Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Tahun 2017 nanti, artis Sha Ine Febriyanti (40) akan membuat film layar lebar pertamanya setelah malang-melintang di dunia model, film indie dan dokumenter, juga teater.

“Rencananya, bulan April 2017 nanti saya akan syuting film panjang. Ini film panjang saya yang pertama,” kata Ine dijumpai usai diskusi "Indonesia Tanah Air Kita" di Plaza FX, Senayan, Jakarta, Senin (14/11/2016).

Namun, pemeran Nay di film dengan judul yang sama itu, belum bersedia menjelaskan tema dan judul film yang akan digarap. Dia sudah mulai membuat film dokumenter terlebih dulu. Lho, apa hubungannya?

“Dokumenter kan satu wilayah dengan film, dan ini akan menjadi bahan riset,” ujar artis Pemeran Utama Wanita Terpuji pada Festival Film Bandung 2016 lewat film Nay. 

Beberapa tahun terakhir, perempuan kelahiran Semarang, 18 Februari 1976 ini memang lebih mudah ditemui di lingkungan teater dibandingkan film. Soal ekspresi seninya di teater, Ine memahami ketika dirinya ditanya mengapa mau menggeluti bidang yang tidak populer dan tidak komersial itu. 

“Mungkin ada yang nge-goblok-goblokin saya kenapa berteater, yang gak ada duitnya tetapi lebih banyak capeknya. Tapi, saya berteater tanpa pretensi, misalnya supaya dianggap idealis dan hebat, bukan begitu. Teater adalah kebutuhan saya, yang membuat saya selalu ingin balik,” jelasnya.

Menurutnya, ada yang membedakan antara teater dan film, terutama pada proyeksi dan ruang yang disiapkan. 

“Kalau kata WS Rendra, film itu lebih subtil daripada teater. Tapi menurut saya, keduanya punya tantangan masing-masing,” kata Ine yang mengawali karir sebagai model dan main sinetron ini.

Beberapa kali mementaskan karya monolog, termasuk saat membca sajak Nyanyian Angsa karya WS Rendra pada peringatan 7 tahun wafatnya sang maestro di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Agustus silam.

Dari sekian banyak pementasan teater, Ine merasa Opera Primadona (2000) yang membawa perubahan besar baginya. 

“Menjadi Miss Kejora di Opera Primadona, saya harus bsrganti kostum 20 kali. Dari sini saya belajar tentang efisiensi dan manajerial. Dulu saya takut main monolog, sekarang saya merindukan peran dari repertoar-repertoar yang realis,” ungkap Ine tentang opera yang disutradarai Nano Riantiarno itu.

Keterlibatannya yang intens dalam berteater bermula ketika dia pulang dari Busan, Korea. Saat itu Ine menerima beasiswa program Asean Film Academy di tahun 2012. 

“Bukannya saya memilih, tapi kesempatan berteater justru lebih banyak ketika saya pulang dari belajar film di Busan. Dan pentas teater yang saya terima keren-keren, membawa saya ke Perancis, dan sebagainya,” kata ibu tiga anak ini.

 

Rindu kedamaian beragama

Dalam acara diskusi yang digagas oleh Forum Komunikasi Indonesia hari itu, Ine menjadi narasumber bersama dr Tompi, anggota DPR Budiman Sujatmiko, dan pengamat ekonomi Faisal Basri. Diskusi dimoderatori oleh Irine Gayatri peneliti LIPI.

Secara umum, pembahasan diskusi fokus pada persoalan toleransi, keberagamaan dan persatuan, yang pada pekan-pekan terakhir cukup mengkhawatirkan. Terutama dengan terjadinya polarisasi kepentingan dari Aksi Damai 4 November yang lalu.

"Waktu saya tinggal di Batu, Malang kakek saya seorang wedana (lurah) yang rajin mengumpulkan warga dari berbagai agama seperti Hindu, Kristen, Islam, dan lainnya. Setiap pekan, mereka membahas apa saja, terutama persoalan lingkungan," kenang Ine.

Suasana itu, menurut Ine memperlihatkan konsep toleransi yang dibangun masyarakat desa, menyejukkan dan mendamaikan.

Ine juga membacakan sebuah artikel yang menjelaskan, cara beribadah orang Islam di sebuah kampung di Magelang.

"Ada penganut Islam Muhammadiyah, Nahdliyin, dan Salaf yang rukun menjalankan dibadah dengan kesederhanaannya. Saya merindukan suasana beragama seperti di artikel ini," kata Ine. (imam)

Last modified on Sunday, 18 December 2016
Read 615 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru