Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Tidak semua novel best seller jadi alasan produser untuk memfilmkannya. Kemasan dan eksekusi yang baik, lebih diutamakan. Hal ini diungkapkan Ody Mulya Hidayat, produser PT Maxima Pictures dalam bedah buku Ababil dan Tiga Kitab Iblis karya Irfan Wijaya.

“Bahwa sekarang Maxima masih menyimpan tujuh novel best seller yang akan diproduksi, itu bukan satu-satunya pilihan untuk dijadikan film,” kata Ody Mulya di Gedung Film, Jakarta, Kamis (19/11/2015) lalu.

Menurut Ody, belum ada standar baku mengenai tren film laris berdasarkan novel best seller. “Trend bukan jaminan. Sebab saya juga sempat bikin film dari novel best seller, diperankan oleh pemain muda yang populer, tapi hasilnya flop,” kata Ody, menyebut salah satu film yang diproduksi.

Pada acara bedah buku yang dipandu wartawan Mayong Suryo Leksono itu, hadir pula pembicara budayawan Radhar Panca Dahana, sutradara Karsono Hadi dan penulis skenario Endik Koeswoyo (keduanya adalah tim kreatif sinetron Tujuh Manusia Harimau).

Meski demikian, lanjut Ody umumnya produser memilih novel laris. “Intinya karena lebih mudah, tidak memerlukan promosi terlalu besar dibandingkan membuat film dari skenario asli,” ungkap Ody, yang sedang mempersiapkan tayang film Bulan Terbelah di Langit Amerika.

Salah satu film produksi Maxima yang diangkat dari novel adalah Assalamualaikum Beijing. “Saya waktu membuat film Assalamualaikum Beijing itu baru menemukan format membuat film berbasis novel laris, dan kebetulan cukup berhasil,” jelas Ody.

Sutradara sinetron Tujuh Manusia Harimau, Karsono Hadi justru menegaskan, bahwa karya sinetron atau film berbasis novel larislah yang memiliki peluang diminati penonton. Dia menyebutkan beberapa syarat novel agar diterima menjadi film.

“Syarat novel untuk bisa menjadi film harus best seller. Kemudian, dia juga segmented kepada siapa atau universal untuk dinikmati secara umum. Jadi, perlu seorang penulis novel membidik pasarnya dari awal,” kata Karsono yang menyutradarai sinetron TMH lebih dari 500 episode.

Sementara Endik Koeswoyo mengakui pernah membuat dua film, yang diangkat dari novelnya. “Kedua film yang saya buat itu gagal karena novelnya memang tidak mencapai 100 ribu pembaca,” ujarnya.

Mengomentari beberapa pendapat tersebut, penulis novel Ababil Dan Tiga Kitab Iblis, Irfan Wijaya menyatakan harapannya. 

“Ini novel pertama saya, jadi saya belum menemukan pola bagaimana menulis buku laris. Tapi saya berharap novel ini diminati masyarakat, karena kisahnya unik,” kata mantan fotographer sebuah majalah berita di Jakarta itu.

Novel Ababil Dan Tiga Kitab Iblis mengisahkan pergulatan jiwa seorang jurnalis. Novel dibuka bab prolog; Namaku Bintang, usiaku tiga puluh dua tahun. Aku adalah seorang wartawan. Ancaman kematian selalu setia menguntit kemanapun aku pergi. Membaca novel ini terasa seperti membaca laporan jurnalistik dengan sentuhan sastra. Mengalir, lancar, terkadang penuh kejutan.

"Saya masih akan bicarakan lagi dengan Irfan untuk membahas peluang novel ini menjadi film. Saya rasa novel ini cukup menarik," kata Ody Mulya tentang rencananya memfilmkan novel tersebut. 

Dalam kesempatan tersebut, Radhar Panca Dahana melihat fenomena secara umum kebudayaan di Indonesia yang sedang dilanda tsunami kultural. "Kita berada pada dunia yang tidak lagi universal tapi multiversal, dimana orientasi lebih dilandasi kegelisahan pribadi-pribadi," katanya.

Dia pun mengungkap data penulisan buku kumpulan cerpen di media Kompas, yang menurutnya 85% isi buku adalah seputar mistis. "Tidak hanya sastra dan juga kesenian lainnya juga mengalami mistisisme fiksional, termasuk dalam perfilman kita," ungkap Radhar. (imam)

Read 4352 times
Rate this item
(1 Vote)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru