Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

"Naik haji itu harus punya modal, tidak bisa modal dengkul. Tau kau?!" Begitu salah satu cuplikan dialog film "Haji Asrama" (HAS) yang diperankan oleh Eddy Siswanto yang kini dalam proses pra-produksi.

Eddy Siswanto adalah aktivis teater di Sumatera Utara. Kini, ayah empat puteri dan seorang putra ini mulai merambah di perfilman lokal dan prestasinya cukup diperhitungkan.

Diawali ketika menjadi produser film pendek Cinta Sebatas Jemuran (Juara I Pekan Kreatif Nasional – RRI, 2010), lalu sebagai casting director pada film Selalu Ada Cinta. 

"Saya ingin punya pekerjaan dan kegiatan yang masih berdekatan dengan kemampuan dan passion. Alhamdulillah, ada saja jalannya," jelas Eddy Siswanto kepada tabloidkabarfilm.com baru-baru ini di Medan.

Melalui film HAS, Eddy menambah daftar film yang diperanka hingga membuatnya kian eksis di perfilman Sumut.

Dalam setiap menerima tawaran peran, Eddy termasuk selektif, termasuk untuk film HAS

"Setelah saya pelajari, pesan di film HAS bagus, punya muatan religi dan karakter lokal yang kuat, makanya saya terima tawaran main film ini," lanjut Eddy yang kesehariannya adalah penyiar dan music director di Radio Republik Indonesia (RRI) Medan.

Ranah kesenian yang menjadi medium beraktivitas bagi pria kelahiran Langkat, 23 Februari 1968 ini amat beragam. Dia menekuni bidang sinetron, teater hingga sastra (khususnya puisi).

Sebagai seniman senior, Eddy berteater sejak sekolah SMA di tahun 1988, dan mulai merambah dunia akting sinetron dan drama televisi di salah satu stasiun televisi lokal di akhir 90-an. 

Namanya semakin berkilau sejak aktif di Teater Patria (2001-2006), dimana dia didaulat sebagai pemain dan sutradara, baik untuk pentas panggung, televisi dan Radio.

Puncak prestasi penggemar topi kangol dan kolektor cincin ini di bidang seni peran adalah ketika beberapa kali terpilih sebagai aktor terbaik.  

Bukti loyalitas Eddy di bidang organisasi dan kesenian antaranya pernah menjadi Sekretaris Seniman Indonesia Anti Narkoba, dan pendiri Komunitas Puisi Malam (PUALAM ), dan Ketua Komite Sastra di Dewan Kesenian Medan (DKM 2006–2009.

Eddy juga bekerja sebagai pengisi suara iklan, sandiwara radio, film dokumenter, juri di berbagai lomba baca puisi, teater dan film, serta instruktur di Bengkel Sastra Balai Bahasa  Medan.

Beberapa sinetron dan drama televisi lokal ia bintangi antaranya Sepiring Rujak Buat Sonya, Istri Yang Dilumpuhkan, Sesal, Penunggu Rumah, dan Opera Batak Millenium.

Selama tiga dasawarsa, puluhan pentas  teater dilakoni Eddy Siswanto antaranya Sang Pangeran (Taman Budaya Medan 1988), Egon (TBM, 1990), Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (1992) Monolog BOS (1999) Domba-Domba Revolusi (TBM, 2001) dan Wicah Duh Wicah (TVRI Medan, 2001).

Selanjutnya, pentas teater Pengembara Dari Sorga (TBM 2002) Marfuah (TBM, 2003) Jodoh (TBM, 2004) Monolog Tragedi Seikat Embacang (Taman Budaya Palu-2005).

Pergelaran lainnya adalah pementasan Kolosal Pilkada Damai di Lapangan Merdeka Medan (2008) Parodi Tragedi Cinta Manok Huru-Hara (Garuda Plaza Hotel 2009) Detektif Danga-Danga (Pentas 5 Kota di Sumut, 2009). (jufri)

 

Last modified on Sunday, 24 September 2017
Read 161 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru