Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Tujuh bulan memimpin perang gerilya, Jenderal Soedirman menempuh 1000 km perjalanan. Selama itu dia sakit paru-paru dan sempat ditandu memasuki hutan dan lembah. Soedirman dikawal  oleh 13 anggota Tentara Nasional Indonesia mengecoh pasukan tentara Belanda yang akan menangkapnya.

Pada 19 Desember 1948 pihak Belanda menyatakan tidak terikat dengan Perjanjian Renville sekaligus menghentikan gencatan senjata. Jenderal Simons Spoor Panglima Tentara Belanda memimpin Agresi Militer ke II untuk menyerang Yogyakarta yang menjadi ibukota Republik.

Di saat itu presiden Soekarno dan wakil presiden Hatta ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Tinggal selangkah lagi, jika pasukan Belanda berhasil menangkap panglima TNI Jenderal Soedirman, maka gugurlah kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945.

Upaya Belanda menangkap Jenderal Soedirman gagal. Bersama pasukannya, Soedirman mengatur strategi serangan balik dari dalam hutan dan bergerak ke arah Selatan Jawa. 

Keberadaan pasukan Jenderal Soedirman di hutan tidaklah aman. Ada pengkhianat bermain mata dengan Belanda dan kemudian tewas didor majikannya sendiri.

Malam itu, untuk kesekian kali Kunto membocorkan persembunyian pasukan Jenderal Soedirman. Dari sebuah rumah penduduk yang terkepung Belanda, Jenderal Soedirman bersiasat berpura-pura menjadi ustad dan para santrinya yang sedang mengaji bersama.

Pasukan Belanda  yang tak mengenali sosok Jenderal Soedirman menuding Kunto sang mata-mata berbohong. Dia pun dihabisi. Pasukan Belanda meninggalkan lokasi penyergapan tanpa hasil.

Film arahan sutradara Viva Westi (sebelumnya membuat film yang difasilitasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ketika Bung di Ende) menggambarkan heroism dan loyalitas Jenderal Soedirman yang mendukung 100 % kemerdekaan Indonesia dari segala bentuk penjajahan. 

Sikap TNI tegas dibawah kepemimpinan Jenderal Soedirman adalah mendukung upaya kemerdekaan yang dijalankan oleh pemerintah yang sah, dan TNI tidak ingin terjebak atau dimanfaatkan untuk kepentingan lainnya.

Berlatar sejarah perang gerilya, film ini juga sedikit mengungkit peristiwa penangkapan dan eksekusi Tan Malaka serta tentara ‘merah’ yang mendukungnya.

Perjalanan gerilya Jenderal Soedirman melewati beberapa daerah, kota dan hutan belantara yang sulit terjangkau. Gambaran alam dan panorama menarik secara artistik, keindahan alam tertangkap kamera secara apik. 

Hal yang sama pada trik bom meledak, letupan senapan serta animasi pesawat tempur saat meraung-raung di udara lapangan terbang Magoewo. Tim artistik yang dikomando Frans Paat berhasil menghadirkan suasana perang di darat dan udara.

Adipati Dolken pemeran Soedirman belum maksimal menghadirkan karakter tokoh pahlawan kemerdekaan tersebut. Wajah dan jemarinya sesekali terlihat halus untuk ukuran seorang prajurit perang.  

Sosok Soedirman  sebagai pribadi tergambar dilematis; dia harus ditemani seorang dokter dan minum obat sakit paru-paru selama gerilya tetapi juga tidak lepas dari rokok. 

Bagi penonton film awam yang tidak membaca buku sejarah Jenderal Soedirman akan terbata-bata mengikuti jalan cerita. Sepanjang film tidak ada keterangan teks untuk mengingatkan momentum, dan siapa sosok penting ketika itu. Penggambaran gerilya di hutan selama 7 bulan akan lebih menarik jika dilengkapi panduan berupa teks. 

Hadirnya tokoh fiktif Karsani di film ini cukup menolong. Setidaknya penonton bisa keluar dari kejenuhan adegan di dalam hutan. Dan yang juga menjadi pertanyaan, bagaimana cara berkomunikasi Jenderal Soedirman dengan pasukan TNI di luar hutan ketika tak ada gadget di masa itu.

Di akhiri cerita film produksi Padma Pictures yang didukung sejumlah yayasan milik TNI, diperlihatkan Jenderal Soedirman menemui Presiden Soekarno (Baim Wong) dan Wakil Presiden Hatta (Nugie). Dia pamit setelah menitipkan jabatan panglima TNI kepada presiden. (imam)

Last modified on Wednesday, 26 August 2015
Read 14092 times
Rate this item
(8 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru