Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Film “Mencari Hilal” diperbincangkan lagi. Film garapan sutradara Ismail Basbeth tersebut maju ke kompetisi Tokyo International Film Festival (TIFF) untuk katagori Asian Future pada Oktober ini.

Di atas kertas, film bersama MVP Pictures, Mizan Production, Argi Film, DapurFilm, dan Denny JA Studio ini cukup menjanjikan secara komersil. Namun, hingga akhir masa tayangnya di bioskop Agustus lalu, Mencari Hilal hanya meraih 12.000 penonton.

Menurut Hanung Bramantyo meski tak laku di pasar komersil, Mencari Hilal telah menemukan tempatnya. “Film ini lebih layak berada di festival film internasional,” katanya di MVP Tower, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2015).

Hanung menuturkan proses kerjasama hingga film tersebut tayang, termasuk apa yang kini ditemukan oleh Mencari Hilal. Berikut ini pernyataan pemilik DapurFilm tersebut:

Ketika pertama kali DapurFilm dihubungi Argi Film untuk membaca 4 skenario film yang siap diproduksi, saya langsung tertarik karena keempat scenario tersebut memiliki pesan yang kuat tentang toleransi dan semangat cinta kasih dalam Islam. Keempat skenario itu Wahyu Bola, Ayat-Ayat Adinda, Keluarga Rais, dan Mencari Hilal.

Keempat skenario itu akan menjadi film yang mewakili Gerakan Islam Cinta yang digagas oleh Haidar Bagir dari Mizan grup. Pada perkembangannya keempat skenario film disambut baik oleh gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi yang digagas oleh Denny JA dan disambut baik juga oleh MVP Pictures yang dikenal cukup banyak melahirkan karya-karya bermutu. 

Ketiga pilar tersebut bersinergi dengan DapurFilm dan Argi Film untuk memproduksi 2 film pertama berjudul Mencari Hilal dan Ayat-Ayat Adinda.

 

Gagal meraih penonton

Setelah rilis di bioskop, kedua film ini gagal memperoleh jumlah penonton yang ditargetkan. Dengan biaya produksi Rp3 Miliar berikut promosi, kami mentagetkan masing-masing film memperoleh setidaknya 250 ribu penonton. 

Sayangnya jumlah yang diperoleh jauh dari harapan. Ayat-Ayat Adinda hanya memperoleh 30.000 penonton. Sedangkan Mencari Hilal lebih sedikit lagi, yaitu 12.000 penonton.

Namun, upaya untuk mensosialisasikan gagasan film ini tidak hanya berhenti di bioskop saja. Melalui Hide Project Film yang dimotori Ismail Basbeth, Suryo dan Cornelio Sunny, film Mencari Hilal didaftarkan ke tiga festival dunia, Busan International Film Festival, Singapore, dan Tokyo International Film Festival (TIFF). Alhamdulillah, TIFF memberi respon positif dan meletakkan Mencari Hilal pada kompetisi Asian Future.

Adapun Ayat-Ayat Adinda sampai hari ini masih belum ada rencana untuk diikutkan festival manapun, mengingat tema ceritanya segmented. Terbesit keinginan saya untuk melakukan editing ulang, sayangnya belum terlaksana sampai hari ini mengingat kesibukan saya mempersiapkan film-film berikutnya.

Film Mencari Hilal sejak awal ketika saya membaca skenarionya, sudah memiliki karakter berbeda dengan 3 film lainnya, termasuk Ayat-Ayat Adinda. Film Mencari Hilal adalah jenis yang tidak meledak-ledak, bersahaja dan mengajak penonton untuk merenung. 

 

Film mencari sendiri sutradaranya

Karena karakternya, film tersebut seperti memilih sendiri siapa sutradaranya. Pertemuan saya dengan Ismail Basbeth, pada awalnya ketika saya menjadi juri di Jogja Asian Film Festival di Jogjakarta.

Saya ceritakan rencana membuat 4 film dan saya meminta Ismail menjadi salah satu sutradaranya. Dia tertarik dan seperti dugaan saya,  Ismail memilih Mencari Hilal sebagai film keduanya setelah keberhasilannya di film pertama berjudul Another Trip to The Moon

Saya sadar betul pilihan saya. Begitupun Ismailjuga sadar atas pilihannya. Maka dari itu, saya tidak memaksa Ismail untuk membuat film dengan pendekatan estetik komersil film-film box office Indonesia sebagaimana yang pernah saya bikin sebelumnya.

Sikap saya didasari pemahaman saya atas filmnya dan karakter Ismail sendiri. Mencari Hilal juga Ismail, bukan mahluk superior yang sedang mencari korban untuk dilahap. Mencari Hilal, adalah puisi. Dia hidup karena penonton dilibatkan secara setara. Mirip dengan karakter Ismail sehari-hari.

Ismail baik dalam sehari-hari maupun dalam film-filmnya, tak berupaya sedang meninabobokkan penonton dengan segala hingar binger plot dan pengadeganan. Sebaliknya, Ismail mengajak penonton untuk sadar terlibat. 

Berbeda dengan saya di Ayat-Ayat Cinta atau Surga Yang Tak Dirindukan yang mencoba menjadi mahluk inferior yang membuat terlena penonton dengan air mata, mirip seorang bocah ketika didongengkan oleh ibunya.

Sayangnya penonton kebanyakan lebih suka untuk didongengkan dibandingkan diajak merenung. Karenanya film Mencari Hilal gagal di pasar komersil tapi menuai review-review positif di berbagai media nasional.

Pada awalnya saya merasa tidak percaya diri melihat respon penonton di bioskop yang dingin terhadap  filmnya. Tapi, Ismail selalu optimis. Katanya: “Sepuluh ribu penonton buatku luar biasa. Karena biasanya film-filmku ditonton paling banyak hanya 600 orang.”

Sekarang, Mencari Hilal memperoleh tempat yang pas di Tokyo International Film Festival bersama puluhan film-film dari berbagai Negara seluruh dunia. 

Optimisme Ismail membuahkan hasil. Saya yang semula tidak percaya diri akhirnya meyakini bahwa film ketika dibuat dengan jujur akan mempunyai tempatnya. Saya berharap kepercayaan diri saya ini juga dirasakan oleh para produser lainnya. (imam)

 

Last modified on Saturday, 03 October 2015
Read 1375 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru