Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) kini dipimpin oleh Febryan Adhitya, yang nyaris luput dari perhatian masyarakat film. Dia mencatat sejarah perfilman sebagai ketua umum di dua organisasi bersejarah. Pria kelahiran Bone, Sulawesi 2 Februari 1972 ini menang suara saat Parfi menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Jakarta, Minggu (12/3/2017).

Bagaimana proses pemilihan dan latar belakang digelarnya KLB, dan apa saja program Febryan Adhitya sebagai Ketua Umum Parfi periode 2017-2022, berikut wawancara tabloidkabarfilm.com dengan pemilik lelaki bertubuh gempal pemilik rumah produksi WCN Production, di Pasar Festival sehari setelah KLB:

Bagaimana Anda bisa menjadi Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia?

Saya diundang sebagai anggota Parfi oleh panitia KLB Parfi untuk ikut memilih Ketua Umum Parfi yang baru. Tidak terlintas saya mau jadi calon Ketua Parfi, karena sudah ada dua calon resmi yaitu Sandy Nayoan dan Kanjeng Norman.

Tapi, di saat KLB Sandy Nayoan mengundurkan diri. Lalu, pimpinan sidang minta pendapat floor apakah pemilihan dilanjutkan dengan satu calon atau perlu ditambah? Maka, muncul nama Boy Tirayoh dan saya berdasarkan permintaan peserta KLB.

Ketika pemilihan berlangsung, saya mendapatkan suara terbanyak. Jadi, proses saya menjadi ketua umum PB Parfi ini cukup sederhana dan demokratis.

 

*** 

KLB  Parfi diselenggarakan panitia berdasarkan masukan dari Dewan Pertimbangan Organisasi Parfi diketuai Aspar Paturusi, yang menyikapi perkembangan organisasi pasca Kongres Ke-15 Parfi di Lombok pada Agustus 2016.

Kongres Lombok memenangkan Gatot Brajamusti untuk melanjutkan periode kepemimpinan. Namun,  statusnya sebagai ketua umum dianulir oleh Ketua DPO karena aktor dan produser film Azrax itu berurusan dengan polisi pada kasus kepemilikan narkotika di arena kongres.

Andryega da Silva sebagai satu-satunya kandidat Ketua Umum di kongres Lombok langsung diangkat sebagai Ketua Umum Parfi oleh Ketua DPO Parfi Aspar Paturusi.

Kepemimpinan Andryega tidak merubah kondisi Parfi, bahkan lebih terpuruk. Seringnya Andryega mangkir dan dan punya masalah pribadi, Ketua DPO kemudian mencopot jabatannya, diganti oleh Wieke Widowati yang saat itu Wakil Ketua Umum.

Namun, kepemimpinan Wieke tidak sampai sebulan. DPO mencopot jabatan artis era tahun 1980an tersebut karena tidak bisa menjalankan organisasi. Langkah penyelamatan organisasi Parfi dilakukan oleh DPO dan Dewan Kehormatan Parfi dengan menggelar Kongres Luar Biasa.

***

Sebagai Ketua organisasi Karyawan Film dan Televisi mengapa Anda bersedia dicalonkan jadi Ketum Parfi?

Saya ditanya oleh pimpinan sidang KB, apakah siap dicalonkan, saya jawab jika anggota yang meminta maka bismillah, saya siap. Saya juga sempat kordinasi ke DPO KFT, apakah boleh saya maju sebagai calon Ketum Parfi? Dan tidak ada masalah dari DPO KFT (diketuai Adityawarman Ginting), begitu juga tidak ada masalah dari DPO Parfi. Maka saya ikut pencalonan tersebut.

Tetapi tugas Anda sebagai Ketum KFT tidak kalah beratnya dengan di Parfi?

Sejak dari Kongres di Mataram, Lombok mereka yang berjuang  sudah sharing dengan saya. Bagaimana seharusnya manajemen organisasi ini berjalan. Saya punya sistem yang berbeda antara Parfi dengan di KFT. Mungkin permasalahan di KFT tidak jauh berbeda dengan Parfi.

Apa masalah terberat di Parfi menurut Anda? 

Sebenarnya tidak ada persoalan besar di Parfi. Bahkan ada yang bilang Parfi terpecah-belah dan sebagainya. Karena teman-teman tidak mengharapkan kondisi seperti ini. Persoalan Parfi lebih kepada masalah komunikasi saja. Bahkan, ketika muncul Parfi 56 sebenarnya teman-teman tidak berharap muncul hal seperti itu, jika ada manajemen yang solid. Untuk membenani Parfi butuh tim solid dan loyal pada organisasi.

Anda terpilih karena dianggap kuat secara finansial?

Maaf, organisasi jangan kita ukur dengan uang. Contohnya KFT tidak punya uang tapi pengurusnya solid dan mampu mengelola manajemen dengan bagus. Insya allah bisa berjalanan seperti saat ini. Ketumnya sih, gak punya duit. Jadi, sekali lagi jangan mengukur organisasi dengan uang. Cobalah bikin program dan sistem, insya allah bisa berjalan.

Apa yang Anda harapkan dari Parfi?

Saya hadir di Parfi  karena terpanggil sebagai anggota untuk duduk bersama-sama mencari solusi. Saya tidak mencari nama juga bukan minta dipuji. Hanya ingin duduk bersama para senior dan membenahi manajemen Parfi.

Dulu, kongres Parfi identik keras. Friksinya sampai fisik karena ada banyak faksi-faksi. Apakah sudah terbayang situasi ini?

Saya sudah mendengar hal itu sebelum jadi anggota Parfi. Saya justru bangga dengan KLB kemarin yang aman dan demokratis. Saya merinding dibuatnya. Teman-teman saling bepelukan, dan memberi selamat. Dengan kejadian itu, saya tidak harus bangga tapi beban yang mendorong saya untuk hati-hati dalam melangkah untuk Parfi. Butuh pola khusus untuk mengembalikan marwah Parfi, dan itu tidak semudah membalikkan tangan,

Bagaimana menjalankan program Parfi dan KFT di sisi lain?

Saya sudah siapkan program yang sejalan antara KFT dengan Parfi. Bagaimanapun, Ketum harus membuat program dan sistem. Saya di KFT punya ketua harian, dan saya harus ada di tengah-tengah. KFT dan Parfi adalah satu buat saya.

Ada yang bilang Parfi sudah mati, seperti museum?

Insya Allah Parfi akan muncul lagi. Antara Ketum, pengurus dan anggota akan kembali menyatu duduk bersama membangun program Parfi ke depan. Jadi, tidak ada istilah Parfi 56 dan Saladin, tapi hanya ada satu Parfi. Saya hanya ingin menyelamatkan nama Parfi, bukan membuat kubu.

Siapa calon pengurus Parfi nanti?

Akan ada perubahan kengurusan, tidak perlu nama besar tapi mereka yang loyal dan mampu menjalankan organisasi. Rapat pertama hari ini, saya bersyukur dapat mendengar masukan dari para senior. Saya sampaikan pada semua anggota, butuh waktu sebulan atau minimal 10 hari untuk membenahi kepengurusan. Saya ingin kembalikan Parfi sebagai rumahnya artis. 

Kalau ada yang tanya, siapa Febryan Adhitya?

Siapa Febryan? Bukan siapa siapa. Saya hanya ingin mengabdikan diri sebagai seniman, dan orang film. (imam)

 

FEBRYAN ADHITYA 

Tempat/ tgl lahir: Bone, 2 Februari 1072

Pendidikan: Strata 2

 

Organisasi

Ketua Dewan Penasehat Serikat Pers Republik Indonesia

Ketua Dewan Pembina Badan Pembinaan Seni Tradisional dan Modern Indonesia

 Ketua Dewan Pembina Pemuda Teguh Indonesia Raya ( PETIR )

Dewan Pembina Persaudaraan Muslim Indonesia

Ketua Karyawan Film dan Televisi (KFT)

Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI)

 

Pengalaman Kerja

Pimpinan Umum Majalah Duta wisata

Ketua Yayasan Widia Citra Nusantara

Direktur Utama PT. Widia Citra Nusantara Mineral

Direktu Utama PT. Widia Citra Nusantara Production

Produser WCN Production ( Production House )

 

Sinetron: Dendam Surti, Sadera Cinta, Gaung Hijau, Tatkala Purnama Bersaksi, Jaka Tingkir 

FTV: Beri Aku Kesempatan, Cinta Pertamaku di Pattimpa, Marenda Cinta, Seribu Cinta Buat Ayuni, Beri Aku Harapan, Misteri Sepasang Sepatu, Lafas Cinta, Hati Kecil Penuh Janji, Syahadat Cinta, Jadikan Aku Simpanan. ***

Last modified on Monday, 27 March 2017
Read 905 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru