Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Sebuah foto mampu berbicara lebih dari seribu kata. Sayangnya, teori ini belum dijadikan pijakan oleh para fotografer media maupun peminat fotografi di dunia pariwisata Indonesia.

Salahsatu contoh, misalnya foto destinasi pariwisata di pantai Rio de Janeiro. Kawasan pantai di Brazil ini selalu menampilkan imej suasana ketika dipadati pengunjung.

Hal tersebut berbeda jika dibandingkan dengan hasil capture dan publikasi media maupun "publikasi" netizen di Indonesia.

Stereotype foto tentang pantai di Indonesia adalah keindahan pasir putihnya, lekuk pantai, dan panoramanya.

Menurut Dadang Rizky Ratman, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri, Kementerian Pariwisata, foto di dunia pariwisata harus artistik tapi juga bernilai promosi.

"Keindahan foto harus memancing minat orang untuk datang," kata Dadang Rizki saat membuka "Workshop Fotografi" yang diadakan oleh Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) bersama Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri, Kementerian Pariwisata di Historia Food and Bar, kawasan wisata Kota Tua, Jakarta Barat, Kamis (5/10/2017).

Menurut Dadang Rizky, tidak ada yang salah dengan capture keindahan destinasi pantai di Indonesia. 

"Foto pantai yang hanya indah tapi terlihat sepi justru tidak membuat orang tertarik. Buat apa datang kalau sepi? Itulah imej foto pantai yang sering kita temui dibandingkan pantai Rio de Janeiro yang selalu ditampilkan ramai," ungkap Dadang.

Workshop diikuti 30an wartawan peminat fotografi anggota Forwapar dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas dan persepsi foto pariwisata.

Hasil yang diharapkan dari workshop kali ini antaranya memperkaya teknik, wawasan, sekaligus promosi destinasi.

"Foto yang merekam keindahan dan bernilai promotif akan diminati banyak agen-agen travel baik di dalam maupun luar negeri. Jadi, bisa dapat nilai ekonomis dari foto yang baik," jelas Dadang.

 

Visual dan Literasi

Hadir sebagai pemateri Sendy Aditya Saputra, fotografer Colours Garuda Inflight Magazine. 

Dalam pemaparannya, Sendy lebih membahas tentang ide dan gagasan daripada teknik memotret yang dibagi dalam dua sesi dan tema: Visual Literasi dan Visual Storytelling.

"Sebelum berangkat hunting fotografer sudah harus punya ide mau bikin foto apa? Sebaiknya buatlah storytelling untuk pegangan. Apakah foto human interest, landscape murni, atau street fotografi," ujar Sendy.

Visual storytelling akan memudahkan orang memahami cerita secara visual dari sebuah foto. Di sini, ada beberapa langkah seperti membuat kerangka master shoot, medium shoot, dan detail shoot.

"Jika visual storytelling sudah dibuat, lalu carilah obyek. Maka biarkan foto menyampaikan pesanmu. Dia akan lebih bercerita daripada artikel perjalanan wisata," kata Sendy.

Usai workshop dalam dua sesi dilanjutkan dengan praktik memotret lingkungan Kawasan Wisata Kota Tua. 

Menurut Ketua Forwapar, Fakhturrohim kerjasama dengan Kemenpar merupakan tradisi selain dengan berbagai kalangan industri pariwisata. (imam)

Last modified on Thursday, 05 October 2017
Read 290 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru