Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Pesinetron Yanti Yaseer akhirnya menikah dengan pengacara Edy Triyono Sumartadi SH MH. Keduanya sama berstatus ‘sendiri’. Yanti janda dengan empat anak, sementara Edy Triyono adalah duda dengan tiga orang anak.

“Pernikahan kami berlangsung baru sebulan di Kalimantan, rumah mas Edy,” kata Yanti yang didampingi Edy Triyono ketika dijumpai tabloidkabarfilm.com di kediaman mereka di kawasan Bogor Utara, Jawa Barat, Sabtu (8/4/2017)

Keduanya kerap bertemu di saat menangani kasus yang dialami oleh Bripda Muthia, anak kandung Yanti Yaseer. Pertemuan demi pertemuan antara Yanti dan Edy Triono akhirnya melahirkan perasaan suka antara keduanya.

Kedewasaan sikap dan kelembutan Edy Triyono terhadap Yanti ternyata meluluhkan hati Yanti, walau awalnya Yanti melihat pengacara asal Samarinda, Kalimantan Selatan itu sebagai musuh.

“Walau pun saya marah seperti apa, Mas Edy menghadapinya dengan tenang. Dia tidak pernah menunjukkan reaksi yang sama dengan kemarahan saya. Kalau saya marah dia malah mengingatkan saya untuk istighfar, menganjurkan saya shalat. Kan lama-lama saya juga malu jadinya,” tutur Yanti.

Bagi Edy sendiri sosok Yanti adalah seorang wanita yang luar biasa tegar dan gigih dalam membela anak. Sebagai lelaki yang telah mengalami kepahitan berumahtangga, Edy memang selalu iba melihat anak-anaknya tidak bisa melihat orangtuanya dalam keadaan utuh berkumpul. Melihat sosok Yanti yang begitu mati-matian membela anak, Edy jadi simpati.

“Orang yang membela anak berarti dia sayang anak. Orang yang sayang anak berarti dia orang yang baik. Wanita seperti inilah yang saya harapkan bisa mendampingi saya,” kata Edy Triyono yang juga seorang penguaha anggota KADIN.

Dalam satu kesempatan, Edy mengutarakan maksudnya kepada Yanti, dan mendapat respon yang baik. Tetapi karena masing-masing memiliki anak, keduanya menegaskan harus ada persetujuan dari setiap anak untuk “merestui” hubungan mereka.

Keduanya lalu menyampaikan maksud mereka kepada semua anak-anak mereka, dan setuju dengan keinginan orangtua mereka. Di hadapan keluarga besar Edy di Kalimantan, keduanya menikah dan akan dilanjutkan dengan acara untuk mengundang orang-orang terdekat maupun kolega, dalam waktu dekat ini.

Mengusulkan berdamai
Edy Triyono adalah pengacara yang pertamakali mengusulkan agar kasus penganiyaan Bripda Muthia oleh atasannya, AKBP Bbg diselesaikan dengan cara kekeluargaan. “Saya lebih suka menangani kasus tanpa harus sampai ke pengadilan, jika lewat mediasi dapat dilakukan,” kata Edy Triyono.

Konsep mediasi seperti ini pula, yang dia sampaikan pada Yanti Yaseer, yang merupakan ibu dari Bripda Muthia dalam kasus penganiyaan yang dilakukan oleh atasan sang anak di kepolisian.

“Dalam hati kecil memang tidak rela. Kok enak aja orang yang menganiaya anak kita dibiarkan begitu aja. Tapi Mas Edy memberi pengertian begitu dalam, bahwa memaafkan itu lebih baik daripada menyimpan dendam. Apalagi Muthia sedang sakit, dia butuh ketenangan. Buat saya kesehataan anak jauh lebih penting dari apapun,” kata Yanti dengan suaranya tersendat menahan haru.

Tidak ada kompensasi yang dituntut oleh Edy maupun Yanti dari AKBP Bbg, hal tersebut demi ikut meringankan beban sakit yang diderita oleh Muthia.

“Muthia juga sudah jadi anak saya, sama seperti anak-anak saya yang lain. Dan saya harus bertanggungjawab. Saya tahu, dia (AKBP Bbg-red) juga sudah menderita akibat perbuatannya, pengajuan kenaikan pangkatanya tiga kali ditolak oleh Mabes Polri. Tetapi saya bilang sama dia, di mana letak tanggung jawabmu, tunjukkan. Akhirnya dia mau menunjukkan simpatinya,” papar Edy.

Muthia sendiri menurutnya bersedia memaafkan AKBP Bbg. Dia tidak ingin menyimpan akar pahit di dalam hatinya. Edy lalu datang ke Mabes Polri untuk mengurus SP3 bagi perkara penganiayaan yang dialami anaknya. Semua sudah selesai.

“Penyidik yang menangani bingung, Pak Gion (RM Bagiono, pengacara Muthia) juga bingung. Kok bisa begini? Saya bilang bisa. Kuncinya adalah keikhlasan. Semua yang kita alami sudah ada dalam rencana Allah, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita akan marah terus, dendam terus, atau memaafkan dengan iklhas. Saya memilih yang terakhir,” kata Edy Triyono. (imam)

Last modified on Tuesday, 11 April 2017
Read 1244 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru