Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Sejak menyutradarai film pertamanya, "Lari dari Blora" tahun 2007, Akhlis Suryapati (54) menghilang dari tataedar perfilman nasional. Piye kabare?

Sejatinya, wartawan yang juga penulis dan pernah membuat album rekaman lagu reliji berjudul Menyorong Rembulan ini tidak benar-benar menghilang.

Selain bekerja menonton film setiap hari ketika menjadi anggota Lembaga Sensor Film (LSF) periode 2008-2014, Akhlis juga memimpin organisasi Sekretariat Nasional Kine Klub Seluruh Indonesia (Senakki) sampai hari ini.

Dia juga tergabung di Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI) sebagai pengurus dan menjadi "dosen terbang" salah satu lembaga pertahanan dan keamanan RI. 

Jadi, sebenarnya seniman kelahiran Pati, Jawa Tengah, 3 Januari 1963 itu tidak pernah hilang dari peredaran.

Kini, Akhlis sudah memulai syuting film terbaru, yang skenarionya dia tulis sendiri berjudul Enak Tho Zamanku, Piye Kabare?

"Film ini sangat berbeda dibandingkan film Lari Dari Blora. Ini lebih enerjik dan keras," kata Akhlis dijumpai di lokasi syuting film Enak Tho Zamanku, Piye Kabare? di Desa Losarang, Indramayu, Jawa Tengah, Senin (14/8/2017).

Selain menulis skenario dan menyutradarai film tersebut, melalui rumah produksi Kreativa Art miliknya, Akhlis menaruh saham produksi bersama PT Midessa Pictures milik Sonny Pudjisasono.

Dari judulnya, film Enak Tho Zamanku, Piye Kabare? sangat menarik perhatian. Lantaran frasa itu sangat identik dengan sosok pimpinan Orde Baru, Soeharto dimana gambar "meme" tokoh tersebut ditampilkan melambaikan tangan. Biasanya meme ini ditempel orang di belakang bak truk.

Tak pelak, ada yang menganggap film tersebut  sebagai film pesanan keluarga Cendana, dan bercerita khusus tentang Soeharto. 

Tentang kecurigaan itu, Akhlis membantah dan mengatakan, adalah hak setiap orang memberi interpretasi terhadap filmnya.

"Silakan saja kalau ada yang beranggapan begitu, siapa tahu benar-benar kejadian film ini dibiayai oleh Cendana. Tapi, sejauh ini hanya kami berdua yang keluar biaya," kata Akhlis.

Bahwa filmnya menimbulkan penafsiran, hal itu diakui Akhlis. Bahkan, para pemain filmnya pun berbeda dalam menafsirkan cerita dalam skenario.

"Sengaja setiap pemain yang sudah baca skenario saya tanya, apa yang mereka tangkap dari cerita film? Mereka menjawabnya berbeda-beda," ungkapnya.

Lebih lanjut Akhlis mengatakan filmnya sengaja dibuat agar muncul multitafsir dari penonton.

"Konsep film yang saya buat ini drama satir multitafsir. Tanpa setting waktu dan tempat khusus, artinya setiap pemain akan berdialog dengan logatnya masing-masing. Tetapi, cerita tetap aktual pada fenomena sosial di masa lalu sampai sekarang," jelasnya.

Menurut Akhlis, konsep filmnya termasuk baru dan sangat berpeluang jadi film yang komersial.

"Film ini menyajikan drama, komedi satir dan action. Penonton akan dapat hiburan berbeda dari yang selama ini mereka lihat," jelas Akhlis.

Berdasar pengalaman membuat film Lari Dari Blora, yang menghadirkan WS Rendra, Tina Astari, dan Soultan Saldin, di film kali ini, Akhlis lebih punya waktu untuk fokus.

"Lari Dari Blora sangat menguras enerji, fisik dan psikis. Hampir semuanya aku pikirin sendiri, sampai tidak terkontrol lagi," kata Akhlis seakan mengevaluasi karyanya itu.

Film Lari Dari Blora diperanutamakan WS Rendra, sosok yang sulit diajak main film sejak terakhir tampil di beberapa film Yang Muda Yang Bercinta, Al Kautsar, dan Terminal Cinta (1977).

Di tangan Akhlis ketika membuat Lari Dari Blora (LDB), penyair berjuluk "Si Burung Merak" itu luluh untuk memerankan pimpinan adat warga Samin.

Adapun kesamaan antara film LDB dengan ETZPK? adalah keduanya dapat kesempatan menggunakan kamera terbaru.

"Lari Dari Blora waktu itu memakai kamera jenis RedCam, yang masih sangat baru di film. Kebetulan, untuk film kali ini aku pakai kamera jenis Red Dragon, yang juga baru saat ini," jelasnya.

Seluruh adegan film mengambil lokasi di kawasan Indramayu dan sekitarnya, termasuk di RS Bhayangkara dan Hotel Flamingo.

"Film ini sebenarnya bisa dibuat di kota mana saja, tetapi di Indramayu ini pilihan agar efektif dan tidak boros budget. Kalau di Jakarta, meskipun dekat, biayanya jauh lebih mahal," kata Akhlis.

Pada malam di hari pertama syuting itu, tim produksi kedatangan tamu mantan Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdijanto, yang sekaligus melakukan potong tumpeng tanda dimulainya produksi film Enak Tho Zamanku, Piye Kabare? (imam)

Last modified on Monday, 04 September 2017
Read 1209 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru