Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Sineas Lola Amaria tak beranjak dari karakter film yang dibuatnya; menyuarakan humanisme, sosial, hak asasi, dan terutama perjuangan kaum perempuan. “Karena saya perempuan,” jawab Lola Amaria ditanya tentang pilihan tema filmnya, termasuk yang sedang digarap berjudul Labuan Hati.

Menurutnya, pilihan terhadap tema-tema yang diusung itu tak membuatnya jera. Bahkan, dia emoh membuat film dengan tema persoalan laki-laki.

“Perlu riset panjang dan melelahkan, kalau saya harus bikin film tentang laki-laki. Karena satu dari 10 laki-laki saja sudah pasti berbeda,” katanya.

Dengan pendekatan perempuan, sutradara dan produser Lola Amaria Production ini tertolong ketika menemui investor filmnya. Bagaimana cara Lola Amaria menyikapi pasar film, dan membangun kepercayaan pemodal, berikut wawancaranya dengan tabloidkabarfilm.com di Jakarta, baru-baru ini:

Katanya susah bikin film, tapi kamu intens membuatnya?

Ya, saya juga sulit juga membuat film. Gak tahu ya, tapi Alhamdulillah. Orang-orang bilang, film saya susah, gak laku tapi punya ciri. Mungkin karena bicara sosial, humanisme, hak asasi, mungkin karena itu membuat saya dianggap punya karakter. 

Jadi ketika ada film yang berhubungan dengan persoalan tadi, mungkin nama Lola muncul paling atas. Jadi sekali lagi Alhamdulillah saya dapat predikat yang memang orang ingat. Jadi, ini (Labuan Hati-red) tentang perempuan tapi settingnya tidak di Jakarta.

Ini film tentang masalah perempuan dengan dirinya dan pasangannya di usia 20-30 dan 40an. Ini  realitas sehari-hari. Karena dari tiga kasus yang ada di film ini, 80 persen dari 100 persen perempuan pernah mengalaminya. 

Jadi seperti remind apa sih masalahnya, harus bagaimana. Kalau laki-laki bilang perempuan mahluk yang sulit ditebak, dari sisi laki-laki mungkin ada  komunikasi yang terputus. Atau perempuan selalu bertanya-tanya, perempuan selalu tidak puas, selalu ingin didengar

Tapi saya tidak bicara sisi laki-laki di sini. Hanya dari sisi perempuan karena saya perempuan, penulisnya juga perempuan (Titien Wattimena), jadi menyuarakan perempuan. Kalau penanganan atau solusinya bagaimana, saya tidak tahu. Mungkin laki-laki yang nonton akan ngasih masukan nantinya.

Tidak ada solusi setelah nonton film ini?

Yah paling nantinya ada yang punya kesan, eh gue kok kayak si Bia, kayak si Indi, atau kayak si Maria. Mungkin ada kesamaan kasus tapi kadang penyelesaianya seperti apa, hanya kita yang tahu, tidak minta pendapat orang lain dan siapapun kecuali kita sendiri. Ini film perempuan banget.

Minggu Pagi di Victoria Park, Betina, Kisah Tiga Titik dan lainnya yang saya buat, kasus perempuan juga. Artinya ada hal-hal yang dekat dengan si pembuat. Kembali ke film ini, apakah kita semua bahagia dengan pilihan yang kita ambil?

Apakah pernah mencoba bikin film dengan rasa laki-laki? 

Perlu riset panjang kayaknya hahaha.. maksudnya kasus laki-laki dari sudut pandang perempuan. Ya, kalau saya perempusn jelas . Tapi karena saya bukan laki-laki dan harus bikin film tentang laki-laki maka saya harus riset panjang tentang laki-laki. Karena satu laki pasti akan beda dengan 10 laki-laki yang lain.

Pernah mengalami persoalan dengan jumlah penonton film?

Saya juga meriset penonton film. Terkadang ada film  bagus promosinya, tapi penontonnya tidak ada. Atau ada film biasa tapi penontonnya membludak, saya tidak punya hasil riset yang serius yang saklek dan eksak tentang penonton film. 

Semua inimeraba-raba, sepeti main judi. Tapi saya membuat film semampu saya untuk yang terbaik. Strategi promosi dibuat, tim promosi bekerja, tim marketing ada, punya plan A dan B dan seterusnya. Tapi yang namaya pasar tidak bisa diduga. Bahkan, sudah melakukan role yang benar pun kadang penonton gak ada.

Harus ada yang bikin riset menyeluruh?

Waduh saya gak tahu ya. Tapi yang penting sekarang saya bikin film dan dipercaya sama yang punya uang, ya udah bikin sebaik mungkin. Artinya berusaha bertanggungjawab dengan profesi, dengan karya. Kalau filmnya rame Alhamdulilah, kalah gak rame yang penting sudah semaksimal mungkin terhadap yang ditanggungjawabkan itu.

Kalau penonton film saya sedikit, itu bukan maunya saya. Karena saya maunya penonton film dapat sebanyak-banyaknya. Karena film dibuat untuk ditonton. Tapi saya tidak tahu strateginya. Kalau ada cara lebih efektif film bisa ditonton 5 juta orang, ya tolong kasih tahu dong. Karena saya bukan orang marketing yang ngerti soal itu, perlu dibantu. Saya hanya kuat di kreatif. 

Pernah mencoba bikin film dari novel laris?

Film dari novel, biografi tokoh terkenal biasanya penontonya banyak. Kalau ide original biasanya susah. Itu butuh penyesuaiain, perkenalan, menggaet orang. Itu juga butuh biaya supaya orang datang ke bioskop. Tidak murah. Saya tidak mencoba film berbasis novel laris, karena masih banyak tabungan ide original. Hehehe.

Dengan pengalaman selama ini, bagaimana cara meyakinkan pemodal?

Saya selalu bilang terus terang dan bertanggungjawab untuk karya, saya akan pilih cerita dan tim sebaik mungkin. Yang pasti mereka tahulah kredibilitas saya sebelumnya. 

Tapi kalau ditanya uang yang akan balik tahu atau tidak, atau misalnya filmya laku atau tidak, saya tidak mau dibebani. Syukur Alhamdulillah kalau saya bisa kembalikan uang, bisa menambah keuntungan investor yang terlibat. Tapi saya tidak mau jadikan itu beban, janji muluk, misalnya “tenang kita akan dapat sekian juta penonton”, saya tidak mau. Lebih baik realistis.

Film Labuan Hati disutradarai sendiri oleh Lola Amaria, pengambilan gambar pertama dilakukan 26 Agustus lalu di Labuan Bajo. Empat pemain dihadirkan yakni Ramon Y Tungka, Nadine Chandrawinata, Kelly Tandiono, dan Ully Triana. (imam)

 

Last modified on Friday, 26 August 2016
Read 1818 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru