin yang berlangsung pada 8-12 Maret 2017. Kami mencatat sukses sebagai The Best Exhibitor 2017 di pameran pariwisata terbesar di dunia itu. Terima kasih atas segala supportnya," kata Pitana. 

Sementara itu, Ketua Forwarpar Fatoer kegiatan diskusi dengan Kemenpar terutama dengan Deputi dan Asdep penting guna memperoleh update informasi terkini baik itu isu kebijakan, program kerja, dan target apa yang ingin dicapai oleh deputi tersebut.

“Meski demikian, harusnya masing-masing deputi mengundang lebih banyak para jurnalis yang tergabung di Forum Wartawan Pariwisata, sehingga hasilnya terpublikasi secara maksimal,” ungkap Fatoer. (imam)

 

Last modified on Thursday, 23 March 2017
Read 268 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru